Selasa, 11 Desember 2012

Bacabaca 16: Supernova Partikel oleh Dee Lestari


Setelah gagal mendapatkan edisi Partikel gratis dari Leksika Kalibata City, saya mencoba untuk tidak penasaran dengan seri ke-4 dari serial Supernova ini. Saya membentuk benteng dalam kepala juga saku celana saya, agar tidak kebobolan dan wajib-fardu a'in untuk membeli buku ini. Nyatanya, godaan sebagai manusia selalu saja ada.

Supernova 4 - Partikel
Menemukan teman membeli buku ini, membuat darah saya mendidih. Saya memberangusnya dengan tatapan mengiba agar dipinjami buku, dan sukseslah buku ini saya perawani karena teman saya bahkan belum beres membaca seri satu sampai tiga dan belum sempat melucuti bungkus si buku sendiri.

Hari Minggu saya baca, awal cerita Partikel yang masih mulus bagai tol. Kemudian, bumbu-bumbu mulai disebar secara merata. Oh, buku yang pedas isinya! Pedas dan padat. Ibarat makanan, buku ini mengenyangkan dan memuaskan saya. Saya menyelesaikan santapan seberat ini hanya dalam dua hari. Kecepatan membaca saya tiba-tiba saja muncul, dan habislah buku ini dengan menyisakan segudang pertanyaan yang belum terjawab. Di mana ayah Zarah? Bagaimana kisah Zarah dan Paul? Bagaimana kisah Sarah--orangutan di Kalimantan? Dan rentetan 'Apa' juga 'Bagaimana' yang lainnya.

Secara keseluruhan, kisah bertumpu pada Zarah. Kisah penuh kejutan yang dialami Zarah, gadis muda biasa saja yang mendapat tugas tak biasa--menyelamatkan satu-satunya penyeimbang ekosistem bumi, yang diteliti ayahnya di Bukit Jambul.

Berbagai kejadian pun dialami Zarah, dalam upaya pencarian ayahnya. Semakin ia berlari, mencari, semakin ia jauh menelusup misteri. Dan dari begitu banyak kejadian, pada akhirnya, ia kembali ke Indonesia, ke 'rumah' yang tak ia temukan dalam pelarian.

Namun, sampai akhir cerita, ayahnya belum juga ditemukan. Di situlah saya mengakhiri bacaan saya. Masih menyisakan tanya. Menurut saya, secara garis besar, buku ini mampu menikam sekaligus menyihir pembaca untuk mendapatkan suatu pemahaman 'kalau-nggak-beres-baca-hari-ini-bisa-panas-dingin'. Begitulah kira-kira.

Sementara Elektra dan Bodhi dipertemukan, saya dibuat kesal setengah mati oleh Mbak Dee, yang membuat saya harus menunggu beberapa waktu lamanya sampai Supernova Gelombang, mencuat ke permukaan. Semoga tak lama. [Ayu]

Judul: Supernova 4 - Partikel
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-602-881-174-3
Halaman: 508 
Harga: Rp 79.000,- 
Rating: 5/5 

Senin, 10 Desember 2012

Bacabaca 15: Istoria da Paz oleh Okke Sepatumerah


Buku ini selesai dibaca dalam sehari. Sebenarnya dua hari, tapi beberapa jam dalam sehari saja waktu yang saya butuhkan untuk menghabiskan buku ini. Kalau dihitung-hitung, mungkin saya membaca cuma 5 jam, lebih sedikit.

Cover buku
Buku ini sederhana, sesederhana kisah yang dituliskan penulis dalam buku. Kisah seorang perempuan patah hati yang mencoba untuk move on dan melupakan semua perasaan sakit yang dia alami, karena sang lelaki tertangkap berselingkuh di depan mata dengan klien sendiri. Oke, ini adalah kejadian patah hati yang cukup mainstream dan kerap terjadi dalam kehidupan sosial-percintaan. Saya sendiri tidak menganggap kisah patah hati sebagai kisah yang 'wow-gue-harus-salto' melainkan hanya maklum, karena hal seperti itu, saya pun pernah merasakan.

Yang digarisbawahi dalam buku ini adalah bagaimana seorang perempuan kota pada umumnya, mencoba melupakan kesakitan hati dengan tiba-tiba saja terjun ke dalam kondisi sosial yang serba berbeda dengan Jakarta. Diawali dengan tugasnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, perempuan ini mencoba melebur jadi satu dengan anak-anak tak beruntung di camp pengungsi. Ditemani seorang pemuda berjiwa sosial tinggi, Dionysius Alexander, perempuan ini menyelami lika-liku kehidupan Timur yang tak tersentuh manusia di kota sana.

Berbagai kejadian dan pengalaman, mendewasakan Damai--perempuan yang kerap disapa "Ibu Guru Bunga" oleh para muridnya ini. Maka, tugas kantor pun tak bisa lagi menghalanginya untuk berpikir, bahwa Sekolah Damai dan murid-murid nakalnya telah berhasil mencuri hatinya. Menenggalamkan luka lama dan merasa bahwa bukan hanya dirinya seorang yang tidak beruntung. Masih banyak orang yang lebih tidak beruntung dibanding dirinya, yang hanya sekedar kehilangan pacar.

Seiring berjalan waktu, tugas kantor pun selesai dan sudah waktunya ia kembali menapaki Jakarta, kota bising yang tak bertegur sapa. Siapa sangka, kepergiannya yang berhasil membuat ia lupa masalahnya, malah mengembalikan kehidupan lamanya. Jambrong, kekasih yang mengkhianatinya, kembali di saat ia sudah bisa memaafkan. Dan untuk kali ini, dia harus memilih untuk mengarungi hidupnya tanpa Jambrong. Keputusan final sudah diberikan, dan semua pun lega.

Beberapa waktu setelah berbagai kejadian, Damai sudah kembali berada di Kupang. Menyerahkan seluruh hidup demi sosial. Melepas beban dan sepenuhnya belajar akan arti keikhlasan dan melepaskan. Damai sudah menjadi damai, di Sekolah Damai.

Dan kisah ini sangat keren kalau dijadikan sequel. Melihat Dion kembali dari studi sosialnya dan merengkuh Damai di Kupang, dalam pondok-pondok daun lontar penuh sapa, yang tak didapat di kota. [Ayu]

Judul: Istoria da Paz: Perempuan dalam Perjalanan
Penulis: Okke 'Sepatumerah'
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2007
ISBN: 9797802078
Halaman: 218 
Harga: Rp 30.000-an (lupa harga aslinya, karena saya beli di bazaar murah :D) 
Rating: 3.5/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/2945267-istoria-da-paz

Selasa, 13 November 2012

Bacabaca 14: Gandamayu oleh Putu Fajar Arcana

Putu Fajar Arcana
sumber gambar
Menyelesaikan satu kisah Mahabharata memang membutuhkan pemikiran yang jernih dan benar-benar tidak terkait dengan pikiran lain yang menggelayut dalam benak. Dan dari semua pengorbanan pengosongan pikiran itulah, kisah epik Mahabharata selesai dengan sempurna dan meninggalkan bekas-bekas dalam jiwa maupun raga. Berbagai bentuk kisah dari lakon Pandawa dan Kurawa, kerap kali disuguhkan melalui berbagai bentuk cerita. Tak jarang dari kisah-kisah itu yang menuai konflik sekaligus sarat makna. Salah satu kisah lelakon tersebut adalah kisah utama Dewi Uma dan Sahadewa yang digambarkan dalam novel besutan salah satu redaktur kompas Minggu, Putu Fajar Arcana.

Buku satu ini menjadi unik bukan hanya karena mengambil satu paham feminisme yang bisa ditarik dari satu tokoh dewi kahyangan, melainkan menjadi unik juga karena digambarkan dalam kisah yang melompat dan paralel. Di satu sisi, tokoh utama yang memiliki lakon dalam buku, berkisah lewat tembang-tembang yang dinyanyikan oleh seorang ayah pada anaknya di sepanjang perjalanan. Kisah menjadi satu fragmen, meski digambarkan dalam dua masa yang sudah jelas berbeda. Meskipun pada kisah si bapak dan anak itu digambarkan hanya dalam sehari semalam, kisah tokoh-tokoh yang familiar dalam wayang ini malah digambarkan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Sungguh paralel dan seperti berada dalam dua masa berbeda. Ini adalah salah satu nilai plus yang saya berikan terhadap buku.

Gandamayu
Dalam buku ini, kisah awal menggambarkan bingkai seorang dewi kahyangan yang akan diuji kesetiaannya oleh sang suami yang tak lain adalah Dewa Siwa. Dewi Uma--istri dari Dewa Siwa itu--akan diuji kesetiaannya selama menjadi istri. Maka, dengan berpura-pura sakit, Dewa Siwa memerintahkan Dewi Uma untuk mencari susu sapi di bumi dengan ciri sapi betina yang akan digembalakan oleh seorang pemuda. Dengan segenap kepatuhan, Uma yang taat akhirnya turun ke bumi. Di perjalanan, ia akhirnya menemukan susu sapi yang dimaksud dan pemuda itu meminta imbalan yang tak murah. Uma diminta untuk tidur semalam dengan pemuda itu yang tak lain adalah jelmaan Dewa Siwa sendiri. Setelah Uma mendapatkan susu tersebut, Uma kembali ke kahyangan tanpa mengetahui bahwa pemuda itu adalah jelmaan Siwa sendiri. 

Sampai di kahyangan, Uma memberikan susu pada Dewa Siwa dan sang dewa mempertanyakan darimana Uma bisa mendapatkan susu sapi betina. Uma tak kuasa berbohong pada suaminya dan ia katakan hal yang sebenarnya. Dewa Siwa dengan angkuhnya murka dan mengutuk Uma menjadi Batari Durga, ratu dedemit penguasa Setra Gandamayu. Tanpa mencoba mempertanyakan kesalahan, Uma menerimanya sebagai bentuk kepatuhan dan dikatakan bahwa ia akan kembali ke wujud semula dengan ruwatan dari seorang ksatria Pandawa.

Kisah pun berlanjut dan berganti bingkai. Kembali mengisahkan seorang ayah yang sedang nembang sebuah cerita tentang Dewa dan Dewi pada anaknya dari atas sepeda kumbangnya. Sang ayah yang mendapatkan pekerjaan untuk mengisi acara ruwatan untuk nembang, mengajak anaknya untuk turut serta. Dan sampai di sini, kisah kembali pada fragmen dimana Pandawa sedang kocar-kacir karena perang. Dewi Kunti sebagai ibunda dari lima Pandawa, dengan terpaksa memohon pertolongan pada Dewi Durga yang tak lain adalah Uma dengan wujud buruk rupa.

Dewa Siwa dan Dewi Uma (Durga)
sumber gambar

Kunti berlari tertatih menuju Setra Gandamayu dan disambut oleh Kalika, abdi setia Batari Durga. Setelah bertemu dengan Durga, Kunti menyatakan maksud kedatangannya dan disambut oleh Durga dengan tidak murah harganya. Durga meminta salah satu Pandawa untuk dijadikan tumbal dan Kunti tak mau menumbalkan anaknya sendiri. Karena menolak, dengan perintah Durga, Kalika merasuki tubuh Kunti dan Kunti kembali ke Indraprasta untuk membawa Sahadewa (Sadewa) ke tangan Durga.

Kisah berlanjut dengan disekapnya Sahadewa, dan mari kita lewat kisah berikutnya karena akan panjang sekali kalau saya teruskan. Hehehe. Akhirnya, Siwa yang sadar akan kesalahannya telah memperdayai istri sendiri, merasuki tubuh Sahadewa yang sudah di ambang kematian karena akan dilahap habis oleh Dewi Durga. Dengan merapal, Sahadewa menggumamkan mantra ruwatan dari Dewa Siwa dan seketika saja, Durga sudah kembali menjadi Dewi Uma. Setra Gandamayu berubah menjadi taman yang indah dan Uma memberi beberapa tugas pada Sahadewa sebelum akhirnya kembali ke kahyangan.

Pandawa Lima
sumber gambar
Kisah sudah begitu sarat konflik, ketika Sahadewa yang masih ksatria hijau atau 'anak bawang' itu diminta untuk meruwat beberapa orang yang akan ia temui di perjalanan, sampai akhirnya ia bisa mengalahkan Kalantaka dan Kalanjaya yang menjadi dua raksasa di bawah kubu Kurawa, musuh bebuyutan Pandawa yang nantinya akan berperang di Kuru Setra.

Dan kisah pun diakhiri dengan kalahnya Kurawa, dengan kematian dua raksasa. Raksasa itu pun berubah menjadi dewa. Ternyata, mulanya mereka adalah dewa yang dikutuk oleh Dewa Siwa. Dan dari serangkaian kisah yang tergambar, fragmen kembali pada kisah ayah dan anak yang telah selesai menghadiri acara ruwatan, dengan si anak yang tertidur di pangkuan ayahnya.

Anak itu bermimpi menjadi seorang Sahadewa, ksatria hijau yang gagah melawan dua raksasa. Orang di sekitarnya tertawa, dan ayahnya hanya meminta anak itu diam. Si anak pun mengambil beberapa hikmah dari apa yang dituturkan Sahadewa (yang saya kutip dari buku Gandamayu itu sendiri), "Kami antarsaudara terpaksa saling bunuh hanya karena kekuasaan. Itulah yang nyaris terjadi di setiap negara. Demokrasi yang sekarang menggejala, apakah benar akan mengantarkan manusia pada kesadaran untuk berhenti saling membunuh? Tidak juga. Di negeri seberang, di mana kudengar demokrasi diberikan begitu leluasa, malah kejahatan, pembunuhan, pemerkosaan terhadap perempuan, saling fitnah, saling rebut kekuasaan hampir terjadi setiap hari."

Kisah Mahabharata yang ada di buku ini mengambil sisi yang tak semua orang bisa punya pikiran ke arah sana. Kisah ini mencakup kisah humanis yang mencakup sisi seorang perempuan. Bagaimana perempuan direndahkan dan mencoba untuk setia sampai ke titik jenuh yang terdalam. Bagaimana seorang ksatria maupun dewa, masih punya pemikiran yang mengacu pada kesejahteraan umat manusia yang ada di bawah mereka, meski keseharian mereka diliputi hidup mewah, serba ada, dan makmur. Semua kisah ini seperti kisah nyata yang terjadi di sekitar kita, hanya saja mengambil penokohan dari pewayangan. Karena saya bisa membuat beberapa bagian cerita kalau harus menjelaskannya secara keseluruhan, lebih baik mencari bukunya sendiri karena buku ini recommended untuk dibaca oleh berbagai kalangan usia. [Ayu]


Judul: Gandamayu
Penulis: Putu Fajar Arcana
Penerbit: Kompas
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-979-709-622-9
Halaman: 189 hlm + xv
Harga: Rp 35.000 - Rp 45.000 (lupa harganya)
Rating: 4/5
Review: http://www.goodreads.com/book/show/13484683-gandamayu

Selasa, 26 Juni 2012

Bacabaca 13: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta oleh Luis Sepulveda

Akhir-akhir ini saya banyak membaca dan menulis. Hanya satu hal yang saya jarang lakukan, menulis ulasan buku. Berhubung hari ini Selasa, jadi apa salahnya kalau saya sempatkan diri untuk menulis ulasan buku lagi. Dan kali ini, sebuah buku keren nan mini berhasil menolong saya dari kesepian yang menyakitkan.

Luis Sepulveda - Jurnalis Bengal Yang
Senang Bertualang
Buku ini saya temukan di tumpukan sastra, berada jauh di antara buku-buku lain yang menarik minat pembaca dewasa ini. Buku dengan sampul menarik bergambar macan tutul ini menyentuh insting membaca saya. Melihat namanya, ternyata penulis luar. Luis Sepulveda. Pantas saja, sinopsisnya tidak familiar kalau disandingkan dengan buku-buku Indonesia.

Buku ini berkisah tentang kehidupan seorang kakek yang menyepi, menyendiri, dan pada awalnya sempat terasing karena istrinya yang tak kunjung hamil dan menjadi buah bibir di seantero desa. Kakek yang bernama Antonio Jose Bolivar ini pun mengasingkan diri ke belantara El Dorado dan terus menyeruak masuk ke daerah pemukim bibit pohon di El Idilio, belantara hutan Amazon. 

Istri Sang Kakek yang malang, tak bisa bertahan. Dirinya terpaksa menahan siksa dari penyakit malaria yang menjangkiti para pemukim. Badai yang kerap kali melanda pesisir sungai Amazon itu dapat dengan mudahnya memporak-porandakan rumah si Kakek di tepi sungai. Akhirnya, sang istri pun meninggal dunia terjangkit wabah malaria mematikan. Sang Kakek yang harus menahan sisa-sisa hidupnya di pesisir belantara Amazon itu, pada akhirnya sempat sekarat pula, tak sadarkan diri. Dia tertolong dan inilah awal kisahnya dalam buku.

Pada saat-saat kritis, si Kakek bertemu suku Indian asli di pedalaman Amazon. Shuar, nama suku itu. Dengan berpakaian seadanya, tak menutup seluruh tubuh, suku tersebut mengajarkan Pak Tua--begitulah sebutan si Kakek--berbagai cara bertahan hidup di alam. Mulai dari membangun pondok yang kuat, makan segala sumber makanan di alam, dan cara bertahan hidup dari serangan hewan-hewan maupun serangga liar di hutan. Dan dalam waktu tak begitu lama, Pak Tua sudah bisa bertahan hidup di hutan. Semua itu hampir saja pupus, kalau saja Pak Tua benar-benar mati karena digigit ular berbisa. Selama berhari-hari, peramu dari suku Shuar mengobati dan menjaga Pak Tua sampai keadaannya benar-benar pulih dari bisa ular. Dan setelah pulih, menurut orang-orang Shuar, Pak Tua mewarisi keahlian ular yang menggigitnya, termasuk kekebalannya terhadap bisa ular.

Cover Buku Pak Tua
Semua itu akan berjalan normal kalau saja orang-orang haus harta yang datang dari kota, memaksa suku asli hijrah ke bagian timur hutan Amazon, semakin merangsek masuk hutan. Di sinilah Pak Tua bimbang, antara tetap duduk di pondok atau ikut semua. Di kala getir, Pak Tua ikut ribut melawan kulit putih yang membunuh saudara Shuar-nya, Nushino. Sayangnya, Pak Tua membunuh kulit putih dengan selongsong api, bukan panah beracun ala Shuar. Dan suku Shuar menangis, mengusir Pak Tua agar pergi jauh saja.

Pak Tua terombang-ambing di pondok. Sampai para pemukim dan penambang emas hadir lagi di pesisir El Idilio. Pak Tua kenal dengan seorang dokter gigi yang memberinya buku-buku cerita tentang cinta. Pak Tua yang lupa bahwa dirinya bisa membaca, mulai perlahan menajamkan ingatan untuk bisa membaca kembali, pelan-pelan. Hampir setiap hari, Pak Tua menunggu si dokter gigi membawa buku-buku terbaru.

Semua ketenangan ini terusik akan hadirnya kabar mengenai kematian-kematian. Semuanya mati dicakar dan dicabik-cabik oleh entah apa. Entah apa tersebut disinyalir adalah seekor macan kumbang betina yang marah karena anak-anaknya dibunuh oleh pendatang. Di sinilah Pak Tua dibutuhkan. Walikota merencanakan sebuah ekspedisi perburuan yang melibatkan Pak Tua, dan pada saatnya tiba, Pak Tua malah tak tega membunuh si macan kumbang. Ada kesenduan yang teramat sangat, dalam diri macan kumbang tersebut. Pak Tua bisa maklum karena macan kumbang itu tak lebih dari kucing besar yang nelangsa hatinya. Anaknya terbunuh, jadi wajar saja kalau macan kumbang itu memburu semua pemburu.

Pak Tua pun pada akhirnya harus membunuh macan kumbang, karena jiwanya terancam. Bagaimanakah keheningan pada pondok Pak Tua akan kembali? Silakan baca sendiri bukunya. Hehe. [Ayu]

Judul: Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta
Judul Asli: Un viejo que leía novelas de amor
Penulis: Luis Sepulveda
Alih Bahasa: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 9789799998040
Halaman: 116 hlm
Harga: Rp 35.000-
Rating: 5/5
Gambar: random google

Selasa, 05 Juni 2012

Bacabaca 12: Dataran Tortilla oleh John Steinbeck

Akhir-akhir ini, kecepatan membaca saya agak-agak di luar batas normal. Buku pertama bisa saya habiskan dalam tiga hari meski bermuatan filsafat dan sejarah yang luar biasa banyaknya. Dan  buku kedua baru habis setengah dalam satu hari dari total empatratus lebih halaman. Saya agak aneh juga, karena biasanya membaca roman kelas teri saja saya tidak bisa selesai barang satu hari. Mungkin ini semua tergantung minat baca, ya? Saya lebih berminat baca buku bermuatan filsafat ketimbang buku roman masa kini kelas teri. Menurut saya, novel inspiratif berunsur filsafat maupun sejarah lebih menarik. Ah, entahlah. Ini hanya soal selera saja, tak perlu dipersoalkan.

Beberapa hari terakhir ini saya sedang merasa sangat malas untuk bekerja. Mungkin karena baru sembuh dari sakit, saya menyempatkan diri untuk tak masuk kerja beberapa hari dan memenuhi nutrisi buku saya. Sehabis gajian, antara niat tak niat, saya menuju TM Bookstore - Poinsquare. Toko buku ini besar dan penuh sekali buku-buku yang sangat keren dan juga berbobot. Sayang, karena minat baca penduduk Jakarta Selatan perbatasan Tangerang Selatan ini mungkin masih di bawah minat belanja pakaian model terbaru, jadilah toko buku ini sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat mengunjungi dan kalau saya tidak salah, dari dulu orangnya bisa ditebak. Si ini dan si itu lagi. Saya tak apa sih, tak juga mempersoalkan hal begini, karena bagi saya, atmosfir baca yang tenang lebih mengasyikkan lagi buat saya. Dan saya pun berkeliling. Di sinilah petualangan dari perubahan genre buku saya dimulai.

Saya sedang mencari-cari karya Arswendo dan Seno Gumira ketika menemukan "Of Mice and Men" karya John Steinbeck di bagian buku-buku sastra. Sungguh kaget dan tidak menduga-duga. Awalnya saya tak berminat membeli buku apapun. Hanya sekedar menumpang baca dan duduk-duduk santai saja sejenak. Nyatanya, saya melihat buku itu dan segera saja otak saya berputar. Motorik saya meminta saya untuk berjalan ke bagian pelayanan dan menanyakan sebuah buku dengan pengarang yang sama. Buku "itu" lainnya. Buku yang berminggu-minggu menghantui saya karena virus-virus paisano sial! Virus-virus sialan dari sebuah blog tentang karya yang mewarnai hidup manusia, bernama Anggur Torelli. Mereka--si virus itu--adalah abang-abang yang namanya diawali dengan huruf "A" besar. Ahmad Makki, Abdullah Alawi, dan Alhafiz Kurniawan. Sungguh sial virus-virus itu!

John Steinbeck -- Bengal, keluar dari jurusan Biologi, Stanford University
dan menjadi penulis saja. Mendapatkan penghargaan Pulitzer dan Noble,
untuk buku-bukunya yang sudah beberapa itu.

Dengan perasaan campur aduk saya mengetik judulnya. Sudah benar dan saya klik tombol "search". Beberapa saat kemudian, muncul hasilnya. Buku "itu" tersisa tiga. Saya langsung memberangus petugas bagian pelayanan itu untuk mengantar saya menuju tempat buku. Setelah ketemu, si petugas malah berkomentar, "Oh buku ini. Kemarin-kemarin ada juga yang beli buku kayak gini Mbak. Temennya ya?"

Saya hanya tersenyum dan berkata, "Oh gitu ya." 

Dalam hati saya berpikir, "Sial dangkalan! Sepertinya bukan hanya saya yang diiming-imingi buku Steinbeck  oleh virus paisano itu!"

Tanpa berkomentar apapun, saya mengambil buku itu dan secara tidak terduga pula, saya menemukan buku lain yang sama kerennya. Saya mendapati buku karya Misbach Yusa Biran di situ. Aha! Sepertinya saya sedang mujur. Buku "itu" dan buku Misbach, sama-sama sisa tiga. Dengan semangat empatlima dan membuang jauh-jauh keinginan numpang baca, saya segera menuju kasir.

Ada getar yang terasa di dada ketika membawa plastik putih berisikan kedua buku itu. Di reklame, saya langsung membuka buku dan menciumi kertasnya. Hmmm, bukan kertas buku yang biasanya saya suka, tapi tak apa. Ini adalah ritual saya ketika memiliki buku baru. Saya akan menyampulnya, membawanya tidur, dan membawanya sarapan pagi. Aneh? Memang. Tak perlu dipersoalkan. :)

Cover Cetakan Baru - 2009
Singkat cerita, ada yang memukul saya telak ketika membaca bab per bab buku itu. Buku dengan judul Dataran Tortilla itu sukses menggambarkan kehidupan yang jauh dari ketamakan dan jejak-jejak kapitalisme. Hidup di pinggiran kota kecil yang hampir terlupa, membuat semua orang tak perlu mengejar apapun selain bahagia. Seperti Danny dan enam kawannya yang secara tak sengaja ikut menumpang di rumah warisan pemberian kakek Danny. Para paisano itu hidup bahagia meski tak beralas tidur, tak bisa makan setiap hari, dan harus melulu ngutang kalau menginginkan anggur dari kedai Torrelli sewaktu-waktu. Sungguh, mereka hidup bahagia meski sederhana. 

Ada-ada saja yang dilakukan sahabat-sahabat Danny. Semuanya demi kelangsungan hidup mereka dan juga Danny, si bekas tentara yang derajatnya naik karena mendapat warisan rumah. Dan teman-teman Danny merasa bahwa Danny adalah malaikat penolong, di saat itu, di saat mereka kesulitan hidup. Banyak hal-hal yang membuat mereka sadar akan kondisi sosial sekitar, karena saat itu, posisi mereka di Tortilla adalah sebagai orang yang naik derajat karena 'rumah' warisan. Semakin hari, kegiatan bantu-membantu dan bahu-membahu untuk orang-orang kesusahan mereka lakukan dengan ikhlas. Meski pada dasarnya, mereka adalah mantan bandit-bandit culas dan licik, entah kenapa mereka jadi berbaik hati seperti itu selama beberapa waktu di Tortilla. Mereka menolong sebuah keluarga yang krisis kacang polong, mereka membantu si Bajak Laut agar tak hidup di kandang ayam, dan mereka menolong orang-orang lain. Kelak, kisah mereka akan diingat bak kisah Robin Hood si pencuri. 

Saya tak bisa berkata banyak, bahkan tak bisa lagi berpikir. Bagaimana saya harus mengutarakan buku yang sebegitu bagusnya hanya dalam satu artikel saja? Ada baiknya, kalian semua membaca sendiri buku Steinbeck yang satu ini. Buku yang penuh kisah roman klasik, unsur filsafat hidup, inspiratif dan sekaligus mengocok tawa kita dalam satu waktu. Saya tak pernah menemukan buku sebagus ini, yang membuat saya menerawangi pikiran saya sendiri dalam beberapa hari. Saya kadang berpikir, "Sudahkah saya berbuat baik seperti Danny, yang hanya seorang paisano tak punya apapun? Saya punya rumah lebih baik dan nasib lebih mujur, tapi apakah saya bisa berderma bagai Danny? Saya malu."

Saya sungguh malu ketika Danny mulai kembali merajai hidup saya. Saya semakin yakin, bahwa kebaikan seseorang tak melulu bisa diukur dari pakaian rapi, harta yang banyak, dan status sosial lebih tingga. Para bandit-bandit Latin seperti Danny dan kawan-kawan mungkin tak rapi, tak punya harta, dan tak berstatus sosial lebih tinggi dari kita, tapi mereka lebih ikhlas membantu sesama tanpa pamrih. Memang, mereka licik. Tapi itu hanya sebatas pertahanan hidup. Saya sangat setuju. Jangan pernah menilai buku, dari sampulnya. 

Akhir cerita, Danny harus mati. Dengan orang-orang yang mengingatnya sebagai tentara baik hati dan dermawan. Dengan catatan, bahwa sobat karibnya sangat malu karena tak bisa hadir di pekuburannya, hanya karena pakaian lusuh. Betapa pada kematian pun, status sosial masih harus diperbincangkan. Sahabat karib Danny hanya bisa menangis dalam hati, mengintip dari semak-semak pekuburan ketika Danny di kebumikan. Dan akhir cerita, mereka membiarkan rumah sebagai lambang persahabatan itu hilang, termakan api. Mereka pun berpisah semua, berjalan masing-masing tanpa tujuan yang sama. 

Saya kira, buku ini akan lebih keren dan dramatis lagi jika dijadikan sebuah film. Begitulah komentar saya mengenai buku keren ini. Ini baru buku pertama, dan untuk buku kedua, akan saya bahas nanti-nanti saja. [Ayu]

Judul: Dataran Tortilla (judul asli Tortilla Flat cetakan pertama 1935)
Penulis: John Steinbeck (diterjemahkan oleh Djokolelono, mula-mula tahun 1977)
Penerbit: Pustaka Jaya
ISBN: 9789794193525
Halaman: 265 hlm
Harga: Rp 48.500,-
Rating: 5/5
Gambar: random google

Selasa, 22 Mei 2012

Bacabaca 11: Seniman Kaligrafi Terakhir oleh Yasmine Ghata

Ini sudah Selasa dan mari kita membahas buku apa yang saya baca selama satu minggu ini. Buku ini adalah buku ke-20 dari total 60 buku yang saya jadikan reading challenge di Goodreads. Sebagai sarana untuk lebih memperketat jadwal baca yang kurang akhir-akhir ini, saya membuat tantangan itu. Entah bisa atau tidak, setidaknya saya bisa memulai konsistensi lagi untuk membaca buku, atau koran, atau mungkin selebaran di pinggir jalan. 

Sebenarnya, buku ke-19 tidak saya bahas di blog ini. Mengapa? Karena buku itu termasuk jenis esai dan saya kira tidak akan begitu bisa dicerna jika saya tuliskan ulang ulasannya. Saya paling tidak bisa merangkum buku pengayaan atau kumpulan esai panjang. Saya takut pesan dari buku itu tidak tersampaikan. Sedikit bocoran saja, sebelum buku ini saya melahap habis buku kumpulan esai karya Goenawan Mohamad yang berjudul "Eksotopi". Isinya bercerita tentang sejarah dan bagaimana sejarah itu tetap merah dan melekat dalam ranah pikiran manusia.

Kali ini, buku yang akan diulas tidak jauh-jauh dari novel. Novel roman yang agak sedikit berbau sastra-kontemporer. Entah darimana saya mendapatkan istilah ini, yang jelas, jenis roman seperti ini memang jenis-jenis roman yang sudah jarang kita temui di masa sekarang. Karena jenisnya seperti masa beberapa tahun lalu, mungkin saya bisa menyebut ini kontemporer. Unsur sastranya kental dan unsur kultural juga kondisi sosial di dalam latar cerita juga benar-benar unik.


Buku ini bercerita tentang sebuah kultur  yang mesti dihapuskan dari sebuah negara karena sekuleritas pemimpinnya. Masa itu, Ataturk yang dijuluki serigala hitam sedang memimpin Turki dan segala hal yang berbau sejarah, pun agama, mesti dihapuskan. Ataturk yang diktator sekaligus sangat sekuler juga netral terhadap agama, mencoba menghapuskan kultural yang sudah berabad-abad lamanya bernaung di Turki. Sebuah kultur seniman yang melulu ingat Tuhan. Sebuah kumpulan seniman yang mengabdikan seluruh hidup hanya untuk menghamba pada Tuhan. Seniman yang mempopulerkan huruf Arab dan menggambarkannya dengan indah, sebagai hiasan mesjid, hiasan kitab suci Al-Qur'an, hiasan pintu-pintu gerbang kerajaan, dan lain sebagainya.


Yasmine Ghata
Sejak Ataturk memimpin, mulanya seniman-seniman itu hanya dipindahkan ke sebuah akademi dan diberikan tempat tinggal. Tapi, lambat laun, pekerjaan bagi mereka semakin berkurang. Mereka yang notabene tak bisa hidup tanpa berdzikir lewat pena dan ibadah lewat kata, menjadi semakin mati. Mereka, seniman kaligrafi. Dan kisah ini dituturkan oleh penulis berkebangsaan Perancis-Turki, Yasmine Ghata, dengan sangat indah. Buku dengan judul asli "The Calligrapher's Night (versi Bahasa Inggris)" dan "La Nuit des Calligraphes (versi Bahasa Perancis)" ini diterjemahkan dan dicetak ulang dengan judul "Seniman Kaligrafi Terakhir". 

Para seniman tak bisa tinggal diam. Ada yang dengan beraninya masih menghembuskan dzikir di setiap tarikan garis dalam kaligrafinya, ada pula yang hanya bisa iba melihat kalamnya kaku, tintanya beku. Salah satu seniman yang paling cinta Tuhan, bernama Selim, ditemukan meninggal bunuh diri dengan sorban hijau melilit lehernya. Sejak saat itu, suasana pengungsian seniman kaligrafi menjadi makin tak kondusif. Dengan segenap keberanian, Rikkat, salah seorang pengurus para seniman tua, pergi dengan membawa warisan Selim. Sebuah kotak berisikan peralatan kaligrafi. Ini jelas membuat Rikkat menjadi lebih kuat lagi untuk menjadi seniman kaligrafi yang kala itu tak lazim bagi perempuan jika bekerja seperti ini.

Penampakan Buku
Rikkat harus rela untuk meninggalkan keluarga dan juga kehidupannya sebagai Ibu, hanya untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai seniman, seniman kaligrafi. Rikkat pun menceritakan kisahnya di dalam buku ini dengan sisi pengarang sebagai sudut pandang orang pertama. Kisah pun dimulai dengan cerita ketika Rikkat sedang akan memulai pengajaran sebagai guru kaligrafi dan beralur mundur setelahnya. 

Ada beberapa hal yang menarik dalam buku ini. Istilah-istilah kaligrafi dan sufistik yang tak kita ketahui pada awalnya, dijelaskan secara terperinci dalam buku ini. Terlebih lagi, ada beberapa istilah yang memuat footnote atau catatan kaki untuk penjelasan lebih lanjutnya. Kisah sejarah Turki sejak kaligrafi dan aksara Arab masih mendominasi, sampai ketika masuknya abjad latin diceritakan pula dalam chapter yang berbeda. Membaca ini membuat saya menyelami kultur Turki yang sekuler sekaligus teratur.

Turki sempat menjadi pusat dimana aksara latin mulai ekspansi secara besar-besaran dan semua negara-negara Timur Tengah, hampir berkiblat pada Turki untuk program penumpasan buta aksara latin. Aksara Arab yang merupakan satu-satunya abjad komunikasi kepada Tuhan, perlahan-lahan dihapuskan. Dan ini membuktikan bahwa sejarah akan hilang pula bersama apa-apa yang tak memaksa untuk mempertahankannya. Untungnya, sebelum mati, Selim sempat mewariskan hartanya yang paling berharga, sebuah kotak berisi peralatan kaligrafi. Karena inilah, Rikkat menjadi satu-satunya seniman terakhir yang hidup sejak awal memimpinnya Ataturk sampai pada hari kematiannya. [Ayu]

Judul: Seniman Kaligrafi Terakhir
Penulis: Yasmine Ghata
Penerbit: Serambi
Genre: Roman, Sejarah, Sastra
ISBN: 978 - 979 - 024 - 005 - 6
Halaman: 206
Harga: Rp 31.000,-
Rating: 5/5
Gambar: random google

Selasa, 08 Mei 2012

Bacabaca 10: Jangan Beri Aku Narkoba oleh Alberthiene Endah

Hari ini Selasa dan sejak pertama blog ini ganti orientasi menjadi blog segala macam review, saya bertekad untuk konsisten mengisi blog dengan entry ulasan buku setiap hari Selasa. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini saya agak mengalami penurunan minat baca. Reading challenge di Goodreads saya pun agak terabaikan. Saya memang masih sempat membaca, namun bacaan yang saya habiskan adalah bacaan yang belum selesai di akhir minggu bulan April lalu. 

Alberthiene Endah
Jadi, kali ini saya akan membahas tentang buku yang sudah lama saya baca. Bukunya pun buku lama. Kertasnya sudah menguning. Sampulnya sudah sobek disana-sini. Tapi, ada satu kesenangan ketika membacanya. Sang penulis masih ada dalam sisi 'idealis' setelah akhirnya banting setir menjadi penulis genre metropop dan semacamnya.

Kali ini, saya akan membahas sebuah buku dari Alberthiene Endah. Buku ini menjadi salah satu buku di reading challenge Goodreads saya tahun lalu. Buku ini saya temukan di antara tumpukan buku-buku mengenai pengantar Ilmu Komunikasi, Filsafat Ilmu, dan buku-buku yang saya cari untuk keperluan kuliah. Saya mendapatkannya di toko buku langka dan second, dekat kontrakan saya di bilangan Pondok Pinang. Nama toko buku itu Guru Bangsa. Rumah buku--lebih tepatnya saya sebut gudang buku--ini berada tepat di belakang halte busway Transjakarta di Pondok Pinang. Bagi yang ingin mencari referensi untuk mata kuliah atau buku-buku langka yang jarang ditemukan di toko buku berkelas dan terkenal, silakan mampir saja ke sini. Dijamin, para penyuka buku pasti akan betah berlama-lama di sini. Terlebih lagi si pemiliknya yang ramah dan kadang memberi bonus buku secara cuma-cuma sebagai kenang-kenangan. Saya pun kerap kali mendapatkan buku secara cuma-cuma di sini. Hehe.


Judul buku ini mungkin kurang familiar, Jangan Beri Aku Narkoba. Judul yang simple dan isinya pun serupa laporan jurnalistik seorang wartawan. Lagipula, tokoh yang bercerita dalam buku ini memang wartawan. Wartawan dalam buku ini berkisah hanya pada bagian pengantar. Selebihnya, sudut pandang orang pertama diserahkan pada si tokoh yang benar-benar menjadi inti cerita. Arimbi, seorang perempuan yang lahir dari keluarga kaya tapi broken home, dan terjebak dunia narkoba sampai harus menjadi lesbian. Arimbi adalah korban dari keluarga rusak. Keluarga kaya yang rusak sehingga membuat Arimbi harus melarikan diri dan beralih pada narkoba. Orientasi seksualnya yang tak beres karena tak pernah mendapat perhatian orang tua juga mulai menjadi-jadi. Arimbi menjadi lesbi.

Kita akan dibuat berlari, berlomba-lomba untuk sembunyi. Sembunyi dari perasaan sedih dan takut atau malah jijik, saat membaca buku ini. Bagi mereka yang mengutuk pengguna narkoba hanya dari satu sisi, sangat disarankan untuk membaca buku ini. Buku yang bagi sebagian orang mungkin tidak begitu familiar, ternyata isinya sangat sarat akan pesan moral dan sosial.

Cover Buku
Kita tidak bisa begitu saja menghindari pengguna narkoba. Justru, orang seperti itu harus dibantu, bukannya dijauhi atau dijebloskan ke dalam panti rehabilitasi. Beberapa cerita dalam buku ini sangat bertolak belakang dengan kondisi realita yang ada. Banyak orang mengutuk pengguna narkoba. Banyak orang bilang bahwa pengguna narkoba tidak pantas hidup, mereka pantas dimasukkan ke penjara atau panti rehabilitasi. Padahal, secara psikis, mereka semakin terkikis. Tak jarang pengguna narkoba yang sengaja mengakhiri hidup dengan cara melebihkan dosis obat-obatan mereka sehingga kita mengenalnya dengan sebutan over dosis. Dan jika kita menelaah hati mereka, ada faktor utama yang menyebabkan mereka lari dari kenyataan dan beralih pada narkoba. Mereka bilang, "Ini adalah kebahagiaan meski sesaat, meski nantinya kita mati. Kami bahagia meski dalam hati kami selalu menangis dan menyesali takdir. Memiliki orang tua seperti mereka atau lingkungan yang tak kondusif bagi kami."

Buku ini benar-benar mengaduk klimaks pembaca. Perasaan pembaca dibuat naik dan turun. Pembaca dipaksa mengerti akan alasan pengguna narkoba. Pembaca dibuat peduli akan derita dan dilema yang mereka harus rasakan. Dan pembaca pada akhirnya akan mengerti, narkoba hanyalah sebuah pelarian. Masalah yang sebenarnya bukan narkoba, melainkan kondisi utama di baliknya. Betapa narkoba banyak melanda kaum sosialita atas. Mereka yang kaya harta, tapi miskin kasih sayang keluarga.

Buku ini pun sempat diangkat ke layar lebar dengan judul Detik Terakhir. Dengan pengubahan nama dan alur kisah, film tersebut sempat menuai kritik pedas karena sarat unsur pornografi. Padahal, setelah saya menonton sendiri, nyatanya biasa saja. Malah, saya dibuat mengerti dan lebih peduli dengan sosial mereka. Dan saya janji untuk membuat ulasan mengenai film tersebut nanti.

Bagian terakhir buku ditutup dengan hal yang tidak diduga-duga. Dan saya tidak akan jelaskan di sini, supaya kalian penasaran. Silakan cari bukunya di toko-toko buku langka di sekitar kalian. Hehe. [Ayu]

Judul: Jangan Beri Aku Narkoba
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: Gramedia
Genre: Metropop, Criminal, Adult-content
ISBN: 9792207007
Halaman: 243
Harga: Rp 33.000,-
Rating: 5/5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/3056223-jangan-beri-aku-narkoba

Selasa, 24 April 2012

Bacabaca 9: Larutan Senja oleh Ratih Kumala

Ratih Kumala
Sejak membaca cerita tentang kultur Betawi di novel Ratih Kumala yang tak sengaja terbeli, saya jadi tertarik untuk membaca beberapa karya Ratih Kumala yang lain. Saya membaca karya Ratih secara acak, tidak berurutan, karena saya memang baru mengetahui tentang penulis satu ini dari koran. Saat menemukan Kronik Betawi dan sempat saya ceritakan di sini, saya pun ingin membeli lagi.

Setelah mendengar bahwa Ratih akan launching buku terbarunya yang berjudul Gadis Kretek, saya malah membeli kumpulan cerpennya. Entah darimana keinginan itu, yang jelas saya menemukan kumpulan cerpennya secara tidak sengaja. Kumpulan cerpen ini memuat beberapa cerita pendek Ratih Kumala yang sudah pernah diterbitkan dalam kolom-kolom surat kabar. Menurut saya, cerpen Ratih Kumala memang tidak biasa dan mengandung unsur-unsur yang jarang sekali dikemukakan oleh penulis muda. Berbagai hal yang menyerempet kepada kultural, sosial, dan juga dunia perdukunan seakan menghiasi setiap tulisan-tulisannya.

Yang menarik pula dari kumpulan cerpen ini adalah ilustrasinya. Beberapa ilustrasi bertema sama, seperti selongsong manusia  yang tak jelas bentuknya dan menyerempet pada karya psychadelic tergambar di awal cerita, sebelum judul cerpen. Melihat dari bagian depan buku, ilustrasi tersebut adalah gambar dari suami Ratih sendiri, seorang penulis bernama Eka Kurniawan. Ilustrasinya menarik. Seolah memaksa pembaca untuk berimajinasi tentang cerita, dari awal gambar.


Kumpulan cerpen Larutan Senja ini terdiri dari empatbelas cerita. Bagian awal dimulai dengan cerita perdukunan dan dendam. Cerita dari cerpen pertama seolah menggambarkan bahwa dendam diturunkan dan diwariskan*. Dengan penggambaran latar pedesaan yang masih memungkinkan seseorang untuk melakukan praktek klenik.


Cover Depan

Selain ketertarikan pada endorsement yang diberikan oleh beberapa sastrawan terkenal, saya tertarik membaca larutan senja karena sinopsis yang disampaikan. Kita harus banyak berimajinasi dan berpikir untuk membaca pesan tersirat yang hadir dari setiap cerpen Ratih Kumala. Saya suka cerita yang seperti itu. Saya suka cerita yang memaksa saya untuk berpikir, akan jadi apa jalan cerita ini? Cerita ini sebenarnya tentang apa? Dan pertanyaan lain yang serupa. Intinya, saya sangat menyukai jalan kisah yang membuat saya bisa berspekulasi macam-macam dari kisah tersebut.

Dalam alam imajinasi Ratih Kumala, bumi ini terdiri dari berbagai larutan yang ditemukan oleh sekelompok penemu di langit sana. Salah seorang penemu menciptakan larutan gerak agar manusia bisa bergerak, angin bertiup dan laut bergelombang. Penemu ini juga menemukan larutan yang rasanya tidak manis seperti siang, tidak pahit seperti malam, memiliki warna elegan. Larutan ini ia beri nama Larutan Senja. Tuhan yang mengetahui penemuan ini ingin mengambil larutan itu dan meneteskannya ke bumi agar semakin indah. Si Penemu tidak mau memberikannya karena menganggap Tuhan tidak adil. Selama ini Tuhan selalu menerima pujian atas penemuan-penemuannya. Tuhan bahkan tidak menyebut bahwa penemuan itu adalah hasil kerja kerasnya. Maka Tuhan pun mencuri larutan senja dan meneteskan ke bumi. Si penemu merasa kecolongan dan membuat sebuah larutan untuk membalas kecurangan Tuhan; larutan yang menakutkan bagi umat manusia. Beberapa cerpen lain dalam Larutan Senja menyingkap dunia perdukunan, alam memedhi, dan kehidupan setelah mati.Tema-tema yang unik dan jarang dikuasai oleh penulis kontemporer dewasa ini.

Setelah yang pertama, maka yang paling terakhir juga akan saya bahas. Cerpen terakhir yang berjudul Buroq, bercerita tentang seorang bejat yang mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Dari cerpen ini, saya seolah mendapatkan pencerahan dan bukti kekuasaan Tuhan. Tuhan tak pernah pilih kasih. Siapapun bisa jadi orang terpilih. Seorang bejat yang bernama Cimeng itu, dulunya adalah seseorang yang taat agama. Sampai si Ustadz yang sering mengajarnya di surau, mengecewakan dirinya. Orang bejat ini akhirnya berpikiran untuk pergi saja dari kampung halaman dan tinggal menetap entah dimana. Sampai suatu saat, setelah bertahun-tahun lamanya, mimpi yang sama itu datang lagi. Mimpi melihat cahaya. Mimpi yang sama saat ia kecil dan telah berhasil memberi hidayah dan juga pemahaman bahwa dia memang orang yang terpilih. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bermimpi melihat Nabi dan orang bejat ini jadi rindu rumah. Sungguh cerita yang sangat sederhana, tapi memiliki makna mendalam. Dan hal seperti ini, sudah jarang saya dapatkan dari penulis-penulis muda, dewasa ini.

Dan dengan membaca karya Ratih Kumala--lagi--saya jadi tertarik untuk mengoleksi beberapa karyanya yang lain. Ya, semoga saja ada rezeki berlebih untuk mengumpulkan satu demi satu karya Ratih Kumala yang masih terserak di jagat perbukuan. [Ayu]


Judul: Larutan Senja
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia
Genre: Kumpulan Cerpen, Spiritual, Metafisika
ISBN: 979 - 22 - 2029 - 1
Halaman: 145 
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 5 / 5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/6094245-larutan-senja

Rabu, 18 April 2012

Bacabaca 8: Kumcer Untukmu Munir

Cak Munir
Seharusnya saya menuliskan ini hari Selasa lalu. Hanya saja, saya sedang bingung mau memulainya dari mana. Makanya, saat ada kesempatan, saya baru menuliskannya.

Hari Rabu ini menggantikan hari Selasa untuk membahas tentang buku. Ya, buku dan buku. Katanya, banyak membaca itu menjembatani antara bodoh dan semakin bodoh. Saya setuju, karena dengan begitu banyak membaca cenderung membuat orang skeptis dan bodoh. Bodoh dalam bersosial? Bisa jadi. Seperti saya ini lah. Dan karena saya suka menjadi bodoh, maka saya membudayakan membaca. Hehehe.

Ini buku ke-17 yang saya baca. Di antara deretan buku yang siap untuk dilahap, saya  mengambilnya. Buku ini tipis. Tak banyak yang diharapkan dari buku tipis. Seyogyanya memang begitu. Tapi, saya tak pernah membedakan ras antar buku. Apakah yang tipis itu bagus atau yang tipis itu jelek? Bagi saya, asal menarik dan berarti untuk dibaca, pastilah saya baca.

Dan benar saja. Buku tipis tak selalu benar-benar tak sarat makna. Justru, dengan penyampaian yang lugas dan singkat, sebuah buku akan menemui masing-masing perkaranya. Buku tebal untuk apa, buku tipis untuk apa, dan buku apa untuk apa. Seperti itulah penilaian saya terhadap buku.


Buku ke-17 ini agak menyerempet pada dekatnya kasus Trisakti dan Semanggi dan kasus lainnya dimana para aktivis mati. Bulan mei, pada 98 lalu, sebagai bulan bagi aktivis yang mati. Semua kasusnya diusut dan diratakan oleh Munir, seorang aktivis HAM dan pendiri KontraS. Sampai pada pertengahan 2004, Munir pun menghilang.

Berbagai media mulai mengangkat sosok Munir. Tak jarang pula komunitas sastra yang ikut bersuara melalui karya. Seperti membuat antologi, membuat novel semi-biografi, membuat kumpulan sajak, dan lain sebagainya. Buku tipis yang saya dapatkan di deretan buku sastra di TM Poins, termasuk salah satu dari itu. 


Untukmu, Munir... 
Judulnya sederhana. Desain sampul bukunya pun sederhana. Dan tebak bagaimana isinya? Isinya sangat sederhana, namun mengena. Mengena maksud, mengena pula tujuan dibuatnya. Tak banyak bertele-tele dan lugas. Buku sederhana dan tipis ini berjudul Untukmu, Munir. Sebagai bentuk simpati terhadap pejuang HAM itu, buku ini lahir. Dibuat oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang berkutat dalam Sastra di FIB UI, buku ini disunting oleh Asep Sambodja. Salah satu penulis golongan kiri dan juga sastrawan inilah yang mewujudkan buku tersebut menjadi ada. Dan saat ini, tulisan ini juga untuk memberi apresiasi atas karyanya. Asep Sambodja telah wafat dan hanya tinggal tulisan kiri saja yang bisa kita simak.

Cerpen-cerpen dalam buku ini digambarkan secara realistis. Tak mengubah nama maupun kejadian sesungguhnya, tentu saja buku ini mendulang kritik. Hanya saja, beruntungnya para penulis buku ini adalah, buku ini tak lahir di rezim orde baru. Coba, kalau lahir? Pastilah penulisnya mati satu-satu. Buku yang memuat fakta ini seolah memojokkan para pelaku kasus pembunuhan Munir. Para pelaku yang masih berkeliaran itulah, hendaknya bisa lebih hati-hati bertindak karena masih ada yang hidup. Masih ada yang tak dibungkam dan masih ada yang peduli.

Alm. Asep Sambodja
Buku ini sebagian besar digambarkan sebagai sudut pandang pertama. Ada penulis sebagai Suciwati--istri Munir, ada penulis sebagai Munir, dan penulis sebagai teman Munir--seorang wartawan yang tak disebutkan namanya.

Melalui tokoh 'Aku', kita diajak terbang bersama GA-974. Duduk di kursi 40G--yang kadang disebutkan juga sebagai 40A, sehingga menuai ambigu dalam buku ini--kita diajak melihat bagaimana kejadian dan relokasi pada posisi Munir. Berbagai kisah fiksi yang timbul dari spekulasi dalam buku ini, tak jarang menuai maksud ambigu dari buku. Pembaca seakan harus menebak pula, apakah benar atau salah? Apakah dokter yang terlibat bernama dr. Taher, atau Tarmizi? Apakah Pollycarpus saat itu bertugas sebagai pilot, atau awak kabin?

Semua pertanyaan itu tak henti-hentinya berkecamuk. Kita hanya bisa menikmatinya lewat penelusuran penulis sebagai tokoh 'Aku' alias Munir. Yang saya sayangkan mungkin hanya bentuk ambigu itu. Sedangkan, untuk keseluruhan buku, saya suka. Buku ini lugas dan fungsinya sebagai buku pun tersampaikan. Meski kadang membuat saya jadi kelewat skeptis, ya sudahlah. [Ayu]

Judul: Untukmu, Munir
Penulis: Mahasiswa UI dan Asep Sambodja
Penerbit: Bukupop
Genre: Sastra, Semi-biografi, Memoar, Semi-fiksi
ISBN: 9789791012263
Halaman: 88 halaman
Harga: Rp 18.000,-
Rating: 4 / 5
Gambar: random google
Review lain: http://www.goodreads.com/book/show/13602454-untukmu-munir


Selasa, 10 April 2012

Bacabaca 7: Lenka oleh Sarekat Penulis Kuping Hitam

Hari Selasa dalam minggu kedua bulan April ini, sudah saatnya saya mengulas kembali apa yang saya baca minggu lalu. Dan setelah mencapai buku ke-16 di tahun ini, sudah saatnya saya menceritakan tentang buku bacaan yang sama sekali berbeda dengan genre yang kemarin. 

Buku ini dipinjamkan oleh seorang blogger dan juga kakak dari kampus tetangga, seorang jurnalis sekaligus tukang baca.

Sarekat Penulis Kuping Hitam
Buku novel sastra-kontemporer ini ditulis secara bersama-sama alias keroyokan. Komunitas penulis yang menamai diri mereka dengan sebutan "Sarekat Penulis Kuping Hitam" ini adalah para kader-kader penulis yang dihasilkan dari Bengkel Penulisan Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) pada tahun 2008 dan 2009. Setelah sekian lama bergelut dengan emosi dan elegi masing-masing, akhirnya mereka bisa menghasilkan satu novel beralur campuran yang diberi judul LENKA.

Sekilas, saya agak kaget ketika membaca. Saya pikir, judul bukunya Lekra. Ternyata saya salah baca judul. Setelah memperhatikan lebih lanjut, judulnya benar-benar LENKA. Kalau Lekra kan kesannya jadi sangat 'kiri' sekali buku ini. Kenapa? Kalau kalian menghafal cerita-cerita komunisme Indonesia, pastilah akan mengenal Lekra alias Lembaga Kebudayaan Rakyat.


Kembali pada LENKA. Buku ini ditulis oleh kurang lebih tujuhbelas penulis muda dari berbagai status sosial dalam masyarakat dan menamai kelompok mereka "Sarekat Penulis Kuping Hitam". Dimoderasi oleh dua penulis sekaligus sastrawan-kontemporer A.S. Laksana dan Yusi Avianti Pareanom, buku ini lahir dari buah pikir yang difermentasi selama beberapa tahun lamanya sampai menjadi sebuah karya utuh.

Novel berjudul Lenka ini, ditulis bersama dengan 16 orang lainnya yang dulu pernah menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel DKJ periode 2008-2009, dimulai dari sebuah situasi : “Pada sebuah acara penggalangan dana, seorang perempuan muda bergaun wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?” 

Seperti yang kita baca dari sinopsis mini di atas, novel ini bercerita tentang sosialita atau kehidupan kalangan atas. Penuh dengan drama dan intrik romansa yang terbaca dari setiap alur novel. Bagian-bagian yang tak pernah terbayangkan kerap kali muncul dalam cerita. Dan uniknya, alur campuran yang ada dalam novel ini benar-benar campuran! Kita hanya bisa menangkap rentang waktu yang terbaca dari sub judul pada buku ini. Setiap babnya hanya diberi sub judul begini: "1. (Keterangan Waktu) xxx Malam Pesta".

Contoh penggambaran sub judulnya ialah sebagai berikut:
  1. Malam Pesta
  2. Dua Puluh Lima Tahun Sebelum Malam Pesta
  3. Tiga Hari Setelah Malam Pesta
  4. Dan sebagainya
Cover Depan LENKA
Nah, penggambaran sub judul itulah yang memberikan kita ruang satu-satunya untuk berdaya khayal seputar latar waktu pada novel. Bagi yang tak peka, pastilah terkecoh. Dan alur campuran yang memutarbalikkan antara masa kini dan masa-masa sebelum kini itulah yang membuat novel ini begitu sarat dengan kebingungan dan misteri.

Misteri tentang Lenka, apakah mati bunuh diri atau dibunuh? Lenka yang menjadi model namun memiliki otak super cerdas dengan mengambil studi filsafat di kampusnya. Lenka yang begitu menelan bulat-bulat apa yang dia pahami dari filsafat dan Albert Camus. Juga tentang Lenka yang menjadi model "fotografi pembebasan" bersama Helong Lembata--seorang fotografer sekaligus kekasih terakhir Lenka--dan melancarkan aksi "sadomasokisme" yang perlahan dia anut.

Semua itu tak sebanding dengan keluarga Lenka yang dikenal sebagai kalangan sosialita paling tinggi di kota mereka saat itu. Ayahnya, Tiung Sukmajati, adalah seorang komposer musik yang terkenal. Ibunya, Luisa-Bathory, adalah seorang sosialita yang dipandang di kalangan atas dan kakanya, Pandan Salas, adalah seorang pecatur muda yang sedang digandrungi oleh kalangan pecatur dan dunia muda pada masa itu. Dan semua itu memang tidak sebanding dengan kematian Lenka yang masih menjadi misteri. 

Membaca ini seperti membaca depresi. Depresi yang didapat dari seorang sosialita yang tidak pernah merasa bahwa dirinya ingin menjadi seperti itu. Dan depresi itu kita lewati juga dalam setiap lembar buku. Seolah ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Lenka dari kematiannya. Dan hati-hati membacanya kalau kalian selalu menelan bulat-bulat bacaan kalian. Pahami dahulu, sebelum akhirnya mencoba menjadi sama seperti buku. [Ayu]


Judul: Lenka
Penulis: Sarekat Penulis Kuping Hitam, Yusi Avianti Pareanom, A.S. Laksana
Penerbit: Banana Publisher
Genre: Sastra-kontemporer, Drama, Sedikit Filsafat
ISBN: 9789791072
Halaman: 262
Harga: Rp 45.000,-
Rating: 5 / 5
Gambar: random Google

Selasa, 03 April 2012

Bacabaca 6: Danur oleh Risa Saraswati

"Tahukah kalian apa itu Danur? Danur adalah cairan berbau yang menyeruak dari seseorang yang sudah mati...."

Abaikan tulisan curhat saya Senin kemarin. Itu hanya buah pikiran di sela-sela rutinitas membosankan kok. Hari ini Selasa, dan sesuai janji untuk diri sendiri--meski membuat bingung--saya ternyata bisa membereskan buku ke-15 di tahun ini. Sejauh ini, janji membaca dari reading challenge di Goodreads yang seharusnya tidak perlu diambil pusing nyatanya malah bisa maju sedikit-sedikit, sesuai target. Dan karena janji pun, saya menulis ulasan buku-buku bacaan itu untuk menghibur teman-teman sekalian.

Risa Saraswati
Saya adalah tipe orang yang suka membaca berbagai jenis buku. Di antara ribuan perempuan seusia saya yang senang membaca roman klasik, metropop, dan beberapa kisah fantasi, saya mengabaikan pemahaman itu. Buku saya cukup beragam, dari yang saya miliki sampai pinjam ke teman. Dan kali ini, saya membaca buku beraroma horror dengan gaya bercerita seperti diary karena sepertinya buku ini memang slice-of-life dari si penulis sendiri, Risa Saraswati.

Sedikit info, Risa adalah musisi. Musisi yang dulu tergabung dalam band indie bernama Homogenic. Sekitar beberapa tahun lamanya setelah Homogenic mulai digandrungi para pecinta musik keren di Bandung, Risa keluar dan membentuk Sarasvati--proyek solo Risa sendiri.

Sarasvati yang terkesan misterius dan suram ternyata didasari dari kisah Risa yang sejak kecil senang berbicara dengan tembok--sepertinya ada sesuatu di depan tembok itu, seperti hantu misalnya? Dan lirik-lirik lagu yang terdapat dalam lagu Sarasvati, ada juga di buku yang dia tulis sendiri, berjudul Danur. 

Buku Danur saya temukan di rak ketiga, di antara deretan buku bergenre campuran dalam indeks Indonesian Books di Kinokuniya Plasa Senayan. Buku yang hanya tinggal satu-satunya ini saya ambil. Apa yang membuat saya penasaran ingin membelinya? (Waktu itu saya beli bersamaan dengan buku Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) yang pernah saya ulas di sini.)

Jadi, sampul buku ini menarik. Setelah saya telusuri, ternyata sinopsis di bagian belakang buku juga menarik. Biasanya, indikator saya dalam membeli buku yaaa seperti itulah. Setelah ditelusuri lagi, ternyata penerbitnya Bukune--masih anak Gagasmedia juga. Dan saya putuskan untuk membeli buku ini bersamaan dengan buku Djenar Maesa Ayu yang juga tinggal satu. Selain sampul dan sinopsis, endorsement dari seorang jurnalis majalah musik pun memberi komentar seperti ini:
Meski membuat bulu kuduk berdiri, novel ini bukan buku misteri. Novel ini sesungguhnya bercerita soal persahabatan antar dimensi dengan cara yang menyentuh. Bisa dibilang, Risa telah 'memanusiakan' makhluk-makhluk halus itu lewat novel ini. — Soleh SoLihun, Jurnalis Rolling Stone Indonesia
Hari-hari berlalu dan sudah saatnya saya membuka buku ini. Antara perasaan ingin membukanya dan tidak ingin. Pasalnya, saya ini penakut. Saya masih percaya kalau hantu bisa dengan tiba-tiba memunculkan wajah mereka. Saya takut kalau membaca Danur bisa membuat saya bersugesti yang macam-macam. Setelah memastikan lagi, akhirnya saya baca buku tersebut.

tampilan cover depan dan belakang buku

Danur bercerita tentang kisah hidup Risa sejak kecil sampai dewasa. Risa yang sejak kecil memiliki kemampuan untuk melihat makhluk halus dan berbicara dengan mereka, mendapatkan lima orang teman kecil yang berbeda dunia dengannya. Semua indah pada awalnya, sampai suatu ketika, kelima temannya menagih janji Risa untuk bisa bersama mereka selamanya. Ketika umur Risa 13 tahun, mereka menagih janji pada Risa perihal dirinya yang ingin bersama Peter, Hans, Hendrick, William, dan Janshen di dunia hantu. Ternyata, hal itu tidak bisa Risa tepati sehingga membuat kelima temannya menjauh. Kelima teman Risa ini adalah hantu Belanda yang berdiam di rumah Risa tinggal karena mencari sesuatu yang belum selesai.

Kehilangan sahabat hantu membuat Risa menjadi perempuan murung yang semakin hari semakin aneh. Risa pun sadar kalau dirinya harus menjadi perempuan normal, mengingat usianya yang sudah semakin beranjak dewasa. Risa pun berjanji pada diri sendiri untuk mengabaikan segala kemampuannya dengan berpura-pura tak bisa melihat hantu. Namun, masalah lain muncul. Hantu-hantu yang mulai beragam jenisnya itu, menghampiri Risa karena tahu bahwa Risa bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka. Tak jarang ada hantu yang sangat buruk rupa dengan bau Danur yang menyengat, menghampiri Risa untuk meminta pertolongan. Hal itu membuat Risa mengutuk kemampuannya dan perlahan-lahan teringat akan sahabat hantu pada masa kecilnya.

artwork Danur

Menjelang akhir cerita, Risa dikabarkan sama seperti pada kondisi aslinya. Risa yang suka bermusik dan tergabung dalam band, mulai bersolo karir. Terlihat sekali bukan, kalau kisah ini memang slice-of-life si pengarang itu sendiri. Dan Risa yang bersolo karir itu membuat lagu yang didedikasikan untuk sahabatnya, dengan judul lagu Story of Peter. (Lagu ini juga judul lagu Sarasvati yang Risa bangun lho! Bisa didengar di youtube atau web Sarasvati di sini.)

Lagu yang dibawakan dengan segenap hati itu akhirnya memunculkan kembali lima sahabat kecil Risa. Para hantu Belanda yang dulu mewarnai hidup Risa yang muram. Dan akhir cerita pun dibuat sebagai akhir dari buku diary Risa sendiri.

Isi buku ini rupanya tak seperti yang saya harapkan. Meski membuat saya bergidik kala membaca bagian hantu-hantu yang seram, tapi tak membuat saya terbawa alur. Hal itu pula yang membuat saya harus melewati waktu yang lama hanya untuk membaca sebuah buku ringan. Berbeda dengan buku bertopik berat yang bisa saya habiskan semalam saja karena tema dan alurnya yang mengalir. Tapi, saya sarankan jangan membaca buku ini sendirian, karena Risa sukses membuat sugesti bahwa ada yang menemani kalian saat membaca buku. Hehe. Jadi, untuk rating buku ini saya beri angka 3.5 dari 5 ya! [Ayu]

Judul: Danur
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Genre: Drama, Slice-of-life, Horror
ISBN: 602-220-019-9
Halaman: 216
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 3.5 / 5
Gambar: random google

Selasa, 27 Maret 2012

Bacabaca 5: Jangan Main-Main dengan Kelaminmu oleh Djenar Maesa Ayu

Djenar Maesa Ayu
Hari Selasa ini adalah waktunya untuk review buku ke-14 dalam reading list yang saya harus selesaikan di tahun 2012. Dan untungnya, sesuai target, sepertinya saya bisa membereskan limabelas buku untuk bulan ke-3 di tahun 2012 ini. 

Buku ke-14 ini sepertinya tidak akan jauh-jauh dari tema dua buku di minggu-minggu sebelumnya. Buku kali ini masih berkutat di seputar kehidupan dewasa. Hehe. Bukannya saya suka cerita-cerita berbau vulgar. Saya membacanya terlebih karena saya lebih dulu membaca tema yang ditawarkan. Kali ini, marilah kita angkat tema feminisme.

Buku ke-14 ini adalah buku dari seorang penulis berbakat dan kerap kali memenangkan penghargaan dan juga nobel sastra di Indonesia maupun luar negeri. Kenalkah kalian pada Djenar Maesa Ayu? Nah, itulah nama penulisnya. Dan buku yang saya baca dari penulis tersebut berjudul Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu).

Ada sebelas cerita pendek dalam buku ini. Kesemuanya mengisahkan tentang perempuan dan problematikanya. Awal-awal membaca cerpen pertama, memang agak membingungkan karena bercerita dari sudut pandang empat orang yang berbeda. Yang mencirikan khas Djenar pun tergambar dari setiap cerpen. Cinta semalam, seksologi, perempuan malam, desah dan peluh, juga ciri khas lain yang mungkin akan kalian dapatkan kalau membaca karya-karya Djenar yang lain.

Cover Jangan Main-Main
Salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Djenar ini sempat menjadi cerpen terbaik Jurnal Perempuan pada tahun 2002 dalam rangka mengkampanyekan "Anti Kekerasan Pada Perempuan". Cerpen yang dimaksud berjudul "Menyusu Ayah" dan menggambarkan seorang gadis bernama Nayla yang rindu Ibu, sehingga mengganti sosok Ibu dengan Ayah.

Cerpen berjudul "Staccato" dituliskan dengan gaya penulisan menarik. Pemotongan-pemotongan kalimat yang berulang dan bergaya susul-menyusul sehingga menjadi menarik. Meski tema yang disajikan tak jauh dari hal yang berbau "vulgar", tak mengurangi keindahan unsur literatur Indonesia. 

Cerpen yang tak kalah menarik adalah cerpen berjudul "Moral". Membahasakan bagaimana moral bisa dibeli. Membahasakan bagaimana moral dijual murah, dikalahkan dengan rok mini yang berharga lebih mahal. Membahasakan bagaimana orang-orang di pesta, memakai "moral" sedangkan seorang perempuan dan sahabatnya yang trans-gender tak memakai moral. Ini menampar semua orang dan bagian terakhir cerpen yang berbunyi, "Hari ini moral diobral di DPR lima ribu tiga!", jelas menampar pemerintahan. Bagaimana tidak? Demi uang dan tahta, moral rela diobral pemerintah busuk kita.

Cerpen lain tentang problematika perempuan atas kecantikan fisik tergambar dalam cerpen berjudul "Payudara Nai-Nai". Nai-Nai seorang Tionghoa yang mempertanyakan, kenapa dirinya dinamai Nai-Nai? Padahal, arti Nai-Nai sendiri adalah payudara sehingga membuat dirinya diolok-olok teman karena namanya tidak sesuai dengan bentuk fisiknya. Hal tersebut membuat Nai-Nai jadi semakin gila. Dia senang membaca stensilan yang akan dijual ayahnya pada malam hari dan dia seringkali berfantasi.

Cerpen-cerpen lainnya bisa dibaca sendiri dalam buku kumpulan cerpen ini. Semua cerpen yang ada dalam buku tersebut bukanlah cerpen seks semata melainkan cerpen yang di dalamnya tersisipkan perasaan dan hal yang ditabukan masyarakat. Betapa peran perempuan pengganti sangatlah besar dan betapa perempuan begitu berharga dan sudah seharusnya untuk dihargai dan dihormati. Betapa perempuan menjadi bermasalah bukan karena dirinya ingin, tetapi karena suatu faktor yang membuatnya begitu. [Ayu]

Judul Buku: Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)
Pengarang: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2004
ISBN: 9789792206708
Page: 200
Genre: Kumpulan Cerpen, Bacaan Dewasa, Feminisme
Harga: Rp 35.500,-
Rate: 2 / 5
Pics: random from Google

Selasa, 20 Maret 2012

Bacabaca 4: Saman oleh Ayu Utami

Ayu Utami with her bookshelves
Hari ini sudah hari Selasa dan itu berarti, saatnya untuk membahas tentang buku dan bumbu-bumbunya. Sebenarnya sih, mau bahas musik hari apa, film hari apa, buku hari apa, orang gondrong hari apa (eh), itu sih suka-suka saya saja. Hehe. Dan kebetulan, saya baru selesai baca buku. Setelah dibaca, tentu saja akan saya ulas di sini untuk teman-teman semua. Buku ke-13 yang saya baca tahun ini adalah salah satu buku karya penulis kelahiran tahun '68, Ayu Utami. Penulis sekaligus aktivis jurnalis ini menulis novel pertamanya yang berkutat di seputaran monotheisme dan militerisme. Novel yang rilis tahun '98 dan mendapat beberapa penghargaan itu diberi judul Saman

Saya sebenarnya mendapat buku ini karena dipinjamkan oleh seorang teman kantor. Saya yang hari itu sedang kurang dana untuk membeli buku, harus meminjam agar bisa memenuhi reading challenge yang serius diikuti dari Goodreads. Nyatanya, setelah saya mendapatkan buku untuk memenuhi target baca di urutan ke-13, saya malah beli buku lagi. Duh, susahnya jadi saya. Kalau jalan-jalan di Kinokuniya atau Gramedia, tidak bisa kalau tidak pulang tanpa satu kantung buku. Entah beli satu saja, atau berpuluh-puluh buku. Maklum,  masih dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca santai.

Kembali ke ulasan tentang Saman.

Sebenarnya saya ini ketinggalan zaman sekali kalau baru sempat baca Saman. Buku ini sudah laku beratus-ratus ribu eksemplar dan saya baru memilikinya. Hmm, ralat. Saya baru meminjamnya di tahun 2012 ini! Yah, bagaimana ya. Maklum, sekarang saya baru bekerja dan baru bisa beli buku sendiri. Jadi, baru mulai setahun belakangan ini saya mengumpulkan buku. 

Bagian Depan Novel Saman
Saman adalah salah satu tokoh di dalam buku dengan judul serupa. Nama Saman dipilih oleh si tokoh yang memang sedang menukar identitas dalam pelariannya. Sebelumnya, si tokoh Saman disebutkan bernama Wisanggeni. Wis adalah seorang agamis, seorang pastor muda yang menyerahkan seluruh hidup untuk mengabdi pada umat gereja. Namun, sejak kepergiannya ke sebuah kota kecil tempat dia dibesarkan, membuka hati dan pikiran humanisnya ke sebuah daerah terbelakang bernama Lubukrantau.

Di sana, dia mendapati seorang perempuan gila yang muda dan memiliki libido tinggi. Perempuan muda dan gila itu tak jarang mengganggu orang dengan kegiatan-kegiatan yang berbau seks. Maklum, namanya juga orang dengan mental terbelakang. Justru, itulah yang membuat Wis alias Saman, menjadi betah tinggal di Lubukrantau. Bukan, bukan karena keingingan seks milik Saman, tapi selebihnya hanya agar si Upi--nama gadis itu--memiliki teman dan tidak dikucilkan oleh orang sekitar.

Semakin berjalannya waktu, Saman pun akhirnya terlibat lebih kompleks dengan emosional orang-orang daerah Lubukrantau. Semakin hari, desa itu berubah. Ada perusahaan besar yang ingin memonopoli lahan Lubukrantau untuk dibuat perkebunan kelapa sawit. Semua itu membuat warga berontak. Upi diperkosa bahkan akhirnya mati karena terbakar dalam kebakaran buatan yang dimanipulasi oleh si cukong perusahaan itu saat membumihanguskan rumah warga.

Saman bersama yang lain berdemo dan bergerilya untuk melawan. Tapi, akhirnya Saman pun diculik dan dibungkam. Dia dimasukkan dalam sel dan disiksa sepanjang hari. Penggambaran ini mengingatkan kita akan penculikan misterius yang terjadi pada masa orde baru. Di sinilah eksistensi Ayu Utami dipertaruhkan. Banyak orang yang menilai bahwa Ayu Utami sangatlah berani, dengan mengangkat isu-isu yang terjadi pada masa itu.

Bagi saya, yang penting bukan unsur seks dewasa yang ada pada buku tersebut. Yang perlu ditekankan adalah sebuah keberanian dan keyakinan seseorang akan sesuatu. Entah agama, pemerintah, atau keyakinan diri sendiri. Dan novel Saman ini bisa membangkitkan seseorang untuk yakin dan berontak akan hal yang tidak sesuai dengan diri sendiri.

Nah, bagaimana? Tertarik membacanya? Silakan cari bukunya di ranah online atau di toko buku bekas yang sudah tersebar luas, karena saya tak yakin kalau buku ini masih diproduksi. Semoga saja masih, supaya bisa mendapat cetakan terbarunya yaaa. [Ayu]

Judul Buku: Saman
Pengarang: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Rilis: 1998
ISBN: 9799023173
Pages: 208
Genre: Roman Dewasa + Issues (Politic, Human Rights, Religion)
Harga: Rp 35.000,-
Rate: 4.5 / 5
Pics: random taken from Google