Sabtu, 16 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Bolehkah Saya Jadi Bojonya Brojo?

Kalau ada yang bisa membuat saya punya suami dua, mungkin Arswendo-lah biang keroknya! Pasalnya, saya terdoktrin, bukan didoktrin. Hahaha!

Buku ini mungkin sebagai sebuah media bagi Arswendo untuk menyalurkan hobinya ketika di penjara. Banyak penulis yang bisa dengan santai menikmati situasi di dalam penjara, berikut preman-preman dan kroco-kroconya yang kadang mencuri makan siangmu, lalu menghajarmu hingga babak belur padahal bukan kau yang salah. Kira-kira, hal seperti inilah yang coba ditepis oleh Arswendo Atmowiloto ketika novel ini lahir.

Projo dan Brojo menceritakan dua orang yang bertukar posisi, di mana Projo adalah terduga koruptor yang sedang berusaha membersihkan nama, sedangkan Brojo adalah seorang tambal ban yang berusaha menghidupi istrinya di desa.

Sungguh lucu! Ketika Arswendo membawa saya pada kehidupan politik nan puitik, penuh intrik. Saya awalnya tak tahu, bagaimana sebenarnya rupa para penjahat kerah putih itu, dan bagaimana kehidupan kekeluargaan mereka. Ternyata, di balik kerah baju yang selalu rapi disetrika, masih ada sedikit noda dan kusutnya. Arswendo mencoba memunculkan sisi humor sebuah penjara, ketika penjara bukan lagi menjadi tempat yang menakutkan, melainkan seperti kamar kost perempuan simpanan. Si Projo bisa keluar masuk dengan senang hati, sementara Brojo berada di dalam untuk menggantikannya ketika Projo terakhir kali keluar.

Dan semuanya disuguhkan dengan begitu mengalir. Bahasanya tak susah. Buat tukang tambal ban ya bahasa mereka saja. Dan buat penjahat kelas kakap, ya bahasanya harus yang sepadan. Kira-kira, seperti itulah Arswendo mencoba bercerita. Lucu, saya nyaris terjungkal karena mendapati beberapa kisah epic dalam buku.

Rupanya, kelindan kehidupan Bapak-Bapak kerah putih itu tidak melulu enak. Rupanya, perempuan simpanan bukan perhiasan, melainkan hanya pemanis buatan. Hahaha! Saya saja bingung, Projo bisa-bisanya malah senang dengan istri orang--istri Brojo--hanya karena menilai keluguannya. Tapi memang sang istri orang desa, makanya Arswendo menampilkan istri Brojo dengan apa adanya. Biar lugu, tapi jujur! Kira-kira begitulah Arswendo memunculkan tokoh-tokoh.

Makanya, buku ini jadi satu-satunya buku yang membuat saya menginginkan sosok Brojo, pun Projo. Kalau saya jadi istrinya Brojo, mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Saya menemani Projo tanpa melakukan apa-apa, karena sesungguhnya suami saya adalah Brojo. Tapi, di sisi lain saya menemani Projo untuk mempertanyakan langsung, "mengapa Bapak korupsi?" Begitulah kira-kira pertanyaan lugu saya pada Projo. Setengah mati Projo berkelit kalau dirinya itu bersih, ia hanya dijebak dan ia tidak memakai uang kotor. Benarkah? Istrinya Brojo yang lugu senang saja bertanya seperti itu, makanya ia betah. Saya pun betah menjadi seorang perempuan yang dilema, apakah memilih Brojo yang menipu untuk menghidupi istri, atau memilih Projo yang sudah jelas-jelas kaya tapi menipu juga untuk mendapatkan kebenaran. Kira-kira, pilih yang mana?

Ah, sialan! Projo dan Brojo sama-sama tukang tipu, tapi memikat! :D

[ayu]


Jumat, 15 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Lebih Baik Mabuk Dengan Para Paisano

Masih tentang kaum papa yang hidup setelah zaman perang, di mana mereka biasa menempati rumah-rumah kerabatnya yang mati dan hidup dengan cara apa saja. Yang jelas, kaum papa itu harus hidup. Dalam hidupnya yang sulit, mereka masih bisa tertawa. Mereka masih bisa mencuri-curi minum anggur di hari-hari yang biasa seperti kaum-kaum papa lainnya.

Tortilla Flat - Cetakan 2009
Inilah awal mula perkenalan saya dengan Danny dan teman-teman, para kaum papa yang hidup di sebuah rumah peninggalan keluarga Danny. Mereka, kaum papa itu, hidup bahagia meski tak makan. "Tak makan biarlah, yang penting anggur selalu menyegarkan haus kita!" Kira-kira, begitulah kata-kata yang terus terngiang ketika saya membaca kisah Danny dan kawan-kawan dalam buku "Dataran Tortilla", sebuah buku hasil karya penulis yang memenangkan nobel dan diterjemahkan oleh Djokolelono.

Sayangnya, mungkin buku ini tidak sepopuler buku-buku mbah Ernie (Ernest Hemingway) di Indonesia. Pun demikian, hal itu tidak menutup keinginan saya untuk memiliki buku ini, yang kemudian saya temukan di sebuah toko buku besar namun tak terkenal, di sudut Jakarta Selatan. Setelah membawa pulang tiga buku mister John, saya pun pulang dengan riang dan mulai mabuk seperti Danny dan kawan-kawan.

Dari Danny, saya memaknai bahwa hidup pastilah sulit. Tapi, bagaimana cara manusia menghadapi kesulitan itu dengan cara yang berbeda, sebelum akhirnya hidup sulit itu benar-benar menemui buntu dan entah sedih atau senang, pada akhirnya kita meninggalkan kehidupan itu. Seperti saya, yang menangis kala mengetahui bahwa Danny, si pria tua yang humoris itu kehilangan nilai-nilai yang ia percayai tentang hidup sampai akhirnya John Steinbeck harus menjatuhkan ia ke dalam jurang. Saya pun kehilangan nilai-nilai yang saya percayai ketika Danny mati.

Saya tahu, Danny mungkin menyesal mati di usia tua, tapi setidaknya ia meninggalkan hidup yang ia ketahui akan lebih sulit ketika ia tua, seperti Gie pernah berkata, "Kesialan adalah berumur tua dan keberuntungan itu adalah mati di usia muda." Mungkin, Danny menyesal berumur tua, tapi setidaknya, ia meninggalkan dunia sebelum dunia benar-benar menyulitkannya.

Pada akhir-akhir kematian, saya ikut merasakan bagaimana Danny menghadapi hari-hari jadi demikian berbeda. Tidak seperti hari-hari biasanya di mana ia bisa menghabiskan bergelas-gelas anggur di kedai Torelli sambil tertawa-tawa, membicarakan perempuan mana yang bisa ia tiduri. Saya ikut simpati, karena sampai akhir hidup, Danny seperti telah dihantui oleh kematian. Tak saya dapati humor-humor satir di akhir perjalanan Danny. Dan dari sana, saya memaknai satu hal, "Lebih baik tak menyadari apa yang terjadi dalam hidup, daripada memikirkannya sampai frustasi."

Mungkin begitulah kondisi saya saat membaca buku ini. Lebih baik menghadapi kebobrokan dunia dengan tawa lepas, dengan minum anggur, dengan mabuk setiap hari. Karena, mungkin hanya itulah yang bisa saya percayai. Mungkin, hanya anggur yang jujur. Hanya ia teman yang berbaur. Sebab hidup tak lagi sama ketika kita tak mabuk. Sebab......

"Benar-benar menyedihkan untuk mendapatkan bahwa bagian tersembunyi pada tubuh malaikat suci sebetulnya busuk dimakan kusta..." (hal. 80)

[ayu]

Kamis, 14 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Kontemplasi Dua Kartini Masa Kini

Saya tak pernah bertemu buku yang isinya santai, tapi pembahasan yang ia munculkan begitu penuh. Mungkin, penulisnya menerapkan ilmu padi, bahwa semakin berisi ia, maka akan semakin merunduk. Bahasa yang disuguhkan Sammaria, dalam bukunya yang tak begitu terdengar di telinga para pembaca, sesungguhnya telah membuat saya mengamini, kalau pembahasan serius bisa juga hadir dari humor-humor kecil dan pembahasan sederhana.

pic from JBC
Buku ini berjudul "Kartini Nggak Sampai Eropa". Saya pernah menuliskan ulasannya di situs Jakartabeat.Net, dengan judul yang sama. Saya merasa, buku ini seperti representasi Kartini, ketika berkirim surat dengan kawannya di Eropa sana. Bedanya, dua tokoh sentral dalam buku ini berkirim surat melalui surel atau surat elektronik yang lebih kita kenal dengan sebutan email. Dan dua tokoh ini sempat menjejakkan kaki di Eropa, yang mana tidak dilakukan Kartini karena budaya keluarga ningratnya. Maka dari itu, saya mengambil kesimpulan bahwa buku ini hendak mengupas sisi pemikir Kartini lewat tokoh Anti dan Tesa, dua tokoh anti-tesis yang sangat cocok untuk disandingkan sebagai sahabat.

Ibarat Anti dan Tesa, saya juga banyak mempertanyakan apa saja. Baik masalah moral--moral mana yang dipertanyakan? Baik masalah agama, sosial, pemerintahan busuk, dan lain sebagainya. Lewat buku ini, saya seperti berdialog dengan kedua tokoh itu. Saya mencoba untuk berdiskusi dengan mereka berdua, lewat media ini. Ya, mungkin ini adalah buku lainnya yang membuat saya berpikir, "Apakah tokoh dalam buku itu sebenarnya hidup juga di dunianya?"

Ingat kan? Bagaimana Sophie dalam Dunia Sophie mencoba berpikir dan terus mempertanyakan eksistensinya? Bedanya, saya mempertanyakan eksistensi dua tokoh ini, di dalam buku. Dan saya akan sangat berbahagia jika keduanya bisa hidup dalam dunia nyata.

Betapa tidak, di usia yang begitu muda, mereka berdua berusaha memberikan kontribusi pada negara mereka pasca kepulangan mereka dari Eropa. Tesa mencoba untuk berkontribusi di bidang arsitektur, membuat arsitektur yang ramah pada manusia kota, baik yang berada di kelas bawah sampai kelas atas. Dan Anti, saat ini sedang berusaha menyelesaikan studinya di Perancis.

Keduanya banyak bertanya dan keduanya memperkaya pengetahuan saya tentang apa saja. Di balik pertanyaan mereka yang mungkin tak akan pernah terjawab, mereka sebenarnya ingin memberitahu apa yang mereka ketahui, pada para pembaca termasuk saya. Saya pun ikut dalam penjelajahan mereka di Eropa, sambil mempertanyakan apa saja yang ingin dipertanyakan. Dan dari sana, saya maklum, saya mengerti alasan Sammaria memberi judul novel ini dengan embel-embel Kartini. Sesungguhnya, isi buku ini memang gambaran Kartini abad 21 yang gemar bertanya.

Sayang sekali, penjelajahan saya harus terhenti tatkala penulis bertindak sebagai Tuhan. Ia mematikan tokoh Tesa dalam bom Bali 2008, sehingga hanya menyisakan tangis Anti yang tetap berada di Eropa. Berkirim surat sendiri, tak ada teman. Andai saya bisa berada di dalamnya, mungkin akan saya lanjutkan balasan surat yang tersisa.

[Ayu]

Selasa, 12 November 2013

Bacabaca 21: Cala Ibi oleh Nukila Amal

Judul: Cala Ibi
Penulis: Nukila Amal
Edisi: pertama
Tahun Terbit: 2004
Tebal: 275 halaman, paperback
ISBN
: 9789792207972  

Maya’s vreemde dromen beheersen haar nachten. Steeds verschijnt dezelfde vrouw: naamgenote Maia. De levendige dromen nemen Maia mee op onvergetelijke reizen, en gezeten op een draak genaamd Kolibrie vliegt ze over bekende en onbekende plaatsen.
Door de dromen beseft Maya dat haar perfecte leven maar schijn is. Ze doet afstand van haar leven zoals ze dat kent: ze zegt haar baan op, zet haar verloofde aan de kant en verlaat Jakarta. Ze begint te schrijven over Maia en haar oneindige nachtelijke reizen.
Werkelijkheid en fictie dreigen door elkaar te gaan lopen als de nachtelijke Maia tijdens een van Maya’s dromen ook begint te schrijven en schrijft over Maya, die wakker wordt op een perfecte ochtend


***

Saya menulis ulasan ini di media blackberry. Gila bukan? Atau biasa saja? Ya, saya tidak menuliskan ini di komputer, laptop, dan semacamnya karena sampai saya mengirim ini ke khalayak maya, saya tidak sedang berada di depan komputer kesayangan saya. Hasrat untuk bercerita tentang buku yang mengubah hidup sangatlah kuat, sehingga saya harus segera menuliskannya sebelum hal itu menghilang dari benak. Setidaknya, esok pagi saya masih bisa membereskan tulisan yang berantakan di kantor.

Buku pertama yang jadi segalanya adalah salah satu buku yang ditemukan secara tak sengaja di kedai kopi yang merangkap rumah buku mini. Buku ini mungkin sudah terabaikan begitu lama. Tak tersentuh. Niat saya waktu itu memang mencari buku Ayu Utami, namun saya seperti terhipnotis ketika membaca sisi buku yang berjudul "Cala Ibi". Buku yang sampulnya abstrak dan tidak jelas bergambar apa, seperti memanggil saya dan meminta pertolongan. Dia memanggil, dan saya mengambil.

Buku ini semacam perjalanan. Saya berjalan untuk membaca dan paham akan isinya yang "di luar nalar" namun berhias diksi puitik. Pun dengan tokoh utama bernama Maya Amanita, yang kerap kali berjalan di alam bawah sadar, mengunjungi rumahnya nun jauh di sana, di Halmahera. Dalam perjalannya, Maya menunggangi seekor naga yang berbicara, yang bercerita tentang sejarah tempat lahirnya. Saya berjalan tertatih, sementara Maya terbang dengan naga.

Dalam perjalanan itu, saya ikut masuk ke dalam dunia mimpi Maya, yang bias antara maya juga nyata. Tapi, sesungguhnya pada saat itu yang saya lakukan bukanlah berjalan membaca, melainkan beberapa kali diam untuk memaknai isi pesan-pesan tersirat dari tiap diksi puitik Nukila Amal--sang penulis. Saya berusaha memahami apa yang hendak disampaikan olehnya, meski pada akhirnya saya pun gagal memaknainya.

Nukila Amal sukses membuat saya menari-nari dalam kepala Maya Amanita, atau malah tokoh fiktif itu yang menari di dalam kepala saya? Saya sungguh tak habis pikir, benarkah ada kehidupan "yang mati dan yang fana" di dalam diri tiap manusia? Benarkah bisa sebegitu hebatnya fantasi sebuah mimpi? Saya pun jadi de javu, sebab saya pernah menemukan sejarah hidup yang lahir bukan dari fakta, melainkan dari dalam sebuah mimpi asali yang benar-benar tak jelas batas antara keaslian atau kefanaannya. Tapi, berkat Nukila Amal, saya jadi mengamini, bahwa tak ada yang benar-benar bisa membagi antara batas maya atau nyata. Di sini, Cala Ibi--nama sang naga--membawa kita pada eksistensi diri kita sendiri, melalui mimpi asali. Bahkan, kesendirian yang saya rasakan di ibukota, seperti dijelma dari kesendirian Maya Amanita. Mereka yang sendiri, mereka yang kerap mimpi.

Perjalanan saya dengan Cala, sang naga yang berbicara rupanya tak sampai di situ. Di tengah-tengah perjalanan, saya menemukan pilihan. Ke mana saya harus melanjutkan perjalanan? Apakah pulang dan menerima eksistensi saya sebagai seorang anak dari seorang ibu dan ayah ataukah melanjutkan hidup di belantara kota? Di sini Cala membingungkan saya, sama seperti Maya atau Maia atau siapalah itu namanya. Dan ketika pilihan sudah saya temukan, saya malah tak benar-benar menemukan pilihan nyata, karena sekali lagi, semuanya bias.

Ketika saya mengerucutkan pilihan, rupanya sang naga yang menjadi tuhan dalam cerita, membawa saya ke kenyataan yang lain. Dia malah dengan berani menasehati saya, "Cerita selalu bisa berubah", katanya berkali-kali. Dan dia malah menasehati saya dengan teori-teorinya yang jelas tak saya mengerti. Dia malah berkata, "Kau tak usah berkutat menceritakan kenyataan, karena... realisme menyesaki yang nyata, penuh dengan kata-kata nyata, dengan bahasa yang menuding-nuding hidung realita. Yang nyata berubah dalam penceritaan." (hal. 73).

Maka bukan saya yang menuding realita dan labirin hidup, melainkan Cala yang menuding hidung saya. Tak perlu berkelindan dalam labirin karena katanya frustasi lebih mudah muncul jika kita memaknai buku ini secara rasional, mencari yang ada, atau bahkan mencari yang tak ada. Selebihnya biarkan Cala membawa saya, atau mungkin kita, untuk ikut berjalan-jalan. Sejenak duduk di atas punggungnya tak masalah, anggap saja seperti naik kuda. Dan sampai akhir cerita, saya bahkan ingin mengulang perjalanan, kalau bisa. Saya ingin berada di atas punggung Cala lagi, berkeliling Indonesia dalam mimpi asali yang membawa saya ke sebuah masa lalu. Masa lalu yang mungkin benar, atau bahkan tidak benar. Atau bahkan... saya yang akan mempertanyakan eksistensi saya sendiri. Apakah saya yang membaca Cala Ibi adalah MAYA? Ataukah saya adalah jelmaan Maia yang bias antara kenyataan dan kefanaan?

Entah... 

Kesendirian ini, rupanya sangat penuh... jika hari-hari dibiarkan mengalir, bagai duduk di punggung naga yang bercerita. Seperti melayang pada fantasmagoria. Mimpi asali, fantasi khayali.

Jumat, 22 Februari 2013

Bacabaca 20: Balada si Roy 1 - oleh Gol A Gong

Balada si Roy 1
Gadis skeptis agak kehilangan sedikit minat bacanya. Maka, dengan susah payah dia menyelesaikan buku sekuel dari Gol A Gong berjudul Balada si Roy. Buku pertama dan kedua dijadikan satu pada cetakan terbarunya. Ini menyenangkan, karena gadis skeptis tak harus menunggu buku lanjutan untuk mengetahui kisah. Seminggu lebih, Joe Avonturir berhasil ditamatkannya.


Hampir tak banyak yang bisa diceritakan si gadis skeptis, kecuali permainannya dengan takdir dan jodoh. Dia sedang senang berjalan kesana-kemari, tanpa arah dan tujuan. Selalu disandangnya ransel, ya mirip dengan si bandel yang ada dalam buku ini. Gadis skeptis sedang bimbang, sama seperti Roy, dia pun gamang untuk pulang.

Buku pertama dan kedua ini menceritakan kisah awal Roy. Dengan kehancuran yang luar biasa hebat pasca meninggalnya sang ayah, Roy harus memulai semua dari bawah lagi. Dalam kehidupan remajanya yang labil, tak jarang menemui konfik yang membuat remaja Roy harus bernafas lelah. Dalam kebimbangan, Roy menemukan cinta. Namun, menelan sendiri realita hidupnya yang berantakan, Roy harus memilih untuk pergi. Dia bawa serta cintanya bersama ransel dan jeans lusuhnya. Dia travelling mencari apa itu takdir, apa itu Tuhan, dan apa itu kesempatan.
Gol A Gong muda atau Roy?

Perjalanan mengubah dirinya menjadi sekuat batu, hatinya sekeras baja dan kedewasaannya menjadi lebih meningkat. Tapi, permasalahan hidup semakin meningkat pula. Dalam gamangnya langkah untuk terus ke Timur atau kembali pulang, Roy berada dalam kesendirian.

di bumi kedap suara begini
mau bilang apa?
kata-kata terucap hampa
atau sembunyi di balik kalbu

ah, ingin aku tak acuh
tapi kupingku malah jadi sakit

aku meronta
dalam kebisingan diri

Rys Revolta

Sajak-sajak menghiasi hidup Roy. Kenangan akan kawan-kawannya juga seakan kian menghalangi langkah Roy untuk terus ke Timur. Tapi, sudah sejak awal Gol A Gong membuat set seolah-olah Roy akan benar-benar mengikuti jejak ayahnya sebagai avonturir. Tak ada yang tahu pasti kemana takdir yang dibuat Gol A Gong akan membawa Roy. Buku ini adalah jelmaan dari kisah Gol A Gong sendiri, menurut saya sih begitu. Ya, berarti setelah ini saya harus membaca lanjutannya. Buku 3 dan 4 yang memuat kisah perjalanan Roy lebih jauh lagi. Pulangkah? Sudah lelahkah? Atau, terus melajukah ia?

[Ayu]

Judul: Balada si Roy 1: Joe Avonturir
Penulis: Gol A Gong
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978 979 22 9028 8
Halaman: 368
Harga: Rp 40.000
Rating: 3.5/5

Kamis, 31 Januari 2013

Bacabaca 19: Kubah oleh Ahmad Tohari

Ahmad Tohari
Baru-baru ini, saya menyelesaikan sebuah buku yang entah kenapa bisa menarik hati saya waktu itu. Buku ini adalah hadiah, bersama dengan satu buku lain yang mengangkat tentang feodalisme Jawa. Ketika itu, saya bingung memilih buku, sehingga orang yang bersama saya menawarkan saya untuk membeli keduanya. Ini sudah jelas traktiran, traktiran buku. Hehehe.

Buku hadiah yang pertama saya buka adalah buku Kubah karya Ahmad Tohari. Buku yang sempat mendapatkan penghargaan di tahun 1981 ini rupanya telah dicetak ulang oleh Gramedia. Dan saya membaca buku ini di cetakan baru. Saya rasa tidak banyak perubahan, selain tata bahasa yang disusun mengikuti zaman.

Kisah yang dihadirkan dalam Kubah bukan kisah baru yang berbeda. Ahmad Tohari menggambarkan kisah seorang kader komunis dengan mengambil beberapa kejadian sosial yang ada di desa-desa tak tersentuh. Seperti Ronggeng Dukuh Paruk yang mengambil kisah seorang Ronggeng, Kubah pun mengambil latar di sebuah desa dengan kondisi sosial dan agama yang harmonis namun kadang penuh kepalsuan. Seorang Karman, lelaki yang dibesarkan dalam kondisi sosial ekonomi yang kurang, nyatanya harus bergelut dalam kehidupan, antara dendam dan pilihan. 

Kisah dalam buku dibuka dengan perjalanan Karman menuju Pegaten, pulang dari pengasingan di Pulau Buru. Satu per satu bingkai hidup mulai tertata dengan sendirinya, Pegaten sudah banyak berubah. Namun, keraguan Karman untuk kembali ke kampung halaman yang membesarkannya itu tidak berubah sama sekali.

Dari situ, bab berikutnya mundur ke masa awal di mana Karman masih kecil. Hidup Karman tanpa ayah dan harus menjalani segalanya dengan sulit. Sampai Karman dewasa, Karman malah menjadi salah satu pemuda yang dilirik oleh partai komunis saat itu. Karman menjadi calon komunis, kader komunis. Semua pemahaman Karman akan strata sosial makin menjadi ketika Haji Bakir menolak Karman jadi menantu. Ini menambah dendam Karman dan dari bab ke bab, kita bisa membaca bagaimana proses Karman menjadi seorang komunis.

Kubah dan Kopi Kecil :D
Menuju akhir kisah, alur kembali maju. Setelah berjalan pada masa lalu dan penangkapan Karman untuk diasingkan ke pulau Buru, kisah kembali pada awal ketika Karman sedang melangkah keluar dari dinding beton di pengasingan. Karman kembali ke kampung halaman dan keluarga sudah menyambut. Akan diadakan syukuran kecil-kecilan, di mana Karman harus menempuh realita bawah istri Karman sudah dipinang lagi oleh lelaki lain. Karman sedih, meski tak seharusnya. Dan kisah pun berakhir dengan martabat Karman yang sudah kembali. Orang Pegaten mendapatkan Karman kembali, komunis tak ada lagi.

Kira-kira, buku ini cocok bagi mereka yang mau melihat seluk beluk sisa-sisa komunis. Bagaimana mereka orang komunis yang terasing, harus mengembalikan martabat mereka. Komunis-komunis itu pada awalnya pernah memiliki keyakinan yang satu terhadap Tuhan, sebelum akhirnya menjadi kader partai dan disusupi pemahaman yang menjauhkan dirinya dari rahmat. Dan buku ini cocok untuk mengembalikan pemahaman bahwa tak selamanya komunis itu buruk, demikian pula sebaliknya. Tak selamanya tuan tanah itu selalu jahat, karena ada pertimbangan-pertimbangan yang mengharuskan mereka melakukan hal itu, setidaknya itulah yang tertanam dalam buku ini. Masalah bagaimana kondisi tuan tanah di luar sana, itu urusan yang berbeda. [Ayu]

Judul: Kubah
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1980 (cetak ulang 2005)
ISBN: 9789796051762
Halaman: 189
Harga: Rp 38.000 
Rating: 4/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/2851991-kubah

Jumat, 25 Januari 2013

Bacabaca 18: Keajaiban di Pasar Senen oleh Misbach Yusa Biran

almarhum Misbach Yusa Biran
Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.

Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai diri mereka "Anak Senen" dalam cerita bersambung dalam suatu majalah.

Beberapa pembaca yang suka menginginkan cerpen itu dibukukan. HB. Jassin pun begitu. Jassin menginginkan tulisan Misbach menjadi sebuah buku yang utuh, dengan cerita-cerita pendek yang dikumpulkan dalam satu wadah. Tapi, karena belum sempat juga, akhirnya Ajip Rosidi yang mulai berinisiatif untuk mengumpulkan remahan cerpen Misbach dan sekarang sudah dicetak ulang dalam bendera KPG - Kepustakaan Populer Gramedia.

Cover cetakan baru oleh KPG
Kumpulan cerpen berjudul "Keajaiban di Pasar Senen" ini memotret kehidupan sederhana dari para pemuda yang memberi label diri mereka sebagai seniman. Entah karena memang seniman atau hanya karena ikut-ikutan saja. Meski begitu, para seniman dan seniman gadungan ini memang sudah membentuk atmosfir yang berbeda di Senen. Tempat mangkal mereka yang utama ada di sudut-sudut terminal, di rumah makan Padang "Ismail Merapi", di kedai kopi kecil "Tjau An", di bioskop Grand, dan di tukang kue putu dekat pangkalan bensin.

Seniman-seniman ini seringkali berkumpul, mengobrol sampai pagi hanya untuk berbagi kopi kecil. Banyak juga dilema yang terjadi di antara seniman, mulai dari dilema percintaan sampai kurangnya uang untuk makan. Misbach Yusa Biran menggambarkan kisah mereka secara nyata, penuh humor dan juga romantisme. Sebagai contoh saja, kisah seorang seniman yang belum juga mendapat honor atas karyanya, minta ditraktir kawan yang juga seniman dan sama-sama seadanya, pada sebuah cerpen berjudul "13 Kopi Kecil dan Asap Rokok." Jadilah, si seniman kurang uang ini seharian hanya minum kopi kecil dan memasukkan asap ke kerongkongan dan paru-paru hingga keesokan harinya, perutnya mulas tak karuan.

Ada juga kisah tentang seorang tukang cukur yang terlalu sering nongkrong bersama seniman, sampai membuat model rambut yang tidak-tidak. Dia berkata, "Aku sudah memilih, aku harus mencipta dalam bidang yang aku geluti, ya. Cukur rambut!" Dan dia berhasil membuat tokoh "aku" dalam cerpen berkata, "Andaikata jumpa pacar saya, tolonglah!" Kisah seniman satu ini ada dalam cerpen berjudul sama, "Andaikata jumpa pacar saya...tolonglah!"

Banyak juga kisah seniman-seniman lainnya. Seperti seorang Rebin yang bersikeras ingin menjual lukisan abstraknya yang tak bernilai seni sama sekali. Kisah tentang seniman yang membutuhkan uang sampai harus memeras kepala redaksinya dengan pintar sekali dan kisah-kisah lainnya.

Yang jelas, tujuh belas cerpen dalam buku ini telah membuat saya tertawa sekaligus menerbangkan imaji ke tahun 1950-an dimana Pasar Senen masih menjadi pusat seniman yang sangat nyaman, sebelum akhirnya Ali Sadikin memindahkan geliatnya ke Taman Ismail Marzuki.

Yang disayangkan, kalau saat ini kita pergi ke Senen, mungkin sudah tak kita dapati lagi sisa-sisa romantisme para seniman itu, karena mereka pun sudah tak terdengar lagi kabarnya. Sudah hilang, digerus waktu dan zaman. Jakarta sudah tak seromantis dulu. Maka, jika ada yang berminat menyesap sedikit saja aroma kopi kecil dan kue putu langganan para seniman Senen tahun 50-an, ada baiknya membaca pelan-pelan tujuh belas cerpen dalam buku ini. Niscaya, kerinduan akan Jakarta yang romantis, akan terobati (walau hanya sementara saja). [Ayu]

Judul: Keajaiban di Pasar Senen
Penulis: Misbach Yusa Biran
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 1971 (cetak ulang 2008)
ISBN: 9789799101297
Halaman: 177 
Harga: Rp 40.000 
Rating: 4/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/5465395-keajaiban-di-pasar-senen

Senin, 07 Januari 2013

Bacabaca 17: Kemamang oleh Koen Setyawan

Cover Kemamang
Akhirnya, setelah perjuangan berat untuk menyelesaikan buku yang tidak begitu tebal, kemarin malam saya berhasil menyelesaikan buku berjudul Kemamang, karya Koen Setyawan. Entah kenapa, fase membaca buku ini terlampau lama. Saya kira bisa selesai dalam sehari, tapi ternyata saya merasa cepat bosan dengan buku ini. Padahal, pembahasan buku ini hampir sama seperti Partikel-nya Dewi Lestari yang lebih tebal dan bisa saya selesaikan hanya dalam empatbelas jam saja. Buku yang memuat tentang UFO dan evolusi makhluk prehistorik yang berkembang secara tidak terkontrol sebagai hewan riset, malah membuat saya bosan. Di mana letak kesalahannya?

Buku ini saya dapatkan di basement Blok M Square, di mana kita bisa mendapat buku-buku murah dengan beragam jenis. Hehehehe. Sama halnya seperti Kwitang atau Senen, di Blok M kita bisa mendapatkan buku apa saja. Ketika sedang mengantar teman membeli kamus, tiba-tiba saja saya melihat buku ini di antara tumpukan buku lain. Tanpa pikir panjang, saya membelinya dan berniat membacanya setelah menyelesaikan Partikel.

Selesai membaca Partikel, saya segera membukanya. Namun, entah kenapa saya merasa kehilangan semangat ketika membaca kisah bagian tengah. Bagian awal masih bisa ditolerir. Saya menyukai kegiatan ekspedisi hutan dan dengan sukses bagian awalnya membawa saya ke bagian berikutnya. 

Mulai di tengah cerita, agaknya kisah pencarian Harimau Jawa yang dilakukan oleh dua orang mahasiswa, malah lari kemana-mana. Sebenarnya, kisah utama memang tentang UFO. Tapi, sebaiknya cerita tengan Harimau Jawa, tidak perlu diekspos begitu jauh, karena nantinya malah akan kehilangan jejak kalau tiba-tiba dua mahasiswa itu malah mengungkap misteri UFO dan melupakan pencarian Harimau Jawa.

Koen Setyawan dengan background buku pertamanya:
Giganto: Primata Raksasa di Jantung Borneo
Konflik dimulai dari tengah, ketika dua orang mahasiswa itu melihat cahaya di sekitar Danau Bakalan, lereng Gunung Lawu. Mereka melihat cahaya dan merasa kehilangan waktu. Keesokan harinya, mereka mendapati diri mereka tertidur di rumah singgah yang disediakan oleh Kades. Mereka pun merasa aneh dan memutuskan untuk kembali ke danau itu. Ketika kembali, mereka mendapati hal lain. Warga desa sedang gencar-gencarnya ronda karena banyak hewan ternak dan anak-anak kecil yang hilang. Maka, dua mahasiswa yang bernama Hari dan Panji ini, ikut warga mencari anak-anak.

Tak lama, mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh. Hari meyakini bahwa Kemamang cahaya itu adalah UFO yang hendak melindungi mereka dari bahaya sebenarnya. Belakangan, diketahui Hari dari Kemamang UFO itu, bahwa Danau Bakalan telah menjadi habitat hewan prehistorik yang sedang dikembangkan oleh para UFO dan terjadi mutasi yang tidak terhenti.

Singkat cerita, para hewan itu mulai berevolusi menjadi makhluk yang lebih besar dengan kepintaran luar biasa. Para "Kemamang" atau UFO, melakukan berbagai cara untuk menghalaunya. Hari dan Panji berada dalam suasana genting, antara menyelamatkan nyawa sendiri atau nyawa seisi desa. Dan ketika banyak korban yang sudah bergelimpangan, akhir cerita buku ini sangat tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Ending buku ini seperti menukik tajam. Tidak ada anti-klimaks dari konflik dan tiba-tiba saja, dengan tidak bisa diprediksi, si hewan mutasi yang buas itu tiba-tiba saja mati kaku di depan Hari, Panji, Pak Kades, Mijan, dan gadis kecil yang sempat diculik. Selesai membacanya, saya masih berpikir. Kok bisa? Kok gini? Kok gitu? Kok dan kok lainnya. Ya begitulah, akhir dari buku ini yang membuat saya masih bingung sampai sekarang. Hahahaha. Memang, dijelaskan oleh si UFO kalau hewan itu menghancurkan dirinya sendiri.

"Agupta chezeni menghancurkan dirinya sendiri."

Dan setelah itu, desa kembali aman tentram damai. Setelah sekian lama dibalut kengerian, kenapa bisa secara tiba-tiba jadi tenang. Sungguh tidak masuk akal sih. Tapi, secara keseluruhan, buku ini sudah secara berani mengungkap tentang fenonema "benda langit" yang tidak teridentifikasi sampai sekarang. Yaaaa, cukup menghibur lah buat saya. Bagi yang penasaran, sila beli bukunya di toko buku terdekat anda! Selamat membaca dan berekspektasi seperti saya! :D [Ayu]

Judul: Kemamang
Penulis: Koen Setyawan
Penerbit: Goodfaith
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 9786029600001
Halaman: 317 
Harga: Rp 35.000-an (lupa harga aslinya, karena saya beli di bazaar murah :D) 
Rating: 3/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/7405775-kemamang