Rabu, 26 Desember 2018

Bacabaca 47: Fallega oleh Dana Fazaira


Judul: Fallega
Penulis: Dana Fazaira
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 336 halaman, paperback
ISBN: 9786020618326

***

Fallega Dinata kembali ke Jakarta!

Setelah diasingkan karena dianggap mencoreng nama baik keluarga, cewek itu kembali sebagai mahasiswi tomboi yang disegani para mahasiswa. Semua orang yang mengenalnya tidak percaya dengan penampilan Fal yang berubah 180 derajat. Mereka tambah gempar karena Fal mengaku hilang ingatan.

Apa iya Fal hilang ingatan karena insiden beberapa tahun lalu? Sayangnya, itu hanya rumor yang cewek itu ciptakan sendiri. Mana mungkin dia amnesia setelah dihunjam dengan pengkhianatan dan rasa sakit hati yang begitu mendalam? Fal kembali untuk membuat perhitungan dengan mereka yang sudah membuat hidupnya hancur. Rumor itu Fal sebar agar dia bisa menjalankan rencana balas dendam yang sudah dia siapkan matang-matang.

Dalam menjalankan rencana itu, Fal bertemu dengan Rani dan Awi, dua sosok polos yang mengajarkannya berbagai kebaikan. Dia juga mesti berhadapan dengan Aji---cinta masa lalu---yang sudah mengkhianatinya.

Setelah rencana dijalankan dengan begitu rapi, haruskah dia mundur setelah tahu bahwa masih ada ketulusan dan rasa penyesalan dari orang-orang itu? Lantas, bagaimana jika sesungguhnya Fal masih mengharapkan cinta tulus dari Aji?

***

Novel Fallega ini adalah novel yang entah kenapa bisa sampai ke alamat saya. Novelnya cukup tebal dan akhirnya saya coba iseng buka di jam 12 malam, hingga selesai di jam enam pagi. Saya cukup terkesan karena alurnya rapi walau kadang ada beberapa hal yang kurang masuk akal. Oleh karena itu, saya akan coba mengulasnya secara singkat di posting blog kali ini.

Kamis, 22 November 2018

Bacabaca 46: Nostalgia Merah oleh M. Fadli

Judul: Nostalgia Merah (A Gardi Prima's Inverted Detective Story #1)
Penulis: M. Fadli
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: Maneno Books
Tebal: 270 halaman, paperback
ISBN: 9786025304927

“Menurut Tante sebagai penggemarnya, apa yang dilakukan Sherlock Holmes, jika sahabatnya, Dr. Watson melakukan kejahatan? Apa dia akan menangkapnya atau membiarkannya bebas?”

Tante Sofia hanya menatap acuh dan polwan itu pun membalas, “Jangan mikir yang aneh-aneh.”

***

Entah apa yang dipikirkan Tirta Firmansyah saat mengakhiri hidup Stella Jelita. Pembunuhan yang ia lakukan dalam acara reuni di atas kapal tentu berisiko tinggi. Apalagi sahabatnya memiliki observasi unggul dan anti terhadap tindak kriminal.

Di sisi lain, tewasnya sang primadona sekolah, membuat pria lulusan kriminologi bernama Gardi Prima harus turun tangan. Secara perlahan, ia menelusuri satu demi satu petunjuk dari masing-masing peserta reuni lainnya. Namun, ketika semua bukti mengarah kepada sahabat yang sudah seperti saudara baginya, ia pun dilanda dilema. Mampukah ia mengungkap kasus pembunuhan tersebut? Apakah sang detektif mampu menyerahkan sahabat terbaiknya ke tangan hukum atau justru membiarkannya melenggang bebas?

*** 
Harusnya ulasan novel ini saya rilis minggu lalu. Namun, karena sibuk membicarakan genre detektif di Post Santa, lalu mengisi bincang-bincang genre fiksi kriminal pula di Festival Literasi Tangerang Selatan, akhirnya ulasan novel ini baru rilis.

Saya sudah membaca novel ini berulang kali, dan saya cukup amazed dengan betapa mendalamnya Bang Fadli kala menulis novel ini. Nostalgia Merah ditulis dengan menggabungkan berbagai riset, mulai dari riset tentang investigasi polisi di luar yurisdiksi, proses undercover untuk menangkap jaringan "senjata ilegal", bahkan ilmu-ilmu kriminologi yang konon telah dipelajari penulis dari buku "Memahami Pembunuhan" oleh salah satu kriminolog.

Memang, tidak bisa dipungkiri, sebagai pecinta literatur fiksi kriminal dan penggagas Komunitas Detectives ID, Bang Fadli bisa dibilang jadi orang yang paling tahu apakah itu genre detektif. Setiap beliau cerita, mulai dari tokoh Dupin-nya Edgar Allan Poe yang masuk era "Genesis", sampai era modern, Bang Fadli sudah sangat menguasai.

Jadi, saya tidak heran, ketika beliau menulis novel detektif, hasilnya pasti memuaskan.

Senin, 15 Oktober 2018

Bacabaca 45: Veranda dan Pembunuhan di Seribu Pintu oleh Andhyka C. Adhitama

Judul: Veranda dan Pembunuhan di Seribu Pintu (A Donna Veranda's Mystery Tale #1)
Penulis: Andhyka C. Adhitama
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: Maneno Books
Tebal: 266 halaman, paperback
ISBN: 9786025304903

Seorang konglomerat Belanda ditemukan tewas dalam ruangan yang akan digunakan sebagai lokasi rapat finalisasi desain renovasi Lawang Sewu. Jenazahnya telentang dengan mata terbelalak. Lukisan Lawang Sewu dianggap sebagai senjata pembunuhan.

Donna Veranda dan temannya, Al, berada di lokasi saat sedang meliput untuk saluran Youtube tempat ia bekerja sebagai wartawan wisata. Mau tak mau, ia harus ikut menyelesaikan misteri pembunuhan itu agar tak kembali menjadi pengangguran.

Bersama Al dan Inspektur Sudar, Veranda menelusuri fakta lewat kerabat konglomerat dan menyingkap tabir dalam keluarga mereka. Mampukah Donna Veranda menyelesaikan kasus dan terbang sebagai Sang Merpati?


***

Ini adalah salah satu novel detektif yang ringan dan cocok dibaca untuk kalangan pembaca Young Adult.

Terlepas dari ketidakjelian penyelaras aksara (yang mana adalah teman saya) dan ketidakjelian saya sebagai editornya (di beberapa halaman masih saja ada yang miss, maafkan yaa pembaca), novel ini menyajikan kisah drama, campur cerita keluarga, campur teka-teki yang umum dan lumrah ada dalam novel detektif.

Jumat, 07 September 2018

Bacabaca 44: Cerita Pendek Sekali oleh Ugo Untoro

Judul: Cerita Pendek Sekali
Penulis: Ugo Untoro
Tahun Terbit: 2017
Penerbit: Nyala
Tebal: 107 halaman, paperback
ISBN: 9786026085504

Sebuah rumah dengan aroma ganja, sperma dan anggur Orang Tua. Rocker Yahudi berteriak-teriak di VCD player. Rumah dengan aroma aneh itu, selalu banyak orang yang ngintipin.

Dari pintu yang setengah terbuka, aku melihat seorang laki-laki tua dengan topi seragam melintasi jalan berumput di depan rumahku. Setelahnya tidak terjadi apa-apa.

***

Puthut EA menyebutkan bahwa kumpulan cerpen ini bukan sekadar "cerita pendek", tetapi "cerita pendek sangat ringkas" atau disebutnya "cerita ringkas". Mengapa ringkas? Karena saat saya coba skimming sebentar, ternyata memang cerita-cerita pendek yang ada, tidak sampai berlembar-lembar. Ada yang hanya satu halaman, maksimal mungkin empat halaman dengan paragraf pendek-pendek.

Ugo Untoro sendiri adalah seorang perupa yang sudah banyak mengadakan pameran. Sekali lagi, Puthut EA yang memberikan pengantar, menyebutkan bahwa dia takjub dengan tulisan-tulisan Ugo Untoro, walau sebagai perupa, dia hanya disukai. Mungkin karena media penyampaian gagasan lewat "seni rupa" dan "seni tulis" tentu saja memiliki efek berbeda bagi tiap-tiap orang.