Selasa, 07 April 2020

Bacabaca 54: Aruna & Lidahnya oleh Laksmi Pamuntjak

Judul: Aruna & Lidahnya
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Tahun Terbit: 2014
Versi Cetak Ulang: 2018 (movie edition)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 428 halaman, paperback
ISBN: 9786020308524

Aruna Rai; 35 tahun, belum menikah. Pekerjaan: Epidemiologist (Ahli Wabah), Spesialisasi: Flu Unggas. Obsesi: Makanan.

Bono; 30 tahun, terlalu sibuk untuk menikah. Pekerjaan: Chef. Spesialisasi: Nouvelle Cuisine. Obsesi: Makanan.

Nadezhda Azhari; 33 tahun, emoh menikah. Pekerjaan: Penulis. Spesialisasi: Perjalanan dan Makanan. Obsesi: Makanan.

Ketika Aruna ditugasi menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di delapan kota seputar Indonesia, ia memakai kesempatan itu untuk mencicipi kekayaan kuliner lokal bersama kedua karibnya. Dalam perjalanan mereka, makanan, politik, agama, sejarah lokal, dan realita sosial tak hanya bertautan dengan korupsi, kolusi, konspirasi, dan misinformasi seputar politik, kesehatan masyarakat, namun juga dengan cinta, pertemanan, dan kisahkisah mengharukan yang mempersatukan sekaligus merayakan perbedaan antarmanusia.

***

Ini buku ketiga dari Gramedia Digital yang saya baca di masa pandemi ini. Kebetulan novel ini juga tentang pandemi—wabah flu burung yang terjadi di Indonesia. Saya menyempatkan diri baca ini, karena saya malah sudah menonton filmnya duluan via salah satu layanan streaming film orisinil.

Nah, saya tertarik membaca novelnya karena menonton film itu. Walau ada unsur konspirasi, politik, dan juga cerita perjalanan, sebagian besar filmnya membahas tentang cinta juga. Cinta yang rumit antara Aruna dan Farish, juga Bono dan Nadezhda—Nad. Karena latar dan penokohannya ini dekat dengan dunia kerja, jadi saya malah mau mengklasifikasikan novel ini sebagai metropop, walau bukan metropop-metropop amat. Hehe. Sekadar riset dunia kerja yang lebih kompleks saja sih.

Novel ini dibuka dengan prolog dari sudut pandang orang ketiga. Lebih mirip seperti ceracau. Uniknya, prolog novel Aruna & Lidahnya tidak ada titik—setidaknya sampai prolog berakhir. Hanya ada si orang ketiga yang mencerocos panjang-lebar soal Aruna. Tidak pakai titik, tapi koma terus-terusan.


Setelah prolog selesai, barulah kita masuk ke bab 1 mengenai awal mula mengapa Aruna ditugaskan untuk menginvestigasi kasus sakit dan tewasnya beberapa orang karena dicurigai terjangkit flu unggas. Tiap bab dalam novel ini dibuka dengan cerita dari sudut pandang orang pertama, yaitu Aruna. Uniknya, hampir semua bab diawali dengan mimpi-mimpi si Aruna dalam cetak miring. Nah, setelah cerita cetak miring ini selesai, dilanjut dengan kisah Aruna di dunia nyata—bukan mimpi lagi.

Aruna yang seorang ahli wabah alias epidemiologist, ditugaskan untuk menyelidiki kasus sakitnya beberapa warga dari berbagai daerah. Mereka ini adalah suspect terjangkit virus flu unggas. Namun, karena mendapati keanehan—di mana dalam daerah-daerah itu, hanya satu-dua orang yang terjangkit—maka seorang humas dari pihak pemerintahan lah yang menyewa Aruna untuk investigasi, bukan dari kantor tempat ia menjadi konsultan. 

Selain Aruna, berangkat juga Farish, seorang dokter hewan yang bekerja di lembaga yang sama dengan Aruna. Bedanya, dia bukan kontraktor seperti Aruna, mungkin dia malah bekerja permanen. Makanya, secara nasib, keduanya sudah berbeda. Aruna yang tiap akhir kontrak harus jadi pengangguran, sementara Farish yang dari lahir hingga sekarang, mungkin posisi hidupnya lebih mudah. Selain mereka berdua, Aruna diam-diam sudah mengajak Bono dan juga Nad untuk ikut, semata-mata sebagai teman berkuliner.

Sepanjang novel, selain investigasi tentu saja yang lebih banyak muncul adalah, "Mau makan di mana?" atau "Eh, ayo kita ke warung ini, enak banget lho!" dan semua wisata kuliner yang dilakukan oleh Aruna-Bono-Nad. Farish saat itu memang hanya jadi kambing congek saja, walau akhirnya perlahan dia bisa melebur dan ngobrol dengan yang lain.

Memang ada beberapa hal yang beda dengan versi film, tapi saya tidak merasa aneh. Medium film dengan bukunya menawarkan kenikmatan yang berbeda. Di sini kita akan mendapati detail sosial yang lebih mendalam daripada di versi film. Misalnya saja, Nad dan Aruna yang akan selalu bertanya tentang apakah kuliner di kota yang mereka kunjungi itu, ada sangkut-pautnya dengan ritual budaya. Lalu, biasanya akan ada orang kota sana yang ikut menemani dan menjelaskan tentang asal budaya dari makanan yang mereka santap. Ini sesungguhnya lebih ke novel etnografis sih daripada sekadar kuliner dan cinta perawan tua bernama Aruna.

Oh ya, novel ini juga agak bernuansa feminis. Aruna yang perawan tua, kerap kali disebutkan dan dimentahkan dengan gambaran bahwa Aruna adalah perawan tua yang selalu bahagia. Dia tidak peduli kalau dianggap perawan tua, selama dia bahagia dan bebas makan suka-suka. Lalu, pas di kasus Madura juga, ada seorang janda cantik yang terindikasi sakit karena flu unggas. Pada titik ini, nilai-nilai feminisme kembali dibahas.

Namun, kenikmatan membaca novel ini agak menghilang setelah kasus mencapai Aceh. Saya mendapati kesan terburu-buru untuk menyelesaikan segalanya saat sampai di kasus Aceh. Apalagi setelah Leon—salah satu kolega Aruna yang tampan dan diam-diam ditaksirnya—kedapatan sedang memantau Aruna kalau-kalau kerjaannya tidak beres.

Apa saja yang menurut saya terlalu diburu-buru? 
1. Tentang kejelasan kasus investigasi yang dikerjakan Aruna.
2. Tentang berkurangnya makan-makan Aruna bersama kedua temannya plus Farish, karena pikirannya entah ke mana. Mungkin ke Leon?
3. Rasanya letupan rasa cinta—atau mungkin nafsu?—yang muncul antara Aruna dan Farish juga berjalan terburu-buru.

Walau beberapa kali disebutkan apakah mungkin Farish ikut investigasi itu hanya karena Aruna? Namun, hal itu tidak ditunjukkan di tengah-tengah cerita. Malah, Aruna terus-terusan cerita kalau Farish tebar pesona ke cewek lain, atau terjaring pesona cewek lain. Dari sini saya tidak mendapati apakah benar Farish itu tidak brengsek?

Tapi, toh akhirnya saya harus menyelesaikan novel setebal 428 halaman ini, untuk mendapatkan penutup dari seluruh perjalanan Aruna. Entah mengapa, tapi akhirnya kurang klimaks. Kurang memuaskan. Mungkin ini hanya soal selera, seperti selera kita pada makanan. 

Jadi, hanya empat setengah bintang yang bisa saya berikan ke novel ini. Sebenarnya empat, tapi saya tambahkan setengah untuk cerocos Nad yang jenius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar