Senin, 10 November 2014

Bacabaca 23: Supernova Gelombang oleh Dee Lestari

Judul: Supernova - Gelombang (Supernova #5)
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tanggal Terbit: 17 Oktober 2014
Tebal: 492 halaman, paperback
ISBN: 9786022910572
Tokoh: Alfa, Troy, Carlos, Nicky, Ishtar, dr. Kalden, Mamak, Bapak, Eten, Uton, Ompu Togu Urat, Ronggur Panghutur, Nai Gomgom, Pemba, dr. Colin, Rodrigo, Tom Irvine, dan Gio.

Sebuah upacara gondang mengubah segalanya bagi Alfa. Makhluk misterius yang disebut Si Jaga Portibi tiba-tiba muncul menghantuinya. Orang-orang sakti berebut menginginkan Alfa menjadi murid mereka. Dan, yang paling mengerikan dari itu semua adalah setiap tidurnya menjadi pertaruhan nyawa. Sesuatu menunggu Alfa di alam mimpi.

Perantauan Alfa jauh membawanya hingga ke Amerika Serikat. Ia berjuang sebagai imigran gelap yang ingin mengubah nasib dan status. Pada suatu malam, kehadiran seseorang memicu Alfa untuk menghadapi ketakutan terbesarnya. Alam mimpinya ternyata menyimpan rahasia besar yang tidak pernah ia bayangkan. Di Lembah Yarlung, Tibet, jawaban mulai terkuak.

***

Ada kesedihan yang luar biasa mengendap setiap kali saya mengakhiri sebuah buku, apalagi jika buku tersebut adalah serial. Penantian yang cukup lama untuk menuju ke seri berikutnya akan menyeruak seperti rindu pada seseorang yang telah lama pergi atau rindu pada kampung halaman. Kira-kira seperti itulah kesan yang muncul ketika saya mengakhiri Supernova: Gelombang. Saya harus menunggu dan bersabar untuk melihat kelanjutan kisah gugus Alfa dalam episode Inteligensi Embun Pagi. Hiks.

Awal mula mengenal Dee adalah ketika saya mengawali kecintaan pada buku dengan kunjungan ke beberapa rumah buku, salah satunya adalah Kineruku di Hegarmanah. Di sana, saya menemukan Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh teronggok di salah satu sudut. Dimulailah petualangan saya dalam dunia Dee, yang konon diawali dengan self publishing berdarah-darah antara ketakutan tidak laku atau euforia para pembaca yang menggunjingkan genre ini yang masih awam. Namun, petualangan awal dalam dunia Dee telah menjadi candu tersendiri yang menyebabkan serial awal Supernova tersebut laku keras dan memaksa Dee untuk melanjutkan ke serial-serial berikutnya. Tak terkecuali saya. Permainan Dee dalam membuat karakter yang kuat namun sepenuhnya memiliki kelemahan jadi kesukaan saya. Tak banyak penulis mampu membuat tokoh yang signifikan dari seri ke seri, ibarat Mama Jo dan Harry Potternya. Akan ada kerinduan yang dalam pastinya, jika seri-seri Supernova berakhir. Saya akan mengingat, kapan lagi saya bisa bertemu tokoh-tokoh ini lagi? Kurang lebih seperti itu.

Namun, sebuah karya yang ditulis dengan jelaga yang terendap lama, tentu akan menimbulkan pergeseran tertentu, seperti semangat yang pudar. Beberapa kali saya temukan kebosanan di awal-awal membaca Supernova yang muncul setelah Petir. Bisa dimaklumi, apalagi karena setelah Petir, perlu waktu 8 tahun bagi Dee untuk memanaskan kembali tungku yang isinya adalah tokoh-tokoh Supernova yang sudah diaduk. Meski kurang memuaskan ketika mengawali Supernova lagi--dari Partikel--setelah sekian tahun lamanya, tapi petualangan saya pada dunia metafisis Dee masih belum berkurang. Ah, kadang saya berandai-andai, bisakah saya menulis kisah fiksi seliar pikiran Dee yang berjelajah lebih jauh daripada jasadnya sendiri? Sepertinya, menulis kisah semacam ini memang penuh perenungan yang mendalam, disusul riset yang kompleks untuk menunjang cerita. Hasilnya? Kalian bisa baca sendiri dari setiap seri Supernova.

Kebosanan membaca pada awal-awal pertemuan saya dengan Alfa bukanlah perkara penting karena setelah cukup lama mengarungi "Gelombang", pada akhirnya saya kembali mengikuti arusnya. Petualangan yang ada bukan hanya petualangan fisik, tapi termasuk spiritual dan ini begitu nikmat.

Mengarungi dunia mimpi sekali lagi tak pernah membuat saya bosan, seperti pada saat saya pergi menjelajah bersama Cala Ibi, naga terbang yang membawa Maya pulang ke kampung halaman, atau seperti pada saat saya membaca Misteri Anjing Karpatia, di mana salah satu tokohnya melakukan perjalanan badan halus, astral projection. Hal-hal semacam ini sudah menarik perhatian saya ketika ia muncul dalam dunia literasi, yang pada akhirnya saya pun jadi terobsesi untuk melihat-lihat beberapa tulisan terkait mimpi--mungkin nanti juga menghasilkan karya semacam itu, mungkin?

Alfa dan dunia di dalam kepalanya, alam bawah sadarnya, memaksa saya untuk merangsek lebih dalam. Seperti yang sudah saya katakan, bahwa kebosanan di awal penceritaan mengenai latar belakang Alfa tidak berlangsung lama. Saya bisa membuang beberapa bagian yang saya rasa tak perlu dibaca dan melakukan scanning bagian mana yang sekiranya lebih mudah untuk dipahami. Dan membaca Supernova memang tak pernah bisa ditunda-tunda. Ada semacam candu yang khusus, yang membuat saya betah berhari-hari tidak beranjak dari kursi hanya untuk membaca. Meski saya paling suka pada tokoh Bodhi dan Elektra dari seluruh seri Supernova, tapi Alfa ini boleh juga diperhitungkan sebagai alien lainnya di samping mereka berdua. Alfa termasuk salah satu dari sekian anomali manusia yang Dee ciptakan untuk menjadi nyata, dan dia memang ada di dunia, sebab penokohannya cukup kuat untuk menjadi nyata.

Jelas sekali, ada kerinduan yang amat sangat mendalam setelah menutup halaman terakhir. Semoga Intelegensi Embun Pagi lekas dimulai agar ingatan saya pada para tokoh ini tak memudar. Sejauh ini, puzzle kehidupan mereka sudah tersusun cukup jelas, tinggal menunggu akhirnya.

***

Cek juga review saya di Goodreads: https://www.goodreads.com/book/show/23252584-supernova

Rabu, 09 April 2014

Bacabaca 22: Seruak oleh Vinca Callista

Bandung memang memiliki daya tarik luar biasa. Selain pemusik-pemusik jenius, Bandung melahirkan juga entertain muda dengan bakat yang sedemikian rupa. Bandung juga yang melahirkan penulis-penulis berbakat, yang bisa apa saja. (kalo sulap? bisa nggak) Hehehe. Nah, berikut ini adalah salah satu novel garapan Mojang Bandung, yang akan saya ulas. Mohon maaf sebelumnya, ulasan ini saya copy-paste dari posting Kaskus dan Goodreads saya. Soalnya, saya kadung malas untuk menulis yang lain. Lagipula, toh isinya pasti akan sama saja. Masa iya saya berubah pikiran? (kecuali kalau saya memang agak terganggu). *lalu ketawa sendiri*

***

Judul: Seruak
Penulis: Vinca Callista
Penerbit: Grasindo
Genre: thriller (psychothriller)
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 440 halaman
ISBN: 978 602 251 428 2
Harga: Rp 65.000,-
Rating: 3/5

Well, akhirnya saya menyelesaikan novel setebal 440 halaman ini dalam jangka waktu satu minggu. Ini bisa dibilang waktu tercepat, dibandingkan dengan Amba yang saya baca dua minggu lebih dan Cantik Itu Luka, yang bahkan sampai sekarang belum sempat saya selesaikan. Lagipula, Seruak ini dipastikan bisa selesai lebih cepat jika saya tidak terlalu mengantuk pada bab awal buku, yang begitu banyak cerita berliku dan narasi njelimet. Saya agak tidak begitu suka pada novel yang terlalu banyak narasi, apalagi menggurui. Tapi, keseluruhan novel ini berhasil membuat saya berdecak gembira, dan berteriak, AWESOME! Nah, kalau se-awesome ini, pasti kalian bertanya-tanya kan, mengapa saya hanya memberi novel ini 3 bintang saja?

Mari kita mulai dari sini...

Novel ini bercerita tentang kegiatan KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), yang dilakukan oleh sepuluh orang mahasiswa dari Universitas Palagan. Mereka kedapatan giliran untuk memberikan kontribusi pada sebuah desa yang jauuuuh sekali dari Bandung, bernama Desa Angsawengi dengan tiga dusun yang ada di dalamnya. Desa ini bisa dibilang tidak cukup populer, apalagi di kalangan mahasiswa. Maka, informasi yang ada tentang desa ini, sangatlah minim. Hal inilah yang membuat Faye--salah satu mahasiswa di dalam kelompok--banyak mempertanyakan tentang desa yang makin lama makin aneh ini.

Percayakan kalian pada teori the butterfly effect? Dewi Lestari alias Dee, sering mengulasnya di beberapa bukunya. Ia berpendapat bahwa, "Kepak sayap kupu-kupu pun kemungkinan akan menyebabkan badai di belahan bumi yang lain." Dan hal inilah yang berulang kali ingin ditunjukkan Vinca Callista dalam novel ini. Setiap manusia melakukan kegiatan alam sadar mereka dengan teratur. Meski begitu, alam bawah sadar mereka pun dapat mengontrol diri manusia, menjadi manusia lain yang membentuk pribadi baru. Hal ini juga dikarenakan, setiap manusia menjadi diri mereka sekarang karena pengaruh masa lalu. Ada orang yang jadi pembunuh dan psikopat, karena masa lalu mereka yang menyebabkan hal itu. Ada pula orang yang menjadi pendiam, karena rasa trauma masa lalu. Dan hal inilah yang benar-benar ditunjukkan oleh penulis, dari bab ke bab. Semua mahasiswa yang berada di dalam kelompok KKNM ini, rupanya saling terkait. Ada Mada, Arbil, Nina, Jiana, Faye, Chamae, India, Yanto, Fabyan dan Lula. Bukan kebetulan, kalau mereka ditempatkan dalam satu kelompok yang sama. Rupanya, ada satu hal yang membuat keterikatan mereka menjadi baik, atau menjadi buruk. Masing-masing orang memiliki masa lalu, dan masa lalu itu terkait dengan masa lalu orang lainnya, sehingga membentuk pribadi mereka saat ini. 

Uniknya, mengapa novel ini disebut psychothriller? Dari awal cerita, saya tidak menangkap perilaku menyimpang dari orang-orang di dalam cerita. Namun, menuju ke bagian tengah novel, saya mulai menemukan penyimpangan dari masing-masing tokoh. Selain masa lalu yang terkait, rupanya masing-masing tokoh memiliki perilaku menyimpang mereka masing-masing. Perilaku inilah yang merenggut psikis mereka dan membentuk diri mereka seperti sekarang. Dan saya beberapa kali berdecak kagum, ketika mendapati kebetulan yang bukan benar-benar kebetulan. Saya sampai berpikir, sepertinya Vinca telah membuat peta khusus mengenai tokoh-tokoh jelmaannya. Dan Vinca sukses membuat sepuluh orang ini saling terkait seperti film Identity. Pernah nonton kan? Bedanya, film Identity ini semua tokohnya adalah satu tokoh yang memiliki kepribadian ganda. Sedangkan, di dalam novel ini, hanya satu orang yang mengidap MPD alias multiple personality disorder. Saya tidak akan kasih tahu siapa yang mengidap MPD, karena nanti jadi spoiler. Haha. :p

Dan dari semua bab yang terkait, saya harus menjura pada Vinca, karena berhasil membuat saya betah duduk di sofa empuk sambil makan cemilan yang membuat saya gemuk, dan membuka lembar demi lembar novel ini tanpa lelah (kecuali kalau saya lapar, ngantuk, dan dipanggil bos, karena saya baca juga di kantor). Vinca juga sukses menjejali kepala saya dengan berbagai istilah psikologi yang menurut saya tidak rugi kalau ditelan bulat-bulat. Di samping mengalihkan tokoh fiksi buatannya untuk kita cintai, kita juga bisa mendapatkan pelajaran mengenai istilah psikologi. Beberapa istilah yang dikemukakan Sigmund Freud sebagai Bapak Psikologi pun berhasil saya cerna.

Lantas, apa yang membuat empat bintang bertengger di novel ini, Ayu?

Empat bintang saya berikan bukan karena kesalahan Vinca. Sebab, tidak ada yang salah darinya. Yang salah mungkin hanya kejelian editor yang kurang mantap, karena dia membiarkan novel ini terombang-ambing di antara dua bahasa. Ketika sampai pada beberapa narasi, saya mendapati kata-kata tak baku bersarang pada kata-kata yang justru baku sekali, banget malah. Seolah-olah, kata-kata tak baku ini tertangkap oleh prajurit kata baku, dan tak membiarkannya keluar. Mungkin, ini hanya luputnya editor saja, karena mungkin ia terlalu terpana menyaksikan berbagai kebetulan yang bukan kebetulan, di dalam novel Vinca. Mengapa kebetulan ini bukan kebetulan? Karena, kalau kalian membacanya pun, kalian akan menganggap kebetulan, padahal sebetulnya bukan. Novel ini sudah terkonsep, begitu pun dengan tokohnya yang sudah terpetakan dengan baik. Maka, saya tidak bisa berteriak, "Wah, ternyata si ini tuh dulunya itunya si anu yah? Oh gitu yah! Kebetulan banget!" Ini bukan kebetulan, dan ini terkonsep. Seperti Desa Angsawengi yang terkonsep.

Lalu, apalagi Yu, yang mengecoh dirimu?

Kalian mau tahu? Sungguh??? 

Ada hal yang benar-benar mengecoh saya, sampai saya berkata, "Sialan! Gue ditipu!" Hal ini adalah teknis penulisan sudut pandang. Sudut pandang ini adalah sudut pandang pertama, namun di lain pihak, si 'saya' dalam novel ini, menceritakan tokoh-tokoh seperti ia bisa melihat segalanya dan menjelma jadi sudut pandang orang ketiga. Sialan! Saya benar-benar tertipu. Saya luput dari seorang tokoh dalam novel yang mengidap MPD. Dia bisa saja bercerita dengan 'dia', dan 'saya'. Maka, sekali lagi, saya tidak akan menceritakan siapakah 'dia' yang 'saya' itu. :)))) *ketawa setan*

Dan satu hal yang membuat saya pusing, ada beberapa narasi yang mengantar cerita lewat bundaran HI. Seperti supir busway yang masuk bundaran HI lalu berputar-putar mempermainkan penumpang dengan sengaja, seperti seorang psikopat. Narasi ini semacam itulah! Pemikiran psikopat yang njelimet mencoba memasuki alam bawah sadar saya, sehingga saya cepat mengantuk ketika membaca narasi tersebut. Dan oke, saya harus minta maaf pada Vinca, karena saya melewatkan banyak sekali narasi untuk sampai pada bagian yang benar-benar ingin saya baca.

Dan kalau dibilang thriller, adegan bunuh-bunuhan masih kurang mantap di sini. Tidak seperti thriller lainnya yang cukup mempertontonkan disturbing content, saya rasa Vinca masih harus masuk jadi psikopat yang sebenar-benarnya. Hehe.

Oh ya, ada satu hal lagi yang membuat saya geram. Sedikit ilmu holistik yang dikeluarkan pada bagian akhir buku, mengenai unsur bumi yang menyebabkan bumi jadi seimbang, yaitu unsur api, tanah, air, dan udara (kayak avatar). Unsur ini hanya disinggung sekali saja. Saya pikir, unsur ini juga akan mengambil porsi besar dalam novel. Ternyata, unsur-unsur holistik itu hanya numpang lewat saja sambil dadah-dadah. Sayang sekali, padahal kalau unsur itu dieksplorasi lebih jauh sejak awal novel, akan jadi lebih menarik hasilnya. Dan twist Jiana Aryon yang tiba-tiba jadi villain dalam cerita--ups spoiler--rasanya kok aneh ya? Ini semacam ujug-ujug yang disengaja, begitu? 

Dan terlalu banyaknya tokoh, dengan deskripsi macam-macam, misalnya, si anu itu begini, si ono itu begitu, dan lain sebagainya, membuat saya tidak mudah mengingat tokoh apa saja yang bicara, kecuali tokoh 'saya' yang sudah pasti saya ketahui. Jadi, saya kadang tidak peduli kalau tokoh lainnya bicara, karena saya hanya mengingat beberapa tokoh saja. (coba tebak, siapa si 'saya'). :P

Akhir kata, saya cuma bisa bilang, kalau saya senang membaca ini seharian, karena kavernya manis dan isinya pun manis meski mencekam! Ingatlah, bahwa masa lalu akan membentuk pribadi anda sekarang! Haha. *ketawa setan lagi*

P.S. Untuk penerbit dan mas layout, tolong lain kali hurufnya diperbesar. Jangan merasa bakalan hambur kertas dan jangan pelit kertas, karena novel ini layak untuk dikoleksi! Tapi, pembaca kan tidak semuanya senang baca novel berhuruf kecil-kecil! Maka, kalau tidak ingin dihantui pembaca, buatlah novel ini lebih nyaman dibaca, salah satunya dengan menambah point huruf agar tidak kecil-kecil. Hahahaha. *lalu pembaca pun jadi psikopat*

Untuk pembaca lainnya, selamat membaca! Selamat tertawa gila! \m/

[ayu]