Selasa, 24 April 2012

Bacabaca 9: Larutan Senja oleh Ratih Kumala

Ratih Kumala
Sejak membaca cerita tentang kultur Betawi di novel Ratih Kumala yang tak sengaja terbeli, saya jadi tertarik untuk membaca beberapa karya Ratih Kumala yang lain. Saya membaca karya Ratih secara acak, tidak berurutan, karena saya memang baru mengetahui tentang penulis satu ini dari koran. Saat menemukan Kronik Betawi dan sempat saya ceritakan di sini, saya pun ingin membeli lagi.

Setelah mendengar bahwa Ratih akan launching buku terbarunya yang berjudul Gadis Kretek, saya malah membeli kumpulan cerpennya. Entah darimana keinginan itu, yang jelas saya menemukan kumpulan cerpennya secara tidak sengaja. Kumpulan cerpen ini memuat beberapa cerita pendek Ratih Kumala yang sudah pernah diterbitkan dalam kolom-kolom surat kabar. Menurut saya, cerpen Ratih Kumala memang tidak biasa dan mengandung unsur-unsur yang jarang sekali dikemukakan oleh penulis muda. Berbagai hal yang menyerempet kepada kultural, sosial, dan juga dunia perdukunan seakan menghiasi setiap tulisan-tulisannya.

Yang menarik pula dari kumpulan cerpen ini adalah ilustrasinya. Beberapa ilustrasi bertema sama, seperti selongsong manusia  yang tak jelas bentuknya dan menyerempet pada karya psychadelic tergambar di awal cerita, sebelum judul cerpen. Melihat dari bagian depan buku, ilustrasi tersebut adalah gambar dari suami Ratih sendiri, seorang penulis bernama Eka Kurniawan. Ilustrasinya menarik. Seolah memaksa pembaca untuk berimajinasi tentang cerita, dari awal gambar.


Kumpulan cerpen Larutan Senja ini terdiri dari empatbelas cerita. Bagian awal dimulai dengan cerita perdukunan dan dendam. Cerita dari cerpen pertama seolah menggambarkan bahwa dendam diturunkan dan diwariskan*. Dengan penggambaran latar pedesaan yang masih memungkinkan seseorang untuk melakukan praktek klenik.


Cover Depan

Selain ketertarikan pada endorsement yang diberikan oleh beberapa sastrawan terkenal, saya tertarik membaca larutan senja karena sinopsis yang disampaikan. Kita harus banyak berimajinasi dan berpikir untuk membaca pesan tersirat yang hadir dari setiap cerpen Ratih Kumala. Saya suka cerita yang seperti itu. Saya suka cerita yang memaksa saya untuk berpikir, akan jadi apa jalan cerita ini? Cerita ini sebenarnya tentang apa? Dan pertanyaan lain yang serupa. Intinya, saya sangat menyukai jalan kisah yang membuat saya bisa berspekulasi macam-macam dari kisah tersebut.

Dalam alam imajinasi Ratih Kumala, bumi ini terdiri dari berbagai larutan yang ditemukan oleh sekelompok penemu di langit sana. Salah seorang penemu menciptakan larutan gerak agar manusia bisa bergerak, angin bertiup dan laut bergelombang. Penemu ini juga menemukan larutan yang rasanya tidak manis seperti siang, tidak pahit seperti malam, memiliki warna elegan. Larutan ini ia beri nama Larutan Senja. Tuhan yang mengetahui penemuan ini ingin mengambil larutan itu dan meneteskannya ke bumi agar semakin indah. Si Penemu tidak mau memberikannya karena menganggap Tuhan tidak adil. Selama ini Tuhan selalu menerima pujian atas penemuan-penemuannya. Tuhan bahkan tidak menyebut bahwa penemuan itu adalah hasil kerja kerasnya. Maka Tuhan pun mencuri larutan senja dan meneteskan ke bumi. Si penemu merasa kecolongan dan membuat sebuah larutan untuk membalas kecurangan Tuhan; larutan yang menakutkan bagi umat manusia. Beberapa cerpen lain dalam Larutan Senja menyingkap dunia perdukunan, alam memedhi, dan kehidupan setelah mati.Tema-tema yang unik dan jarang dikuasai oleh penulis kontemporer dewasa ini.

Setelah yang pertama, maka yang paling terakhir juga akan saya bahas. Cerpen terakhir yang berjudul Buroq, bercerita tentang seorang bejat yang mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Dari cerpen ini, saya seolah mendapatkan pencerahan dan bukti kekuasaan Tuhan. Tuhan tak pernah pilih kasih. Siapapun bisa jadi orang terpilih. Seorang bejat yang bernama Cimeng itu, dulunya adalah seseorang yang taat agama. Sampai si Ustadz yang sering mengajarnya di surau, mengecewakan dirinya. Orang bejat ini akhirnya berpikiran untuk pergi saja dari kampung halaman dan tinggal menetap entah dimana. Sampai suatu saat, setelah bertahun-tahun lamanya, mimpi yang sama itu datang lagi. Mimpi melihat cahaya. Mimpi yang sama saat ia kecil dan telah berhasil memberi hidayah dan juga pemahaman bahwa dia memang orang yang terpilih. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bermimpi melihat Nabi dan orang bejat ini jadi rindu rumah. Sungguh cerita yang sangat sederhana, tapi memiliki makna mendalam. Dan hal seperti ini, sudah jarang saya dapatkan dari penulis-penulis muda, dewasa ini.

Dan dengan membaca karya Ratih Kumala--lagi--saya jadi tertarik untuk mengoleksi beberapa karyanya yang lain. Ya, semoga saja ada rezeki berlebih untuk mengumpulkan satu demi satu karya Ratih Kumala yang masih terserak di jagat perbukuan. [Ayu]


Judul: Larutan Senja
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia
Genre: Kumpulan Cerpen, Spiritual, Metafisika
ISBN: 979 - 22 - 2029 - 1
Halaman: 145 
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 5 / 5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/6094245-larutan-senja

Rabu, 18 April 2012

Bacabaca 8: Kumcer Untukmu Munir

Cak Munir
Seharusnya saya menuliskan ini hari Selasa lalu. Hanya saja, saya sedang bingung mau memulainya dari mana. Makanya, saat ada kesempatan, saya baru menuliskannya.

Hari Rabu ini menggantikan hari Selasa untuk membahas tentang buku. Ya, buku dan buku. Katanya, banyak membaca itu menjembatani antara bodoh dan semakin bodoh. Saya setuju, karena dengan begitu banyak membaca cenderung membuat orang skeptis dan bodoh. Bodoh dalam bersosial? Bisa jadi. Seperti saya ini lah. Dan karena saya suka menjadi bodoh, maka saya membudayakan membaca. Hehehe.

Ini buku ke-17 yang saya baca. Di antara deretan buku yang siap untuk dilahap, saya  mengambilnya. Buku ini tipis. Tak banyak yang diharapkan dari buku tipis. Seyogyanya memang begitu. Tapi, saya tak pernah membedakan ras antar buku. Apakah yang tipis itu bagus atau yang tipis itu jelek? Bagi saya, asal menarik dan berarti untuk dibaca, pastilah saya baca.

Dan benar saja. Buku tipis tak selalu benar-benar tak sarat makna. Justru, dengan penyampaian yang lugas dan singkat, sebuah buku akan menemui masing-masing perkaranya. Buku tebal untuk apa, buku tipis untuk apa, dan buku apa untuk apa. Seperti itulah penilaian saya terhadap buku.


Buku ke-17 ini agak menyerempet pada dekatnya kasus Trisakti dan Semanggi dan kasus lainnya dimana para aktivis mati. Bulan mei, pada 98 lalu, sebagai bulan bagi aktivis yang mati. Semua kasusnya diusut dan diratakan oleh Munir, seorang aktivis HAM dan pendiri KontraS. Sampai pada pertengahan 2004, Munir pun menghilang.

Berbagai media mulai mengangkat sosok Munir. Tak jarang pula komunitas sastra yang ikut bersuara melalui karya. Seperti membuat antologi, membuat novel semi-biografi, membuat kumpulan sajak, dan lain sebagainya. Buku tipis yang saya dapatkan di deretan buku sastra di TM Poins, termasuk salah satu dari itu. 


Untukmu, Munir... 
Judulnya sederhana. Desain sampul bukunya pun sederhana. Dan tebak bagaimana isinya? Isinya sangat sederhana, namun mengena. Mengena maksud, mengena pula tujuan dibuatnya. Tak banyak bertele-tele dan lugas. Buku sederhana dan tipis ini berjudul Untukmu, Munir. Sebagai bentuk simpati terhadap pejuang HAM itu, buku ini lahir. Dibuat oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang berkutat dalam Sastra di FIB UI, buku ini disunting oleh Asep Sambodja. Salah satu penulis golongan kiri dan juga sastrawan inilah yang mewujudkan buku tersebut menjadi ada. Dan saat ini, tulisan ini juga untuk memberi apresiasi atas karyanya. Asep Sambodja telah wafat dan hanya tinggal tulisan kiri saja yang bisa kita simak.

Cerpen-cerpen dalam buku ini digambarkan secara realistis. Tak mengubah nama maupun kejadian sesungguhnya, tentu saja buku ini mendulang kritik. Hanya saja, beruntungnya para penulis buku ini adalah, buku ini tak lahir di rezim orde baru. Coba, kalau lahir? Pastilah penulisnya mati satu-satu. Buku yang memuat fakta ini seolah memojokkan para pelaku kasus pembunuhan Munir. Para pelaku yang masih berkeliaran itulah, hendaknya bisa lebih hati-hati bertindak karena masih ada yang hidup. Masih ada yang tak dibungkam dan masih ada yang peduli.

Alm. Asep Sambodja
Buku ini sebagian besar digambarkan sebagai sudut pandang pertama. Ada penulis sebagai Suciwati--istri Munir, ada penulis sebagai Munir, dan penulis sebagai teman Munir--seorang wartawan yang tak disebutkan namanya.

Melalui tokoh 'Aku', kita diajak terbang bersama GA-974. Duduk di kursi 40G--yang kadang disebutkan juga sebagai 40A, sehingga menuai ambigu dalam buku ini--kita diajak melihat bagaimana kejadian dan relokasi pada posisi Munir. Berbagai kisah fiksi yang timbul dari spekulasi dalam buku ini, tak jarang menuai maksud ambigu dari buku. Pembaca seakan harus menebak pula, apakah benar atau salah? Apakah dokter yang terlibat bernama dr. Taher, atau Tarmizi? Apakah Pollycarpus saat itu bertugas sebagai pilot, atau awak kabin?

Semua pertanyaan itu tak henti-hentinya berkecamuk. Kita hanya bisa menikmatinya lewat penelusuran penulis sebagai tokoh 'Aku' alias Munir. Yang saya sayangkan mungkin hanya bentuk ambigu itu. Sedangkan, untuk keseluruhan buku, saya suka. Buku ini lugas dan fungsinya sebagai buku pun tersampaikan. Meski kadang membuat saya jadi kelewat skeptis, ya sudahlah. [Ayu]

Judul: Untukmu, Munir
Penulis: Mahasiswa UI dan Asep Sambodja
Penerbit: Bukupop
Genre: Sastra, Semi-biografi, Memoar, Semi-fiksi
ISBN: 9789791012263
Halaman: 88 halaman
Harga: Rp 18.000,-
Rating: 4 / 5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/13602454-untukmu-munir


Selasa, 10 April 2012

Bacabaca 7: Lenka oleh Sarekat Penulis Kuping Hitam

Hari Selasa dalam minggu kedua bulan April ini, sudah saatnya saya mengulas kembali apa yang saya baca minggu lalu. Dan setelah mencapai buku ke-16 di tahun ini, sudah saatnya saya menceritakan tentang buku bacaan yang sama sekali berbeda dengan genre yang kemarin. 

Buku ini dipinjamkan oleh seorang blogger dan juga kakak dari kampus tetangga, seorang jurnalis sekaligus tukang baca.

Sarekat Penulis Kuping Hitam
Buku novel sastra-kontemporer ini ditulis secara bersama-sama alias keroyokan. Komunitas penulis yang menamai diri mereka dengan sebutan "Sarekat Penulis Kuping Hitam" ini adalah para kader-kader penulis yang dihasilkan dari Bengkel Penulisan Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) pada tahun 2008 dan 2009. Setelah sekian lama bergelut dengan emosi dan elegi masing-masing, akhirnya mereka bisa menghasilkan satu novel beralur campuran yang diberi judul LENKA.

Sekilas, saya agak kaget ketika membaca. Saya pikir, judul bukunya Lekra. Ternyata saya salah baca judul. Setelah memperhatikan lebih lanjut, judulnya benar-benar LENKA. Kalau Lekra kan kesannya jadi sangat 'kiri' sekali buku ini. Kenapa? Kalau kalian menghafal cerita-cerita komunisme Indonesia, pastilah akan mengenal Lekra alias Lembaga Kebudayaan Rakyat.


Kembali pada LENKA. Buku ini ditulis oleh kurang lebih tujuhbelas penulis muda dari berbagai status sosial dalam masyarakat dan menamai kelompok mereka "Sarekat Penulis Kuping Hitam". Dimoderasi oleh dua penulis sekaligus sastrawan-kontemporer A.S. Laksana dan Yusi Avianti Pareanom, buku ini lahir dari buah pikir yang difermentasi selama beberapa tahun lamanya sampai menjadi sebuah karya utuh.

Novel berjudul Lenka ini, ditulis bersama dengan 16 orang lainnya yang dulu pernah menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel DKJ periode 2008-2009, dimulai dari sebuah situasi : “Pada sebuah acara penggalangan dana, seorang perempuan muda bergaun wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?” 

Seperti yang kita baca dari sinopsis mini di atas, novel ini bercerita tentang sosialita atau kehidupan kalangan atas. Penuh dengan drama dan intrik romansa yang terbaca dari setiap alur novel. Bagian-bagian yang tak pernah terbayangkan kerap kali muncul dalam cerita. Dan uniknya, alur campuran yang ada dalam novel ini benar-benar campuran! Kita hanya bisa menangkap rentang waktu yang terbaca dari sub judul pada buku ini. Setiap babnya hanya diberi sub judul begini: "1. (Keterangan Waktu) xxx Malam Pesta".

Contoh penggambaran sub judulnya ialah sebagai berikut:
  1. Malam Pesta
  2. Dua Puluh Lima Tahun Sebelum Malam Pesta
  3. Tiga Hari Setelah Malam Pesta
  4. Dan sebagainya
Cover Depan LENKA
Nah, penggambaran sub judul itulah yang memberikan kita ruang satu-satunya untuk berdaya khayal seputar latar waktu pada novel. Bagi yang tak peka, pastilah terkecoh. Dan alur campuran yang memutarbalikkan antara masa kini dan masa-masa sebelum kini itulah yang membuat novel ini begitu sarat dengan kebingungan dan misteri.

Misteri tentang Lenka, apakah mati bunuh diri atau dibunuh? Lenka yang menjadi model namun memiliki otak super cerdas dengan mengambil studi filsafat di kampusnya. Lenka yang begitu menelan bulat-bulat apa yang dia pahami dari filsafat dan Albert Camus. Juga tentang Lenka yang menjadi model "fotografi pembebasan" bersama Helong Lembata--seorang fotografer sekaligus kekasih terakhir Lenka--dan melancarkan aksi "sadomasokisme" yang perlahan dia anut.

Semua itu tak sebanding dengan keluarga Lenka yang dikenal sebagai kalangan sosialita paling tinggi di kota mereka saat itu. Ayahnya, Tiung Sukmajati, adalah seorang komposer musik yang terkenal. Ibunya, Luisa-Bathory, adalah seorang sosialita yang dipandang di kalangan atas dan kakanya, Pandan Salas, adalah seorang pecatur muda yang sedang digandrungi oleh kalangan pecatur dan dunia muda pada masa itu. Dan semua itu memang tidak sebanding dengan kematian Lenka yang masih menjadi misteri. 

Membaca ini seperti membaca depresi. Depresi yang didapat dari seorang sosialita yang tidak pernah merasa bahwa dirinya ingin menjadi seperti itu. Dan depresi itu kita lewati juga dalam setiap lembar buku. Seolah ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Lenka dari kematiannya. Dan hati-hati membacanya kalau kalian selalu menelan bulat-bulat bacaan kalian. Pahami dahulu, sebelum akhirnya mencoba menjadi sama seperti buku. [Ayu]


Judul: Lenka
Penulis: Sarekat Penulis Kuping Hitam, Yusi Avianti Pareanom, A.S. Laksana
Penerbit: Banana Publisher
Genre: Sastra-kontemporer, Drama, Sedikit Filsafat
ISBN: 9789791072
Halaman: 262
Harga: Rp 45.000,-
Rating: 5 / 5
Gambar: random Google

Selasa, 03 April 2012

Bacabaca 6: Danur oleh Risa Saraswati

"Tahukah kalian apa itu Danur? Danur adalah cairan berbau yang menyeruak dari seseorang yang sudah mati...."

Abaikan tulisan curhat saya Senin kemarin. Itu hanya buah pikiran di sela-sela rutinitas membosankan kok. Hari ini Selasa, dan sesuai janji untuk diri sendiri--meski membuat bingung--saya ternyata bisa membereskan buku ke-15 di tahun ini. Sejauh ini, janji membaca dari reading challenge di Goodreads yang seharusnya tidak perlu diambil pusing nyatanya malah bisa maju sedikit-sedikit, sesuai target. Dan karena janji pun, saya menulis ulasan buku-buku bacaan itu untuk menghibur teman-teman sekalian.

Risa Saraswati
Saya adalah tipe orang yang suka membaca berbagai jenis buku. Di antara ribuan perempuan seusia saya yang senang membaca roman klasik, metropop, dan beberapa kisah fantasi, saya mengabaikan pemahaman itu. Buku saya cukup beragam, dari yang saya miliki sampai pinjam ke teman. Dan kali ini, saya membaca buku beraroma horror dengan gaya bercerita seperti diary karena sepertinya buku ini memang slice-of-life dari si penulis sendiri, Risa Saraswati.

Sedikit info, Risa adalah musisi. Musisi yang dulu tergabung dalam band indie bernama Homogenic. Sekitar beberapa tahun lamanya setelah Homogenic mulai digandrungi para pecinta musik keren di Bandung, Risa keluar dan membentuk Sarasvati--proyek solo Risa sendiri.

Sarasvati yang terkesan misterius dan suram ternyata didasari dari kisah Risa yang sejak kecil senang berbicara dengan tembok--sepertinya ada sesuatu di depan tembok itu, seperti hantu misalnya? Dan lirik-lirik lagu yang terdapat dalam lagu Sarasvati, ada juga di buku yang dia tulis sendiri, berjudul Danur. 

Buku Danur saya temukan di rak ketiga, di antara deretan buku bergenre campuran dalam indeks Indonesian Books di Kinokuniya Plasa Senayan. Buku yang hanya tinggal satu-satunya ini saya ambil. Apa yang membuat saya penasaran ingin membelinya? (Waktu itu saya beli bersamaan dengan buku Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) yang pernah saya ulas di sini.)

Jadi, sampul buku ini menarik. Setelah saya telusuri, ternyata sinopsis di bagian belakang buku juga menarik. Biasanya, indikator saya dalam membeli buku yaaa seperti itulah. Setelah ditelusuri lagi, ternyata penerbitnya Bukune--masih anak Gagasmedia juga. Dan saya putuskan untuk membeli buku ini bersamaan dengan buku Djenar Maesa Ayu yang juga tinggal satu. Selain sampul dan sinopsis, endorsement dari seorang jurnalis majalah musik pun memberi komentar seperti ini:
Meski membuat bulu kuduk berdiri, novel ini bukan buku misteri. Novel ini sesungguhnya bercerita soal persahabatan antar dimensi dengan cara yang menyentuh. Bisa dibilang, Risa telah 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus itu lewat novel ini. — Soleh SoLihun, Jurnalis Rolling Stone Indonesia
Hari-hari berlalu dan sudah saatnya saya membuka buku ini. Antara perasaan ingin membukanya dan tidak ingin. Pasalnya, saya ini penakut. Saya masih percaya kalau hantu bisa dengan tiba-tiba memunculkan wajah mereka. Saya takut kalau membaca Danur bisa membuat saya bersugesti yang macam-macam. Setelah memastikan lagi, akhirnya saya baca buku tersebut.

tampilan cover depan dan belakang buku

Danur bercerita tentang kisah hidup Risa sejak kecil sampai dewasa. Risa yang sejak kecil memiliki kemampuan untuk melihat makhluk halus dan berbicara dengan mereka, mendapatkan lima orang teman kecil yang berbeda dunia dengannya. Semua indah pada awalnya, sampai suatu ketika, kelima temannya menagih janji Risa untuk bisa bersama mereka selamanya. Ketika umur Risa 13 tahun, mereka menagih janji pada Risa perihal dirinya yang ingin bersama Peter, Hans, Hendrick, William, dan Janshen di dunia hantu. Ternyata, hal itu tidak bisa Risa tepati sehingga membuat kelima temannya menjauh. Kelima teman Risa ini adalah hantu Belanda yang berdiam di rumah Risa tinggal karena mencari sesuatu yang belum selesai.

Kehilangan sahabat hantu membuat Risa menjadi perempuan murung yang semakin hari semakin aneh. Risa pun sadar kalau dirinya harus menjadi perempuan normal, mengingat usianya yang sudah semakin beranjak dewasa. Risa pun berjanji pada diri sendiri untuk mengabaikan segala kemampuannya dengan berpura-pura tak bisa melihat hantu. Namun, masalah lain muncul. Hantu-hantu yang mulai beragam jenisnya itu, menghampiri Risa karena tahu bahwa Risa bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka. Tak jarang ada hantu yang sangat buruk rupa dengan bau Danur yang menyengat, menghampiri Risa untuk meminta pertolongan. Hal itu membuat Risa mengutuk kemampuannya dan perlahan-lahan teringat akan sahabat hantu pada masa kecilnya.

artwork Danur

Menjelang akhir cerita, Risa dikabarkan sama seperti pada kondisi aslinya. Risa yang suka bermusik dan tergabung dalam band, mulai bersolo karir. Terlihat sekali bukan, kalau kisah ini memang slice-of-life si pengarang itu sendiri. Dan Risa yang bersolo karir itu membuat lagu yang didedikasikan untuk sahabatnya, dengan judul lagu Story of Peter. (Lagu ini juga judul lagu Sarasvati yang Risa bangun lho! Bisa didengar di youtube atau web Sarasvati di sini.)

Lagu yang dibawakan dengan segenap hati itu akhirnya memunculkan kembali lima sahabat kecil Risa. Para hantu Belanda yang dulu mewarnai hidup Risa yang muram. Dan akhir cerita pun dibuat sebagai akhir dari buku diary Risa sendiri.

Isi buku ini rupanya tak seperti yang saya harapkan. Meski membuat saya bergidik kala membaca bagian hantu-hantu yang seram, tapi tak membuat saya terbawa alur. Hal itu pula yang membuat saya harus melewati waktu yang lama hanya untuk membaca sebuah buku ringan. Berbeda dengan buku bertopik berat yang bisa saya habiskan semalam saja karena tema dan alurnya yang mengalir. Tapi, saya sarankan jangan membaca buku ini sendirian, karena Risa sukses membuat sugesti bahwa ada yang menemani kalian saat membaca buku. Hehe. Jadi, untuk rating buku ini saya beri angka 3.5 dari 5 ya! [Ayu]

Judul: Danur
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Genre: Drama, Slice-of-life, Horror
ISBN: 602-220-019-9
Halaman: 216
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 3.5 / 5
Gambar: random google