Kamis, 31 Januari 2013

Bacabaca 19: Kubah oleh Ahmad Tohari

Ahmad Tohari
Baru-baru ini, saya menyelesaikan sebuah buku yang entah kenapa bisa menarik hati saya waktu itu. Buku ini adalah hadiah, bersama dengan satu buku lain yang mengangkat tentang feodalisme Jawa. Ketika itu, saya bingung memilih buku, sehingga orang yang bersama saya menawarkan saya untuk membeli keduanya. Ini sudah jelas traktiran, traktiran buku. Hehehe.

Buku hadiah yang pertama saya buka adalah buku Kubah karya Ahmad Tohari. Buku yang sempat mendapatkan penghargaan di tahun 1981 ini rupanya telah dicetak ulang oleh Gramedia. Dan saya membaca buku ini di cetakan baru. Saya rasa tidak banyak perubahan, selain tata bahasa yang disusun mengikuti zaman.

Kisah yang dihadirkan dalam Kubah bukan kisah baru yang berbeda. Ahmad Tohari menggambarkan kisah seorang kader komunis dengan mengambil beberapa kejadian sosial yang ada di desa-desa tak tersentuh. Seperti Ronggeng Dukuh Paruk yang mengambil kisah seorang Ronggeng, Kubah pun mengambil latar di sebuah desa dengan kondisi sosial dan agama yang harmonis namun kadang penuh kepalsuan. Seorang Karman, lelaki yang dibesarkan dalam kondisi sosial ekonomi yang kurang, nyatanya harus bergelut dalam kehidupan, antara dendam dan pilihan. 

Kisah dalam buku dibuka dengan perjalanan Karman menuju Pegaten, pulang dari pengasingan di Pulau Buru. Satu per satu bingkai hidup mulai tertata dengan sendirinya, Pegaten sudah banyak berubah. Namun, keraguan Karman untuk kembali ke kampung halaman yang membesarkannya itu tidak berubah sama sekali.

Dari situ, bab berikutnya mundur ke masa awal di mana Karman masih kecil. Hidup Karman tanpa ayah dan harus menjalani segalanya dengan sulit. Sampai Karman dewasa, Karman malah menjadi salah satu pemuda yang dilirik oleh partai komunis saat itu. Karman menjadi calon komunis, kader komunis. Semua pemahaman Karman akan strata sosial makin menjadi ketika Haji Bakir menolak Karman jadi menantu. Ini menambah dendam Karman dan dari bab ke bab, kita bisa membaca bagaimana proses Karman menjadi seorang komunis.

Kubah dan Kopi Kecil :D
Menuju akhir kisah, alur kembali maju. Setelah berjalan pada masa lalu dan penangkapan Karman untuk diasingkan ke pulau Buru, kisah kembali pada awal ketika Karman sedang melangkah keluar dari dinding beton di pengasingan. Karman kembali ke kampung halaman dan keluarga sudah menyambut. Akan diadakan syukuran kecil-kecilan, di mana Karman harus menempuh realita bawah istri Karman sudah dipinang lagi oleh lelaki lain. Karman sedih, meski tak seharusnya. Dan kisah pun berakhir dengan martabat Karman yang sudah kembali. Orang Pegaten mendapatkan Karman kembali, komunis tak ada lagi.

Kira-kira, buku ini cocok bagi mereka yang mau melihat seluk beluk sisa-sisa komunis. Bagaimana mereka orang komunis yang terasing, harus mengembalikan martabat mereka. Komunis-komunis itu pada awalnya pernah memiliki keyakinan yang satu terhadap Tuhan, sebelum akhirnya menjadi kader partai dan disusupi pemahaman yang menjauhkan dirinya dari rahmat. Dan buku ini cocok untuk mengembalikan pemahaman bahwa tak selamanya komunis itu buruk, demikian pula sebaliknya. Tak selamanya tuan tanah itu selalu jahat, karena ada pertimbangan-pertimbangan yang mengharuskan mereka melakukan hal itu, setidaknya itulah yang tertanam dalam buku ini. Masalah bagaimana kondisi tuan tanah di luar sana, itu urusan yang berbeda. [Ayu]

Judul: Kubah
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1980 (cetak ulang 2005)
ISBN: 9789796051762
Halaman: 189
Harga: Rp 38.000 
Rating: 4/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/2851991-kubah

Jumat, 25 Januari 2013

Bacabaca 18: Keajaiban di Pasar Senen oleh Misbach Yusa Biran

almarhum Misbach Yusa Biran
Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.

Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai diri mereka "Anak Senen" dalam cerita bersambung dalam suatu majalah.

Beberapa pembaca yang suka menginginkan cerpen itu dibukukan. HB. Jassin pun begitu. Jassin menginginkan tulisan Misbach menjadi sebuah buku yang utuh, dengan cerita-cerita pendek yang dikumpulkan dalam satu wadah. Tapi, karena belum sempat juga, akhirnya Ajip Rosidi yang mulai berinisiatif untuk mengumpulkan remahan cerpen Misbach dan sekarang sudah dicetak ulang dalam bendera KPG - Kepustakaan Populer Gramedia.

Cover cetakan baru oleh KPG
Kumpulan cerpen berjudul "Keajaiban di Pasar Senen" ini memotret kehidupan sederhana dari para pemuda yang memberi label diri mereka sebagai seniman. Entah karena memang seniman atau hanya karena ikut-ikutan saja. Meski begitu, para seniman dan seniman gadungan ini memang sudah membentuk atmosfir yang berbeda di Senen. Tempat mangkal mereka yang utama ada di sudut-sudut terminal, di rumah makan Padang "Ismail Merapi", di kedai kopi kecil "Tjau An", di bioskop Grand, dan di tukang kue putu dekat pangkalan bensin.

Seniman-seniman ini seringkali berkumpul, mengobrol sampai pagi hanya untuk berbagi kopi kecil. Banyak juga dilema yang terjadi di antara seniman, mulai dari dilema percintaan sampai kurangnya uang untuk makan. Misbach Yusa Biran menggambarkan kisah mereka secara nyata, penuh humor dan juga romantisme. Sebagai contoh saja, kisah seorang seniman yang belum juga mendapat honor atas karyanya, minta ditraktir kawan yang juga seniman dan sama-sama seadanya, pada sebuah cerpen berjudul "13 Kopi Kecil dan Asap Rokok." Jadilah, si seniman kurang uang ini seharian hanya minum kopi kecil dan memasukkan asap ke kerongkongan dan paru-paru hingga keesokan harinya, perutnya mulas tak karuan.

Ada juga kisah tentang seorang tukang cukur yang terlalu sering nongkrong bersama seniman, sampai membuat model rambut yang tidak-tidak. Dia berkata, "Aku sudah memilih, aku harus mencipta dalam bidang yang aku geluti, ya. Cukur rambut!" Dan dia berhasil membuat tokoh "aku" dalam cerpen berkata, "Andaikata jumpa pacar saya, tolonglah!" Kisah seniman satu ini ada dalam cerpen berjudul sama, "Andaikata jumpa pacar saya...tolonglah!"

Banyak juga kisah seniman-seniman lainnya. Seperti seorang Rebin yang bersikeras ingin menjual lukisan abstraknya yang tak bernilai seni sama sekali. Kisah tentang seniman yang membutuhkan uang sampai harus memeras kepala redaksinya dengan pintar sekali dan kisah-kisah lainnya.

Yang jelas, tujuh belas cerpen dalam buku ini telah membuat saya tertawa sekaligus menerbangkan imaji ke tahun 1950-an dimana Pasar Senen masih menjadi pusat seniman yang sangat nyaman, sebelum akhirnya Ali Sadikin memindahkan geliatnya ke Taman Ismail Marzuki.

Yang disayangkan, kalau saat ini kita pergi ke Senen, mungkin sudah tak kita dapati lagi sisa-sisa romantisme para seniman itu, karena mereka pun sudah tak terdengar lagi kabarnya. Sudah hilang, digerus waktu dan zaman. Jakarta sudah tak seromantis dulu. Maka, jika ada yang berminat menyesap sedikit saja aroma kopi kecil dan kue putu langganan para seniman Senen tahun 50-an, ada baiknya membaca pelan-pelan tujuh belas cerpen dalam buku ini. Niscaya, kerinduan akan Jakarta yang romantis, akan terobati (walau hanya sementara saja). [Ayu]

Judul: Keajaiban di Pasar Senen
Penulis: Misbach Yusa Biran
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 1971 (cetak ulang 2008)
ISBN: 9789799101297
Halaman: 177 
Harga: Rp 40.000 
Rating: 4/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/5465395-keajaiban-di-pasar-senen

Senin, 07 Januari 2013

Bacabaca 17: Kemamang oleh Koen Setyawan

Cover Kemamang
Akhirnya, setelah perjuangan berat untuk menyelesaikan buku yang tidak begitu tebal, kemarin malam saya berhasil menyelesaikan buku berjudul Kemamang, karya Koen Setyawan. Entah kenapa, fase membaca buku ini terlampau lama. Saya kira bisa selesai dalam sehari, tapi ternyata saya merasa cepat bosan dengan buku ini. Padahal, pembahasan buku ini hampir sama seperti Partikel-nya Dewi Lestari yang lebih tebal dan bisa saya selesaikan hanya dalam empatbelas jam saja. Buku yang memuat tentang UFO dan evolusi makhluk prehistorik yang berkembang secara tidak terkontrol sebagai hewan riset, malah membuat saya bosan. Di mana letak kesalahannya?

Buku ini saya dapatkan di basement Blok M Square, di mana kita bisa mendapat buku-buku murah dengan beragam jenis. Hehehehe. Sama halnya seperti Kwitang atau Senen, di Blok M kita bisa mendapatkan buku apa saja. Ketika sedang mengantar teman membeli kamus, tiba-tiba saja saya melihat buku ini di antara tumpukan buku lain. Tanpa pikir panjang, saya membelinya dan berniat membacanya setelah menyelesaikan Partikel.

Selesai membaca Partikel, saya segera membukanya. Namun, entah kenapa saya merasa kehilangan semangat ketika membaca kisah bagian tengah. Bagian awal masih bisa ditolerir. Saya menyukai kegiatan ekspedisi hutan dan dengan sukses bagian awalnya membawa saya ke bagian berikutnya. 

Mulai di tengah cerita, agaknya kisah pencarian Harimau Jawa yang dilakukan oleh dua orang mahasiswa, malah lari kemana-mana. Sebenarnya, kisah utama memang tentang UFO. Tapi, sebaiknya cerita tengan Harimau Jawa, tidak perlu diekspos begitu jauh, karena nantinya malah akan kehilangan jejak kalau tiba-tiba dua mahasiswa itu malah mengungkap misteri UFO dan melupakan pencarian Harimau Jawa.

Koen Setyawan dengan background buku pertamanya:
Giganto: Primata Raksasa di Jantung Borneo
Konflik dimulai dari tengah, ketika dua orang mahasiswa itu melihat cahaya di sekitar Danau Bakalan, lereng Gunung Lawu. Mereka melihat cahaya dan merasa kehilangan waktu. Keesokan harinya, mereka mendapati diri mereka tertidur di rumah singgah yang disediakan oleh Kades. Mereka pun merasa aneh dan memutuskan untuk kembali ke danau itu. Ketika kembali, mereka mendapati hal lain. Warga desa sedang gencar-gencarnya ronda karena banyak hewan ternak dan anak-anak kecil yang hilang. Maka, dua mahasiswa yang bernama Hari dan Panji ini, ikut warga mencari anak-anak.

Tak lama, mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh. Hari meyakini bahwa Kemamang cahaya itu adalah UFO yang hendak melindungi mereka dari bahaya sebenarnya. Belakangan, diketahui Hari dari Kemamang UFO itu, bahwa Danau Bakalan telah menjadi habitat hewan prehistorik yang sedang dikembangkan oleh para UFO dan terjadi mutasi yang tidak terhenti.

Singkat cerita, para hewan itu mulai berevolusi menjadi makhluk yang lebih besar dengan kepintaran luar biasa. Para "Kemamang" atau UFO, melakukan berbagai cara untuk menghalaunya. Hari dan Panji berada dalam suasana genting, antara menyelamatkan nyawa sendiri atau nyawa seisi desa. Dan ketika banyak korban yang sudah bergelimpangan, akhir cerita buku ini sangat tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Ending buku ini seperti menukik tajam. Tidak ada anti-klimaks dari konflik dan tiba-tiba saja, dengan tidak bisa diprediksi, si hewan mutasi yang buas itu tiba-tiba saja mati kaku di depan Hari, Panji, Pak Kades, Mijan, dan gadis kecil yang sempat diculik. Selesai membacanya, saya masih berpikir. Kok bisa? Kok gini? Kok gitu? Kok dan kok lainnya. Ya begitulah, akhir dari buku ini yang membuat saya masih bingung sampai sekarang. Hahahaha. Memang, dijelaskan oleh si UFO kalau hewan itu menghancurkan dirinya sendiri.

"Agupta chezeni menghancurkan dirinya sendiri."

Dan setelah itu, desa kembali aman tentram damai. Setelah sekian lama dibalut kengerian, kenapa bisa secara tiba-tiba jadi tenang. Sungguh tidak masuk akal sih. Tapi, secara keseluruhan, buku ini sudah secara berani mengungkap tentang fenonema "benda langit" yang tidak teridentifikasi sampai sekarang. Yaaaa, cukup menghibur lah buat saya. Bagi yang penasaran, sila beli bukunya di toko buku terdekat anda! Selamat membaca dan berekspektasi seperti saya! :D [Ayu]

Judul: Kemamang
Penulis: Koen Setyawan
Penerbit: Goodfaith
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 9786029600001
Halaman: 317 
Harga: Rp 35.000-an (lupa harga aslinya, karena saya beli di bazaar murah :D) 
Rating: 3/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/7405775-kemamang