Kamis, 11 November 2021

Bacabaca 58: Semangat, Tante Sasa! oleh Thessalivia

Judul: Semangat, Tante Sasa!
Penulis: Thessalivia
Tahun Terbit: 2021
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 halaman, ebook
ISBN: 9786020656496

Demi apa Sasita yang seorang wanita karier tiba-tiba diminta menjaga anak kecil? Sudah cukup hidupnya disibukkan dengan pekerjaan, sekarang harus memikirkan anak kecil pula. Sasita terpaksa mengorbankan kebiasaannya bersenang-senang sampai larut malam, kadang sampai mabuk, dengan teman-teman kantornya. Belum lagi Mama yang tidak memercayai Sasita sanggup mengurus Velisa, keponakannya, anak almarhum Kak Vania.

Mama tahu kebiasaan Sasita pulang malam, hura-hura, apalagi Sasita malah dekat dengan laki-laki beristri! Sasita sama sekali bukan contoh yang baik bagi Velisa. Kalau sudah begini, apakah tugas yang terpaksa Sasita emban justru akan semakin meretakkan hubungannya dengan Mama?

Apakah Sasita sanggup memenuhi janjinya kepada Kak Vania?

***

Bagus deh ini novelnya. Gue baca sekali duduk (sekali tiduran deng, lewat Gramedia Digital pula), start jam 23.30 gitu dan kelar di jam 02.13 dini hari tadi. Cepat kan? Itu udah pakai sedih-sedih dan nangis dulu sama kompleksitas hubungan ibu dengan anak perempuannya, yang kalau kata suami gue sih, kebanyakan emang begitu. 

Semangat, Tante Sasa! menurut gue adalah novel MetroPop yang berbeda. Biasanya MetroPop kan membahas dunia wanita karir berikut problematika cintanya. Namun, yang ini agak lain. Ya, meskipun di dalamnya masih ada masalah cinta dan karir, tapi fokus utama yang diangkat bukan kedua hal tersebut.

Di novel "Semangat, Tante Sasa!", kita akan diajak mengikuti keseharian Sasita yang super sibuk. Bekerja di bagian investment banking membuat dia jarang pulang tepat waktu. Namun, kehadiran keponakannya bernama Velisa / Ve, membuat ritme kerja Sasa berubah secara perlahan.

Fokus utama novel ini berkutat di keseharian Sasita yang tadinya mengurus diri sendiri doang, sampai akhirnya harus ketambahan orang lain, lebih-lebih usianya baru 6 - 7 tahun (usia anak kelas 1 SD). Sasita yang menikah aja belum--apalagi punya anak--harus membiasakan diri untuk mengurus anak kecil. Sudut pandang cerita kayak gini, gue rasa jarang diangkat sih. Wanita karir? Ngurus anak? Jarang kan?

Makanya ini jadi salah satu nilai plus buat novel Semangat, Tante Sasa! menurut gue. Namun, kadang-kadang gue suka kesal sama tokoh Sasa. Sebenarnya kekesalan ini menurut gue ya bagus juga sih, berarti kan penulisnya membuat tokoh yang dapat dipercaya oleh pembaca, tokoh yang riil dan memang beneran ada kok orang kayak Sasa di dunia ini.

Banyak orang yang pas udah melewati quarter life crisis, terus harus melewati masa kehidupan yang semakin tua semakin banyak tuntutan. Intinya, seperti yang novel ini hendak sampaikan, hidup itu nggak ada rehatnya. Selama kita hidup, selama itu pula kita bakalan belajar banyak hal baru, termasuk saat kita menjadi ibu asuh. Menjadi orang tua bukan pekerjaan semalam kayak bangun Candi Prambanan, karena menjadi orang tua itu artinya kita bakalan belajar seumur hidup. Ini pesan yang bagus banget sih, dan karena disampaikan lewat keseharian tokoh Sasa yang bukan orang tua, kesannya jadi netral, enggak menggurui banget.

Dan gue cukup senang karena penulis tidak mengeksekusi tokoh Seno jadi orang yang menyebalkan banget. Gue pikir tokoh Seno bakal yang toxic-nya sampai maksa banget atau sampai melukai fisik, tapi untungnya enggak. Jadi, gue kasih nilai plus lagi.

Nah, kenapa ya tapi cuma bintang empat doang nih ratingnya? Gue juga nggak tahu. Mungkin karena konflik sama Mamanya itu cuma sedikit, jadinya nanggung aja. Padahal, menjelang akhir, gue sempat nangis pas baca cerita antara Sasa dan Mamanya. Huh, coba aja lebih dieksplorasi lagi, mungkin bakalan sedih banget.

Dan endingnya, aaaaaa. Gue berharap Sasa beneran dapat yang terbaik seperti kata Mamanya. Gara-gara hal ini kayaknya gue kasih bintang 4. Terlalu nanggung! XD

Semangat yaaa, Tante Sasa! :3 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar