Selasa, 27 Maret 2012

Bacabaca 5: Jangan Main-Main dengan Kelaminmu oleh Djenar Maesa Ayu

Djenar Maesa Ayu
Hari Selasa ini adalah waktunya untuk review buku ke-14 dalam reading list yang saya harus selesaikan di tahun 2012. Dan untungnya, sesuai target, sepertinya saya bisa membereskan limabelas buku untuk bulan ke-3 di tahun 2012 ini. 

Buku ke-14 ini sepertinya tidak akan jauh-jauh dari tema dua buku di minggu-minggu sebelumnya. Buku kali ini masih berkutat di seputar kehidupan dewasa. Hehe. Bukannya saya suka cerita-cerita berbau vulgar. Saya membacanya terlebih karena saya lebih dulu membaca tema yang ditawarkan. Kali ini, marilah kita angkat tema feminisme.

Buku ke-14 ini adalah buku dari seorang penulis berbakat dan kerap kali memenangkan penghargaan dan juga nobel sastra di Indonesia maupun luar negeri. Kenalkah kalian pada Djenar Maesa Ayu? Nah, itulah nama penulisnya. Dan buku yang saya baca dari penulis tersebut berjudul Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu).

Ada sebelas cerita pendek dalam buku ini. Kesemuanya mengisahkan tentang perempuan dan problematikanya. Awal-awal membaca cerpen pertama, memang agak membingungkan karena bercerita dari sudut pandang empat orang yang berbeda. Yang mencirikan khas Djenar pun tergambar dari setiap cerpen. Cinta semalam, seksologi, perempuan malam, desah dan peluh, juga ciri khas lain yang mungkin akan kalian dapatkan kalau membaca karya-karya Djenar yang lain.

Cover Jangan Main-Main
Salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Djenar ini sempat menjadi cerpen terbaik Jurnal Perempuan pada tahun 2002 dalam rangka mengkampanyekan "Anti Kekerasan Pada Perempuan". Cerpen yang dimaksud berjudul "Menyusu Ayah" dan menggambarkan seorang gadis bernama Nayla yang rindu Ibu, sehingga mengganti sosok Ibu dengan Ayah.

Cerpen berjudul "Staccato" dituliskan dengan gaya penulisan menarik. Pemotongan-pemotongan kalimat yang berulang dan bergaya susul-menyusul sehingga menjadi menarik. Meski tema yang disajikan tak jauh dari hal yang berbau "vulgar", tak mengurangi keindahan unsur literatur Indonesia. 

Cerpen yang tak kalah menarik adalah cerpen berjudul "Moral". Membahasakan bagaimana moral bisa dibeli. Membahasakan bagaimana moral dijual murah, dikalahkan dengan rok mini yang berharga lebih mahal. Membahasakan bagaimana orang-orang di pesta, memakai "moral" sedangkan seorang perempuan dan sahabatnya yang trans-gender tak memakai moral. Ini menampar semua orang dan bagian terakhir cerpen yang berbunyi, "Hari ini moral diobral di DPR lima ribu tiga!", jelas menampar pemerintahan. Bagaimana tidak? Demi uang dan tahta, moral rela diobral pemerintah busuk kita.

Cerpen lain tentang problematika perempuan atas kecantikan fisik tergambar dalam cerpen berjudul "Payudara Nai-Nai". Nai-Nai seorang Tionghoa yang mempertanyakan, kenapa dirinya dinamai Nai-Nai? Padahal, arti Nai-Nai sendiri adalah payudara sehingga membuat dirinya diolok-olok teman karena namanya tidak sesuai dengan bentuk fisiknya. Hal tersebut membuat Nai-Nai jadi semakin gila. Dia senang membaca stensilan yang akan dijual ayahnya pada malam hari dan dia seringkali berfantasi.

Cerpen-cerpen lainnya bisa dibaca sendiri dalam buku kumpulan cerpen ini. Semua cerpen yang ada dalam buku tersebut bukanlah cerpen seks semata melainkan cerpen yang di dalamnya tersisipkan perasaan dan hal yang ditabukan masyarakat. Betapa peran perempuan pengganti sangatlah besar dan betapa perempuan begitu berharga dan sudah seharusnya untuk dihargai dan dihormati. Betapa perempuan menjadi bermasalah bukan karena dirinya ingin, tetapi karena suatu faktor yang membuatnya begitu. [Ayu]

Judul Buku: Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)
Pengarang: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2004
ISBN: 9789792206708
Page: 200
Genre: Kumpulan Cerpen, Bacaan Dewasa, Feminisme
Harga: Rp 35.500,-
Rate: 2 / 5
Pics: random from Google

Selasa, 20 Maret 2012

Bacabaca 4: Saman oleh Ayu Utami

Ayu Utami with her bookshelves
Hari ini sudah hari Selasa dan itu berarti, saatnya untuk membahas tentang buku dan bumbu-bumbunya. Sebenarnya sih, mau bahas musik hari apa, film hari apa, buku hari apa, orang gondrong hari apa (eh), itu sih suka-suka saya saja. Hehe. Dan kebetulan, saya baru selesai baca buku. Setelah dibaca, tentu saja akan saya ulas di sini untuk teman-teman semua. Buku ke-13 yang saya baca tahun ini adalah salah satu buku karya penulis kelahiran tahun '68, Ayu Utami. Penulis sekaligus aktivis jurnalis ini menulis novel pertamanya yang berkutat di seputaran monotheisme dan militerisme. Novel yang rilis tahun '98 dan mendapat beberapa penghargaan itu diberi judul Saman

Saya sebenarnya mendapat buku ini karena dipinjamkan oleh seorang teman kantor. Saya yang hari itu sedang kurang dana untuk membeli buku, harus meminjam agar bisa memenuhi reading challenge yang serius diikuti dari Goodreads. Nyatanya, setelah saya mendapatkan buku untuk memenuhi target baca di urutan ke-13, saya malah beli buku lagi. Duh, susahnya jadi saya. Kalau jalan-jalan di Kinokuniya atau Gramedia, tidak bisa kalau tidak pulang tanpa satu kantung buku. Entah beli satu saja, atau berpuluh-puluh buku. Maklum,  masih dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca santai.

Kembali ke ulasan tentang Saman.

Sebenarnya saya ini ketinggalan zaman sekali kalau baru sempat baca Saman. Buku ini sudah laku beratus-ratus ribu eksemplar dan saya baru memilikinya. Hmm, ralat. Saya baru meminjamnya di tahun 2012 ini! Yah, bagaimana ya. Maklum, sekarang saya baru bekerja dan baru bisa beli buku sendiri. Jadi, baru mulai setahun belakangan ini saya mengumpulkan buku. 

Bagian Depan Novel Saman
Saman adalah salah satu tokoh di dalam buku dengan judul serupa. Nama Saman dipilih oleh si tokoh yang memang sedang menukar identitas dalam pelariannya. Sebelumnya, si tokoh Saman disebutkan bernama Wisanggeni. Wis adalah seorang agamis, seorang pastor muda yang menyerahkan seluruh hidup untuk mengabdi pada umat gereja. Namun, sejak kepergiannya ke sebuah kota kecil tempat dia dibesarkan, membuka hati dan pikiran humanisnya ke sebuah daerah terbelakang bernama Lubukrantau.

Di sana, dia mendapati seorang perempuan gila yang muda dan memiliki libido tinggi. Perempuan muda dan gila itu tak jarang mengganggu orang dengan kegiatan-kegiatan yang berbau seks. Maklum, namanya juga orang dengan mental terbelakang. Justru, itulah yang membuat Wis alias Saman, menjadi betah tinggal di Lubukrantau. Bukan, bukan karena keingingan seks milik Saman, tapi selebihnya hanya agar si Upi--nama gadis itu--memiliki teman dan tidak dikucilkan oleh orang sekitar.

Semakin berjalannya waktu, Saman pun akhirnya terlibat lebih kompleks dengan emosional orang-orang daerah Lubukrantau. Semakin hari, desa itu berubah. Ada perusahaan besar yang ingin memonopoli lahan Lubukrantau untuk dibuat perkebunan kelapa sawit. Semua itu membuat warga berontak. Upi diperkosa bahkan akhirnya mati karena terbakar dalam kebakaran buatan yang dimanipulasi oleh si cukong perusahaan itu saat membumihanguskan rumah warga.

Saman bersama yang lain berdemo dan bergerilya untuk melawan. Tapi, akhirnya Saman pun diculik dan dibungkam. Dia dimasukkan dalam sel dan disiksa sepanjang hari. Penggambaran ini mengingatkan kita akan penculikan misterius yang terjadi pada masa orde baru. Di sinilah eksistensi Ayu Utami dipertaruhkan. Banyak orang yang menilai bahwa Ayu Utami sangatlah berani, dengan mengangkat isu-isu yang terjadi pada masa itu.

Bagi saya, yang penting bukan unsur seks dewasa yang ada pada buku tersebut. Yang perlu ditekankan adalah sebuah keberanian dan keyakinan seseorang akan sesuatu. Entah agama, pemerintah, atau keyakinan diri sendiri. Dan novel Saman ini bisa membangkitkan seseorang untuk yakin dan berontak akan hal yang tidak sesuai dengan diri sendiri.

Nah, bagaimana? Tertarik membacanya? Silakan cari bukunya di ranah online atau di toko buku bekas yang sudah tersebar luas, karena saya tak yakin kalau buku ini masih diproduksi. Semoga saja masih, supaya bisa mendapat cetakan terbarunya yaaa. [Ayu]

Judul Buku: Saman
Pengarang: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Rilis: 1998
ISBN: 9799023173
Pages: 208
Genre: Roman Dewasa + Issues (Politic, Human Rights, Religion)
Harga: Rp 35.000,-
Rate: 4.5 / 5
Pics: random taken from Google


Selasa, 13 Maret 2012

Bacabaca 3: Arswendo Atmowiloto - 3 Cinta 1 Pria

Berhubung saya akhir-akhir ini sedang kelewat bokek dan nggak ada kerjaan, saya rela deh baca buku sampai berhari-hari. Hehe. Sebenarnya itu alasan pembenaran. Pasalnya, saya akhir-akhir ini sedang coba-coba baca essay berat, terutama karya Goenawan Mohamad. Jadilah, buku yang saya beli dan saya jadikan buku bacaan untuk reading challenge di Goodreads malah terabaikan. Seharusnya, bulan Maret ini saya sudah bisa habis membaca 15 buku, karena satu bulan ditarget untuk membiasakan diri membaca buku sekurang-kurangnya 5 buku. Eh, karena kebanyakan buku yang pengen dibaca, saya malah nggak cepat-cepat membereskan reading challenge. Ya sudahlah, karena saya sudah sok-sok'an membaca 60 buku dalam setahun, sebagai reading challenge dan itu berarti, saya harus konsekuen sekaligus konsisten membaca.

Nah, saya pun akhirnya berhasil menuntaskan buku yang ke-12 di tahun ini. Saya membacanya sampai berminggu-minggu. Saya pikir, buku ini sejenis novel ringan satir. Eh, ternyata saya salah. Buku ini adalah buku novel dewasa-satir khas Arswendo Atmowiloto yang biasanya. Saya membacanya sambil berpusing-pusing ria. Tak jarang juga saya kembali ke bab sebelumnya, hanya untuk membuka pikiran saya yang dipusingkan dengan beberapa bab setelahnya. Saya harus bersusah-payah untuk membaca awal-awal cerita, karena seringkali lupa cerita sebelumnya, saat sedang berada di tengah-tengah konflik.

Saya tidak menyarankan kalian semua membacanya. Kenapa? Yaaaa karena begitulah. Sekali lagi, saya tekankan bahwa novel ini adalah novel DEWASA! Novel ini satir dan tidak jarang kita temui beberapa dialog yang 'mengundang'. Maksudnya, novel ini hanya diperuntukkan untuk pembaca dewasa dan 20 tahun ke atas, seperti saya. :))

Penampakan Buku Yang Fenomenal!
(Padahal saya pun kadang geli kalau sedang membacanya, karena darah tiba-tiba berdesir. Haha!)

Buku ini berkisah tentang seorang lelaki  bernama Bong. Lelaki yang tak punya orang tua, hidup seadanya, sampai dia bisa terkenal dengan ceritanya. Menjadi pelukis, terkena peluru tawuran, menjadi tukang pembuat kalung batu yang terkenal, dan membuat trend nasi goreng pedasdasdas. Lelaki yang suka sekali mengamati ikan lele, pohon talok, dan memakai sarung kemanapun.

Kisahnya dimulai ketika dia menjadi pelukis dan dipertemukan secara tidak sengaja dengan seorang perempuan bernama Keka. Dia jatuh cinta pada Keka, meski ditentang orang tua Keka. Mereka pun diam-diam berpacaran, bahkan bercinta. Sampai akhirnya, Bong mengerti bahwa inilah cinta sejati, meski tak berakhir di pelaminan.

Sampai Keka pergi dan menikah dengan lelaki yang tak dicintainya. Bong sedih, tapi tak marah. Dia pun datang dan menanyakan kabar, sampai Keka benar-benar tak bisa bertemu lagi karena divonis sakit. Bong pun bertemu anak Keka, yang dia panggil Ke. Ke ini rupanya jatuh cinta juga dengan Bong! Saat dia mengalami musibah karena kehamilan di luar nikah, Bong yang menolongnya. Dan Bong yang menyelamatkan bayi di kandungan Ke, agar tidak jadi digugurkan. Sejak itulah, anak Ke dipanggil Keka Siang, karena lahir siang hari.

Tampilan Imajinatif Bong
(menurut saya seperti ini dan kanan kiri
sama saja)
Gambar diambil random di google

Selang waktu berganti, selang generasi berganti. Entah apa yang Tuhan dan bumi lakukan. Dua generasi setelah Keka, mencintai Bong. Pada akhirnya, Keka yang sudah menjadi nenek pun cemburu dan meminta penjelasan. Bong tak bisa berkutik, karena dia paling tak bisa memilih. Dan akhir cerita ini adalah, Keka dan Keka Siang sama-sama menjadi istri Bong. Waw! Dua istri sekaligus! 

Sungguh novel yang sangat lucu kalau menurut saya. Dikemas dengan sederhana dan apa adanya. Tak ada kisah cinta yang seklise kisah cinta di novel-novel masa kini. Saya bisa maklum lah, karena novel ini ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Dan penggambaran tokoh Bong pun sangat apa adanya namun berkharisma. Gondrong, easy going, jarang ambil pusing namun bisa menjadi bijak sewaktu-waktu. Membaca ini saya jadi mengingat sosok teman-teman saya yang notabene dari kalangan seniman IKJ dan preman gondrong. :D

Novel ini saya rekomendasikan untuk kalian yang sudah dewasa dan ingin mengenal cinta yang apa adanya. Untuk pembaca di bawah 20 tahun, tidak disarankan untuk membaca ini ya! :D

Judul Buku: 3 Cinta 1 Pria
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2008
ISBN: 9789792240740
Pages: 296
Genre: Roman Dewasa
Harga: Rp 40.000,-
Rate: 4 / 5