Kamis, 22 November 2018

Bacabaca 46: Nostalgia Merah oleh M. Fadli

Judul: Nostalgia Merah (A Gardi Prima's Inverted Detective Story #1)
Penulis: M. Fadli
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: Maneno Books
Tebal: 270 halaman, paperback
ISBN: 9786025304927

“Menurut Tante sebagai penggemarnya, apa yang dilakukan Sherlock Holmes, jika sahabatnya, Dr. Watson melakukan kejahatan? Apa dia akan menangkapnya atau membiarkannya bebas?”

Tante Sofia hanya menatap acuh dan polwan itu pun membalas, “Jangan mikir yang aneh-aneh.”

***

Entah apa yang dipikirkan Tirta Firmansyah saat mengakhiri hidup Stella Jelita. Pembunuhan yang ia lakukan dalam acara reuni di atas kapal tentu berisiko tinggi. Apalagi sahabatnya memiliki observasi unggul dan anti terhadap tindak kriminal.

Di sisi lain, tewasnya sang primadona sekolah, membuat pria lulusan kriminologi bernama Gardi Prima harus turun tangan. Secara perlahan, ia menelusuri satu demi satu petunjuk dari masing-masing peserta reuni lainnya. Namun, ketika semua bukti mengarah kepada sahabat yang sudah seperti saudara baginya, ia pun dilanda dilema. Mampukah ia mengungkap kasus pembunuhan tersebut? Apakah sang detektif mampu menyerahkan sahabat terbaiknya ke tangan hukum atau justru membiarkannya melenggang bebas?

*** 
Harusnya ulasan novel ini saya rilis minggu lalu. Namun, karena sibuk membicarakan genre detektif di Post Santa, lalu mengisi bincang-bincang genre fiksi kriminal pula di Festival Literasi Tangerang Selatan, akhirnya ulasan novel ini baru rilis.

Saya sudah membaca novel ini berulang kali, dan saya cukup amazed dengan betapa mendalamnya Bang Fadli kala menulis novel ini. Nostalgia Merah ditulis dengan menggabungkan berbagai riset, mulai dari riset tentang investigasi polisi di luar yurisdiksi, proses undercover untuk menangkap jaringan "senjata ilegal", bahkan ilmu-ilmu kriminologi yang konon telah dipelajari penulis dari buku "Memahami Pembunuhan" oleh salah satu kriminolog.

Memang, tidak bisa dipungkiri, sebagai pecinta literatur fiksi kriminal dan penggagas Komunitas Detectives ID, Bang Fadli bisa dibilang jadi orang yang paling tahu apakah itu genre detektif. Setiap beliau cerita, mulai dari tokoh Dupin-nya Edgar Allan Poe yang masuk era "Genesis", sampai era modern, Bang Fadli sudah sangat menguasai.

Jadi, saya tidak heran, ketika beliau menulis novel detektif, hasilnya pasti memuaskan.

Senin, 15 Oktober 2018

Bacabaca 45: Veranda dan Pembunuhan di Seribu Pintu oleh Andhyka C. Adhitama

Judul: Veranda dan Pembunuhan di Seribu Pintu (A Donna Veranda's Mystery Tale #1)
Penulis: Andhyka C. Adhitama
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: Maneno Books
Tebal: 266 halaman, paperback
ISBN: 9786025304903

Seorang konglomerat Belanda ditemukan tewas dalam ruangan yang akan digunakan sebagai lokasi rapat finalisasi desain renovasi Lawang Sewu. Jenazahnya telentang dengan mata terbelalak. Lukisan Lawang Sewu dianggap sebagai senjata pembunuhan.

Donna Veranda dan temannya, Al, berada di lokasi saat sedang meliput untuk saluran Youtube tempat ia bekerja sebagai wartawan wisata. Mau tak mau, ia harus ikut menyelesaikan misteri pembunuhan itu agar tak kembali menjadi pengangguran.

Bersama Al dan Inspektur Sudar, Veranda menelusuri fakta lewat kerabat konglomerat dan menyingkap tabir dalam keluarga mereka. Mampukah Donna Veranda menyelesaikan kasus dan terbang sebagai Sang Merpati?


***

Ini adalah salah satu novel detektif yang ringan dan cocok dibaca untuk kalangan pembaca Young Adult.

Terlepas dari ketidakjelian penyelaras aksara (yang mana adalah teman saya) dan ketidakjelian saya sebagai editornya (di beberapa halaman masih saja ada yang miss, maafkan yaa pembaca), novel ini menyajikan kisah drama, campur cerita keluarga, campur teka-teki yang umum dan lumrah ada dalam novel detektif.

Jumat, 07 September 2018

Bacabaca 44: Cerita Pendek Sekali oleh Ugo Untoro

Judul: Cerita Pendek Sekali
Penulis: Ugo Untoro
Tahun Terbit: 2017
Penerbit: Nyala
Tebal: 107 halaman, paperback
ISBN: 9786026085504

Sebuah rumah dengan aroma ganja, sperma dan anggur Orang Tua. Rocker Yahudi berteriak-teriak di VCD player. Rumah dengan aroma aneh itu, selalu banyak orang yang ngintipin.

Dari pintu yang setengah terbuka, aku melihat seorang laki-laki tua dengan topi seragam melintasi jalan berumput di depan rumahku. Setelahnya tidak terjadi apa-apa.

***

Puthut EA menyebutkan bahwa kumpulan cerpen ini bukan sekadar "cerita pendek", tetapi "cerita pendek sangat ringkas" atau disebutnya "cerita ringkas". Mengapa ringkas? Karena saat saya coba skimming sebentar, ternyata memang cerita-cerita pendek yang ada, tidak sampai berlembar-lembar. Ada yang hanya satu halaman, maksimal mungkin empat halaman dengan paragraf pendek-pendek.

Ugo Untoro sendiri adalah seorang perupa yang sudah banyak mengadakan pameran. Sekali lagi, Puthut EA yang memberikan pengantar, menyebutkan bahwa dia takjub dengan tulisan-tulisan Ugo Untoro, walau sebagai perupa, dia hanya disukai. Mungkin karena media penyampaian gagasan lewat "seni rupa" dan "seni tulis" tentu saja memiliki efek berbeda bagi tiap-tiap orang.

Kamis, 26 Juli 2018

Bacabaca 43: Katarsis oleh Anastasia Aemilia

Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Tahun Terbit: 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 halaman, paperback
ISBN: 9789792294668

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.

Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?


***

Setelah sekian lama absen dari membaca thriller Indonesia, akhirnya saya membacanya lagi. Menyelesaikan Katarsis menjadi momen yang menyenangkan, sebab saat membaca ini, saya harus selang-seling dengan panggilan pekerjaan yang menumpuk. Katarsis seperti benar-benar menjadi media "katarsis" bagi kepala yang penat karena pekerjaan.