Sabtu, 04 April 2020

Bacabaca 52: Perang Bintang oleh Dewie Sekar

Judul: Perang Bintang
Penulis: Dewie Sekar
Tahun Terbit: 2006
Versi Cetak Ulang: 2019
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 392 halaman, paperback
ISBN: 9789792220636

Wira tidak merendahkanku, tapi aku merasa direndahkan. Wira tidak mengejekku, tapi aku merasa diejek. Tatapannya... apa artinya? Memangnya kenapa kalau aku janda? Apa Wira ternyata juga manusia berpikiran dangkal, yang menganggap janda hanya perempuan kelas dua yang suka menggoda pria? Oh, aku benci sekali memikirkan itu! Aku benci membayangkan apa yang Wira pikirkan tentang aku! Yang paling celaka, aku juga membenci diriku sendiri, lantaran jadi begini kacau hanya karena memikirkan apa yang Wira pikirkan! Ya ampun... tentu saja ini tidak boleh terjadi! Daripada naksir brondong bau kencur itu, lebih baik aku makan sepatuku sendiri!
- Rezia Kartika, 30

Jatuh cinta kok sama janda... Janda cerai, lagi. Tiga tahun lebih tua, lagi. Sudah punya anak, lagi. Kayak nggak ada perempuan lainnya saja! Sudah pasti hal konyol macam ini tak boleh terjadi. Ya, kan? Bagaimana dengan reputasiku, coba? Apa kata orang nanti? Ha?! Hahaha! Sekarang aku jadi mirip Rezia: jadi ikut sok jaim memikirkan apa kata orang segala. Bah! Padahal, dari segi nama saja kami nggak jodoh kok. Kartika - Yudha... see? Kalau kami nekat menjalin hubungan, kujamin dunia akan meledak karena Perang Bintang!
- Wira Yudha Nugraha, 27

***

Waktu ambil Runaway Ran di toko buku, Perang Bintang nyempil di sampingnya. Tapi karena ada banyak pertimbangan ini itu dan juga budget, akhirnya yang ini enggak diambil.

Cuma karena sedang #WFH yang cukup lama dan toko buku di AEON BSD tutup, saya coba untuk langganan fiksi di GM Digital. Wishlist yang enggak pernah saya beli karena "mahal" (wkwkwk), saya coba baca versi digitalnya. Saya juga coba baca beberapa MetroPop yang enggak pernah saya koleksi bentuk fisiknya.

Nah, buku ini jadi MetroPop incaran yang pertama pengen saya baca lewat aplikasi. Saya sendiri menikmati cerita tentang Kartika dan Yudha, walau saya kadang-kadang sering bete sama sikap Yudha yang ih-apaan-sih-pengen-gue-tonjok. Walau bete, sikap tokoh Rezia Kartika yang sangat defensif dan cenderung menjaga dirinya dengan bawa-bawa status janda, cukup membuat saya senang. Itu artinya, tokoh di MetroPop ada juga yang enggak terlalu menghamba sama dewa cinta.


MetroPop satu ini memang beda banget, karena tokoh Rezia yang selain ibu bekerja, juga adalah seorang single mother. Apalagi dia janda bukan ditinggal mati suami, tapi karena cerai. Salah satu hal di negara kita yang masih suka dianggap buruk adalah status janda cerai. Sementara si duda cerai, tidak dianggap buruk malah cenderung dianggap biasa saja. Negara kita emang agak kurang bersahabat terhadap janda cerai, meski masyarakat tahu kalau si janda itu ditinggal karena suaminya yang salah.

Saya suka banget pembahasan tentang status janda, tidak janda, dan stereotip di masyarakat mengenai ke-janda-an ini. Seperti bukan MetroPop pada umumnya yang bergelimang eksmud dan perempuan cerdas di pekerjaan tapi bodoh soal cinta. MetroPop satu ini menggambarkan perempuan cerdas betulan, tidak bodoh-bodoh amat soal cinta, dan juga sangat menjaga diri serta punya prinsip teguh.

Sementara, seperti di MetroPop yang sudah-sudah, tokoh cowoknya mengejar cinta sampai bingung setengah mampus. Bedanya, kalau di MetroPop lainnya, si cowok mungkin bingung karena ada banyak hal remeh-temeh yang menghalangi cinta dia. Kalau di novel Perang Bintang ini, kebingungan yang melanda adalah karena Wira—si pria—mengejar perempuan yang defensif setengah mati dan bingung harus dengan cara apa lagi dia meyakinkan bahwa dia enggak main-main.

Sepanjang membaca Perang Bintang, saya dibuat geregetan, tapi juga terbahak, kadang sedih dan maklum dengan sikap Rezia. Semuanya bisa dimaklumi karena sungguh apa yang Wira lakukan memang kadang kayak cowok kekanak-kanakan. Tapi walau sikapnya ngeselin, saya suka banget juga sih sama interaksi Wira dengan Laxmi—anak Rezia, saat mereka enggak sengaja ketemu. Gimana dong? 

Empat bintang aja deh buat novel ini, sebab katanya ada benang merahnya juga dengan [email protected] dan [email protected] Saya jadi pengen baca kedua novel lainnya yang masih satu jalinan, semata untuk mengobati keingintahuan akan hubungan Rezia dan Wira selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar