Selasa, 07 Juni 2022

Bacabaca 61: PODCASE oleh Lia Nurida

Judul: PODCASE 
Penulis: Lia Nurida 
Tahun Terbit: 2022 
Penerbit: Bentang Belia 
Tebal: 306 halaman 
ISBN: 9786024307240

“Tolong ....”

Suara rintihan yang terdengar di podcast misteri Podcase milik Briska viral! Ada teori bahwa itu suara Sofia, seorang siswa yang tewas di SMA Lentera Victoria dan konon bergentayangan di kawasan sekolah. Namun, banyak juga yang bilang itu hanya setting-an demi mengejar popularitas. Warganet menuntut pengakuan Briska.

Berlin, gadis cupu yang bersembunyi di balik nama siar Briska, ketakutan! Dia nggak ada nyali untuk mengungkap identitas karena isu trauma masa lalu. Namun, karena semakin tertekan, Berlin akhirnya meminta bantuan Kairo, cowok indigo di sekolah yang bisa berkomunikasi dengan arwah. Mereka berusaha mengungkap suara misteri itu.

Akan tetapi, Berlin dan Kairo nggak menyadari hal besar yang menanti mereka. Sebuah kasus mengerikan yang rasanya tak mampu dihadapi oleh dua orang murid SMA. Sanggupkah mereka menuntaskannya? 


***

Baru sempat ngepos ulasan ini, padahal sudah baca dari lama.

Gue salah satu pembaca Podcase sejak dari Wattpad beliawritingmarathon niiih. Ngikutin juga update promosinya di IG @podcasethenovel karena asyik aja ngikutin side story di sana dan gimmick-gimmicknya wkwk.

Dan memang versi bukunya ini udah lebih rapi daripada yang di Wattpad. Gue juga suka dengan tambahan ilustrasi dari interaksi para tokoh.

Ada banyak nilai plus dari novel remaja ini, yang agak berbeda karena mencoba untuk memperkenalkan genre investigasi tipis-tipis. Meskipun begitu, masih tetap ada uwu-uwunya~

Senin, 06 Juni 2022

Bacabaca 60: Beranda Kenangan oleh Putu Felisia

Judul: Beranda Kenangan
Penulis: Putu Felisia
Tahun Terbit: 2019
Platform: Cabaca
Jumlah Bab: 24

Yasmin, Ketut, Komang, dan Arumi. 

Kami tidak pernah tahu, mana yang lebih salah? Lahir  sebagai  keturunan Tionghoa, ataukah lahir sebagai perempuan?

Kami hanya mengingat beranda itu … tempat kami berkumpul di hari raya Imlek. Bukan beranda  dalam replika upacara, atau beranda yang hancur oleh angkara murka.

Namun, kehidupan harus terus berjalan. Demikian pula tradisi yang mengekang, dan  egoisme masyarakat yang dikendalikan kepentingan politik.

Kadang kami bertanya-tanya, mengapa kami yang harus menanggung semua darah  dan air mata? Mengapa kami yang menanggung semua malu?

Apakah dunia memang hanya milik kaum pria dan pemenang?

***

Jadi, novel ini sudah dibaca sejak tahun lalu. Namun, karena mau ngepos di blog, gue bakalan mengulas novel digital ini di #sipalingbaca_ #ayubacabaca (anggap aja buku pertama di 2022 wkwkwk).

Novel ini kompleks dan gelap menurut gue. Tidak cocok dibaca semua orang, karena dapat memicu trauma tertentu. Oleh karenanya, sudah ada "trigger warning" di depan bab tertentu.

Rabu, 23 Februari 2022

Bacabaca 59: Foodie Love oleh TheEod

Judul: Foodie Love
Penulis: TheEod
Tahun Terbit: 2020
Platform: Cabaca
Jumlah Bab: 32

Ella dan Bagas adalah gambaran pasangan muda seumuran yang sama-sama mandiri dan memiliki passion yang sama, yaitu makanan. Makanan jugalah yang merekatkan mereka dalam bentuk hubungan romansa selama tiga tahun.

Pondasi hubungan yang mereka bangun selama ini mendadak oleng akibat tekanan-tekanan yang tak bisa mereka hadapi. Di tengah-tengah itu semua, Ella dan Bagas memutuskan untuk travelling bersama.

Berhasilkah mereka melewati hubungan yang sedang masuk fase stagnan?


***

Novel Foodie Love gue baca melalui aplikasi Cabaca. Meskipun sudah mudah dibaca di mana saja, entah kenapa gue baca novel ini agak lama. Berbeda dengan novel lainnya yang saat gue baca bisa sekali duduk dan cepat selesai, seperti Semangat Tante, Sasa yang ulasannya tayang di Bacabaca 58. Nah, kalau agak lama, berarti ceritanya buat gue masih ada kekurangan atau memang gue malas banget pada saat itu.

Cerita ini sendiri menggunakan sudut pandang pertama dari dua tokoh utamanya, yaitu Ella dan Bagas. Nah, POV 1 itu adalah salah satu ketidaksukaan gue dalam sebuah novel, karena jika eksekusinya kurang, maka akan jadi tidak menarik. Gue jarang baca POV 1, bahkan ketika gue sempat mencoba untuk menulis novel dengan sudut pandang ini, gue merasa kurang nyaman. Saat gue mengubahnya jadi POV3, ternyata malah menarik. Mungkin kayak gitu sih pengalaman ketidaknyamanan gue mengikuti cerita bersudut pandang orang pertama.