Kamis, 26 Juli 2018

Bacabaca 43: Katarsis oleh Anastasia Aemilia

Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Tahun Terbit: 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 halaman, paperback
ISBN: 9789792294668

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.

Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?


***

Setelah sekian lama absen dari membaca thriller Indonesia, akhirnya saya membacanya lagi. Menyelesaikan Katarsis menjadi momen yang menyenangkan, sebab saat membaca ini, saya harus selang-seling dengan panggilan pekerjaan yang menumpuk. Katarsis seperti benar-benar menjadi media "katarsis" bagi kepala yang penat karena pekerjaan.

Katarsis sendiri mengusung genre psychological thriller dengan sedikit bumbu drama. Ada pula unsur plot device yang umum dalam penulisan detektif di novel ini. Beberapa yang saya temukan, seperti red herring dan unreliable narrator. Ada banyak mislead yang dibuat penulisnya sehingga membuat saya geli sendiri karena gagal menebak keseluruhan cerita dari awal sampai akhir.

Belum lagi ada dua tokoh "aku" yang saya kira pada awalnya ini adalah kondisi split personality tokoh utama. Namun, ternyata bukan. Tokoh "aku" yang bercerita di sini memang dua, bahkan berbeda jenis kelamin. Namun, entah kenapa tetap saja saya kira ini adalah satu tokoh yang sama, hanya saja bercerita sebagai kepribadian mereka masing-masing. Mungkin karena kemiripan cara bercerita dan memang tidak ada perbedaan kecuali cara berpikir dan penjelasan mereka atas pakaian yang mereka kenakan.

Di awal, saya juga mengira tokoh Tara ini adalah penyintas yang sebenarnya pelaku. Dia masuk kotak perkakas secara sukarela, lalu menganggap dirinya adalah korban. Dia melupakan salah satu sisi di mana dia membunuh keluarga lalu masuk kotak perkakas. Dia pun menjadi waswas ketika sang paman ditemukan masih sehat. Namun, anggapan saya salah. Dia memang benar-benar penyintas, tapi di sisi lain dia memiliki kecenderungan sadistik, sama seperti pembunuh aslinya.

Lalu, akhirnya sungguh twisted. Saya benar-benar jadi curiga dengan semua pencerita di sini. Inilah yang membuat saya merasa, bahwa tokoh aku adalah unreliable narrator. Dari awal sampai akhir, tokoh aku punya kecenderungan membunuh. Namun, di sisi lain, dia pun memiliki trauma terhadap kotak perkakas. Jadi, saya pikir dia tak mungkin jadi pembunuh berantai kotak perkakas. Kembali lagi saya akan bilang, "tetapi" di ending cerita, semua hal terkuak dan saya sampai berpikir, "Sebenarnya siapa yang membunuh siapa?"

Akhir kata, saya bisa bilang kalau saya puas. Berbeda dengan saat saya membaca Seruak, salah satu novel psycho-thriller juga, hanya saja kurang asyik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar